Jebakan Kelas Menengah di Kerajaan Tengah

Jebakan Kelas Menengah di Kerajaan Tengah
info gambar utama

Beberapa waktu lalu , media-media internasional menyiarkan berita tentang diluncurkannya pesawat ruang angkasa China ke angkasa membawa 2 astronotnya ( yang mereka sebut sebagai Taikonot). Inilah pencapaian besar China dalam usaha mengeksplorasi (baca 'menguasai) luar angkasa.

Yang istimewa, kedua astronot pria itu kemudian tinggal dalam 30 hari berikut dalam Tiangong-2 melakukan penelitian ilmiah dan teknologi yang berhubungan dengan pesawat antariksa sebagai persiapan untuk stasiun antariksa berawak China yang permanen, yang diharapkanya akan mulai beroperasi sebelum tahun 2022. Eksperimen yang akan dilakukan diantaranya soal material, medis, tiga eksperimen yang diprakarsai pelajar, pertumbuhan tanaman, dan teknik perbaikan orbit.

Inilah misi pesawat angkasa berawak China di luar angkasa.

Jing Haipeng dan Chen Dong, kedua astronot itu, diluncurkan ke antariksa dengan pesawat antariksa Shenzhou-11 pada saat matahari terbit dari Pusat Peluncuran Satelit Jinquan di gurun Gobi.

Kedua astronot menerima ucapan selamat dari Presiden China Xi Jinping yang begitu populer, yang berencana menggunakan program antariksa negara itu sebagai lambang statusnya sebagai negara kuat dunia, dan 'calon' pengganti AS sebagai superpower.

Sejak tahun 2003, China telah melakukan lima misi berawak sebelumnya dan berhasil mendaratkan pesawat penyelidik di bulan. China tergolong sangat cepat mengejar ketertinggalannya dalam bidang eksplorasi luar angkasa. Tahun 80-an, mungkin tak ada yang akan mengira bahwa China akan menjadi negara yang begitu maju dalam berbagai bidang seperti sekarang ini.

Seorang pekerja bangunan tinggi di Shanghai | NYtimes.com
info gambar

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat cepat dalam 3 dekade terakhir telah membuat Middle Kingdom (Kerajaan Tengah) tersebut mempunyai punya banyak ruang (dan uang) untuk melakukan berbagai hal, termasuk membangun kemampuan mengeksplorasi angkasa.

Meski begitu, kini kita juga mendengar bagaimana pertumbuhan ekonomi China yang mulai melambat, tak lagi 2 digit seperti sebelum-sebelumnya. Ada yang khawatir negeri ini akan terperangkap dalam middle-income trap (jebakan kelas menengah).

Jebakan Kelas Menengah (JKM) ini seringkali didiskusikan, namun seringkali salah dimengerti. JKM sebenarnya adalah hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi sebuah negara berkembang, dan pertumbuhan ekonomi melambat dan stagnan, dan tak mampu naik kelas menjadi negara yang maju. Seringkali, negara ini kehilangan momentum di saat-saat kritisnya.

Mobil Listrik LeEco, made in China | fortune.com
info gambar

Banyak negara berkembang di Amerika Latin dan Asia Tenggara memulai membangun ekonominya pada akhir 50-an. Namun, banyak dari mereka gagal menjadi negara dengan pendapatan tinggi, baik karena pertumbuhannya bertumpu pada ekspor produk produk primer, maupun karena proses industrialisasi mereka terjebak pada sustitusi ekspor yang terlalu lama, sehingga mereka gagal membuat transisi yang sukses menjadi negara yang berorientasi ekspor.

Filipina adalah satu kasus yang bisa dikemukakan. Inilah negara pertama yang memulai proses industrialisasi pada awal 50-an, namun setelahnya, Filipina bergerak lambat dan terjebak menjadi negara dengan pendepatan menengah ke bawah selama setengah abad.

Populasi besar, perlu rencana besar | Business Insider
info gambar

Dalam laporan Bank Dunia, dari sekitar 100 negara berpendapatan menengah pada tahun 1960, hanya 13 negara (hampir semuanya negara yang relativ kecil atau sedang) telah menjadi negara berpendapatan tinggi sebelum tahun 2008. Di Asia Timur kita mengenal Jepang dan 4 "little dragon" yakni Korsel, Taiwan, Hongkong, dan Singapore, yang berhasil melewati masa-masa kritis Jebakan Kelas Menengah dan menjadi negara kaya. Mereka adalah negara-negara yang sukses bertransisi dari substitusi impor menjadi orientasi ekspor.

Bagaimana dengan China ?

China adalah salah satu contoh negara yang seringkali diperdebatkan terkait dengan Jebakan Kelas Menengah. Setiap kali pertumbuhan ekonominya melambat, selalu saja orang menganggap bahwa negara tersebut akan terjebak dalam JKM. Bahkan baru-baru ini, Menkeu-nya Lou Jiwei menyatakan bahwa kemungkinan China masuk Jebakan Kelas Menengah lebih besar dari 50%. Pemerintah China seolah sengaja menyampaikan ancaman Jebakan Kelas Menengah tersebut untuk mengingatkan rakyatnya berbagai macam hambatan dan tantangan yang tengah China hadapi.

Benarkah China akan masuk dalam Jebakan Kelas Menengah?

