Setelah sempat absen pada Venice Architecture Biennale (VAB) tahun 2016 lalu, Indonesia kini kembali menunjukkan identitasnya dalam dunia arsitektur melalui ajang VAB pada tahun 2018 mendatang.

Didukung penuh oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Paviliun Indonesia di ajang VAB 2018 akan berpameran selama 6 bulan dari 26 Mei hingga 25 November 2018 di kota Giardini, Arsenale, dan tempat lain sekitar kota Venesia.

Bagi dunia seni Indonesia ini adalah sebuah perubahan yang menjanjikan. Melihat respon positif dalam keterlibatan Indonesia di VBA 2014 lalu, Indonesia tentu akan memberikan yang terbaik untuk penyelenggaraan Venice Biennale Architecture 2018 nanti.

Bekraf bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia akan mewujudkan karya arsitektur dalam event tersebut dengan menunjuk Komisioner Venice Biennale Architecture 2018 yang terdiri dari Ricky Joseph Pesik (Wakil Kepala Bekraf) sebagai Ketua Komisioner dan Ahmad Djuhara (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia) sebagai Anggota Komisioner.

Yvonne Farrell dan Shelley McNamara selaku kurator pameran arsitektur internasional La Biennale ke-16 telah memilih tema yang bertajuk Freespace. Makna Freespace ini dapat diartikan sebagai bentuk cara berpikir, cara baru melihat dunia, dan solusi arsitektur yang dapat menyediakan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
(© azuremagazine.com)

Ada pertukaran antara orang dan bangunan yang terjadi, meski tidak dimaksudkan atau dirancang, sehingga bangunan sendiri menemukan cara untuk berbagi dan berhubungan dengan orang dari waktu ke waktu, lama setelah arsitek meninggalkan tempat kejadian. Freespace menggambarkan kemurahan hati semangat dan rasa kemanusiaan sebagai inti agenda arsitektur, dengan fokus pada kualitas ruang itu sendiri.

Sebagai langkah lanjut dari persiapan BEKRAF dalam keikutsertaan Indonesia di VAB 2018, telah diadakan proses Seleksi Kurator Paviliun Indonesia beberapa waktu yang lalu. Pendaftaran pada tanggal 19-30 September 2017, kemudian lanjut pada berbagai tahapan seleksi. Diperuntukkan bagi para arsitek, desainer interior maupun seniman untuk menjadi kurator serta penanggung jawab karya-karya arsitektur yang akan dipamerkan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
salah satu tim dari 5 finalis (© possore.com)

Dari 71 tim yang yang mendaftar, diseleksi 5 tim sebagai kandidat. Dari kelima finalis yang masuk pada penjurian tahap ke-2, Dewan Juri, yakni Ricky Joseph Pesik, Ahmad Djuhara (IAI), Gunawan Tjahjono (IAI), Budi Lim (IAI), Achmad D. Tardiyana, Goenawan Mohamad dan Jay Subyakto, memutuskan peserta nomor urut VAB 010 dengan tema “Sunyata” yang bermakna kebenaran atau kenyataan, menjadi wakil Indonesia untuk merancang konsep Paviliun Indonesia di VAB 2018. Tidak saja menjawab tema besar namun juga kekuatan, perkembangan, dan potensi Arsitektur Indonesia yang ada saat ini serta di masa yang akan datang.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
tim terpilih (© assets.kompas.com)

Dalam penjurian ini para kandidat kurator Paviliun Indonesia telah memberikan usulan atau proposal konsep pameran yang tidak saja menjawab tema besar, namun juga menggali sebesar-besarnya kekayaan, perkembangan dan potensi arsitektur Indonesia yang ada saat ini.

Keikutsertaan Indonesia pada Venice Architecture Biennale (VAB) 2018, dengan harapan agar Paviliun Indonesia mendapat banyak perhatian. Format pameran Paviliun Indonesia tidak sekadar menampilkan materi secara menarik, namun juga menyajikan suatu format kontemporer terbaru. Menantikan bentuk dari tema “Sunyata” yang diusung oleh Indonesia.


Sumber: nasional.kompas.com | housing-estate.com | tribunnews.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu