Petani Bandung Raih Penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia

Petani Bandung Raih Penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia
info gambar utama

Berkat dedikasinya dalam mengembangkan sektor pertanian, sosok Ulus Pirmawan, petani asal Kabupaten Bandung Barat berhasil meraih penghargaan dari organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO). Ia mendapat penghargaan bersama empat orang petani lainnya yang berasal dari seluruh Asia Pasifik.

Penghargaan diserahkan pada peringatan hari Pangan Sedunia, Senin (16/10) di Kantor Wilayah FAO untuk Asia dan Pasifik di Bangkok, Thailand.

Ulus mengaku pada Media Indonesia, penghargaan dari FAO itu diberikan karena dirinya dianggap telah berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari hulu sampai hilir, termasuk dengan mengangkat nasib para petani di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Ulus Primawan. Foto: Facebook
info gambar

Selain itu, Ulus dianggap memiliki konsep yang layak untuk diterapkan dalam dunia pertanian. Ulus ingin menciptakan sektor pertanian terpadu di mana memadukan sektor pertanian dan peternakan.

"Dengan sektor pertanian terpadu, hasil sayuran bisa lebih ramah lingkungan dan ramah konsumsi. Karena kotoran ternak bisa jadi pupuk, limbah sayuran bisa jadi pakan ternak," tuturnya pada Detik.com.

"Sejak kecil, saya sudah diajarkan bertani oleh kedua orangtua saya. Mereka berdua terus mendidik saya sampai bisa menjadi petani mandiri dan meraih penghargaan dari FAO," kata Ulus, seperti yang dikutip Media Indonesia.

Ulus Pirmawan. Foto: Detikcom
Ulus Pirmawan. Foto: Detikcom

Lelaki lulusan SD ini mengaku ketekunan dan keuletan dalam mengelola lahan pertanian membuat dirinya berkembang seperti sekarang ini. Bahkan ia dipercaya menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay di kampungnya.

Setelah meniadakan tengkulak dan menjalani fungsi perantara, masing-masing anggota kelompok yang diketuainya menghasilkan pendapatan hingga sekitar Rp15 juta per bulan atau empat kali lipat dari sebelumnya.

Pada 2014, Ulus Pirmawan berpartisipasi dalam program pertukaran pertanian JICA dan memperluas keterampilan pemasarannya. Pada 2014 dan 2015, dia menerima penghargaan dari Pemerintah RI atas keberhasilannya mengekspor buncis berkualitas tinggi.

Ulus Pirmawan. Foto: Mochamad Solehudin/detikcom
info gambar

Dia mengatakan, komoditas unggulan petani Gapoktan Wargi Pangupay ialah buncis Kenya (baby buncis). Berkat buncis Kenya itu, hasil pertanian di Kampung Gandok bisa diekspor ke Singapura sejak 2015 lalu.

Tidak hanya itu, beberapa komoditas dikirimkan ke supermarket di Bandung dan Jakarta dan beberapa perusahaan suplier sejak 1995 lalu.

"Sayuran lain yang dihasilkan para petani di Kampung Gandok diantaranya ialah tomat, buncis, kol, brokoli, sawo, terong, dan cabai," ungkapnya pada Republika,

Ulus Pirmawan. Foto: Mochamad Solehudin/detikcom
Ulus Pirmawan. Foto: Mochamad Solehudin/detikcom

Seperti yang dilaporkan Warta Kota, saat ini, Ulus mempekerjakan 15 orang dan membagi pengetahuannya dengan ratusan petani termasuk petani dari negara tetangga Timor Leste.

Selain dari Indonesia, pada Hari Pangan Dunia tersebut FAO Asia-Pasifik memberi penghargaan kepada empat petani teladan dari seluruh wilayah, yakni dari Afghanistan, Jepang, Nepal, dan Thailand.

Masing-masing menerima sertifikat pencapaian dari Yang Mulia Putri Maha Chakri Sirindhorn atas nama Kantor Wilayah FAO untuk Asia dan Pasifik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Indah Gilang Pusparani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Indah Gilang Pusparani.

Terima kasih telah membaca sampai di sini