Mari kita awali dengan menganalisa PDB negara tersebut. Pada tahun 2015, pendapatan perkapita China adalah $8,300 (bandingkan dengan AS $56,000 atau Singapura $53,000).

Untuk negara dengan populasi besar, memang cukup sulit untuk mencapai pendapatan perkapita yang tinggi (padahal China sudah tumbuh sangat tinggi dalam 3 dekade terakhir). Negara-negara seperti China, India, atau Indonesia akan menemui banyak tantangan dalam mengatasi jebakan kelas menengah.

Robotisasi China, sedang berlangsung | The Stack
info gambar

Pertanyaannya sekarang adalah, berapa lama yang dibutuhkan China untuk menjadi negara berpendapatan tinggi? Jawabannya adalah tergantung dari berapa cepat China menumbuhkan kembali ekonominya. Perlambatan ekonomi China memang sedang terjadi, dan rasanya akan terus berlangsung.

Namun benarkah ekonomi China begitu lambat? Atau apakah perlambatan tersebut sengaja "dibesar-besarkan" oleh media?

Sebenarnya, mereka tidak tumbuh selambat yang selama ini kita bayangkan. Mereka 'terlihat' lambat karena selama ini kita mengenal China tumbuh begitu cepat. Tahun 2014, mereka 'hanya' tumbuh 7.4 %, dan itu adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi du dunia waktu itu. Bahkan saat mereka tumbuh 'hanya' 6.7 % tahun lalu, pertumbuhan itupun masih lebih tinggi dibanding banyak negara-negara lain.

Made in China 2025 | kingstar.com
info gambar

Presiden China menyatakan bahwa pertumbuhan China memang akan dijaga tetap sedang (tidak tinggi seperti sebelumnya), dan inilah "the New Normal". Pemerintah China berkali-kali menyatakan bahwa mereka punya banyak rencana dan sumber daya yang cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

Dan untuk menjaga pertumbuhannya tetap kuat dan stabil, China memang harus menggunakan sumber daya yang ada untuk menumbuhkan ekonomi yang disertai dengan inovasi dan mengembangkan teknologi, dan juga mempercepat restrukturisasi industri.

Dan mereka sedang melakukan hal tersebut.

China telah secara cepat mengembangkan berbagai riset dan develpment yang mencapai 2.1% dari PDB-nya pada 2014 (AS mencapai 2.8%). Selama beberapa tahun terakhir, China adalah negara dengan paten dan penemuan terbanyak di dunia. Pada tahun 2015, ada 2.7 juta paten yang diajukan!

China juga sudah menjadi rumah bagi para ilmuwan yang begutu banyak, sekitar 3.5 juta ilmuwan bidang sains dan teknologi aktif melakukan kegiatan R&D. Dengan 8 juta lulusan perguruan tinggi tiap tahun ke dalam dunia sains, industri yang makin besar dan maju, China memang sedang menyiapkan diri, dan sepertinya on-track menghasilkan penambahan produktifitas untuk mendukung pertumbuhan ekonominya di masa depan.

Di bidang restrukturisasi industri, China juga sedang melangkah maju dengan slogan "Made in China 2025", sebuah masterplan (yang mirip dengan "Industry 4"-nya Jerman di masa lalu), untuk mendorong manufaktur yang intensif. Hal ini ditujukan untuk secara fundamental mentransformasikan sektor manufaktur China dari raksasa global bidang volume dan output barang, menjadi kekuatan manufaktur utama di dunia dalam hal kualiytas dan high-tech. Slogan kunci industri manufaktur China akan berubah dari 'made in China" menjadi "Created in China", yang berfokus pada 10 sektor, teknologi, robotik, pesawat besar, dan bioteknologi.

Pesawat C919 made in China, pertama | CCTV USA
info gambar

OBOR

Menjelang pertengahan tahun ini, China juga kembali mengejutkan dunia dengan program OBOR-nya. Megaproyek One Belt One Road (OBOR) diperkirakan akan menjadi salah satu bukti bagaimana China terus berusaha memperluas pengaruh ekonomi maupun politiknya di dunia. "Megaproyek Ini adalah solusi dari China untuk mendukung kebangkitan ekonomi global,” tulis harian nasional China, Xinhua dalam kolom editorialnya.

Besarnya potensi megaproyek tersebut dapat dilihat dari luas wilayah yang dicakup dan besaran dana investasi yang disediakan. Tak heran jika banyak negara yang ingin ikut serta terlibat dalam rencana yang bertumpu pada pembangunan infrastruktur penunjang konektivitas antarnegara ini.

Dengan berbagai investasi, rencana aksi, dan hal-hal yang sudah mereka lakukan kini, termasuk meluncurkan 2 astronotnya ke angkasa, akan menyiapkan China tak hanya mampu mengatasi Jebakan Kelas Menengah, namun bahkan akan mampu menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi pada 2030.

Kesimpulannya, China ranya berbeda dari negara-negara lain yang sebelumnya gagal melewati masa krisis Jebakan Kelas Menengah. Mereka telah menyiapkan diri, tak hanya untuk sekarang, tapi untuk puluhan tahun ke depan.

Bagaimana Indonesia?

Sumber :

Worldbank.org

Straitstimes.com

Businessinsider.com

CCTV.com

Bisnis.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini