Indonesia Salah Satu Negara Dengan Pertumbuhan Investasi Startup Digital Tercepat di Asia

Indonesia Salah Satu Negara Dengan Pertumbuhan Investasi Startup Digital Tercepat di Asia
info gambar utama
Kepercayaan investor pada startup di Indonesia terus menerus meningkat. Bahkan peningkatan jumlah investasi yang masuk ke startup asal Indonesia mencapai 68 kali lipat dalam lima tahun di tahun 2016 dengan nilai US$ 1,4 miliar. Bahkan di tahun 2017 nilai tersebut berganda menjadi US$ 3 miliar hingga bulan ke delapan yang lalu berdasarkan laporan AT Kearney.

AT Kearney yang menggandeng Google untuk melakukan kajian tentang Indonesia Venture Capital Outlook 2017 yang dilansir September lalu itu mengungkapkan bahwa pertumbuhan yang masif membuat nilai dari startup Indonesia akan mampu melampaui nilai investasi di bidang migas yang mencapai US$ 5 miliar pada tahun 2016.

Peningkatan investasi (Gambar: AT Kearney)
info gambar

"Investasi masa depan untuk para startup sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri investor pada pasar, sehingga sangat krusial untuk memahami bahagimana investor melihat pasar Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang," ujar AT Kearney Partner Alessandro Gazzini.

Meskipun Amerika Serikat tetap menjadi pusat perhatian startup dunia, Asia tumbuh pesat berkat perkembangan investasi di Tiongkok, India dan Asia Tenggara. Bahkan pertumbuhan investasi si Asia Tenggara merupakan pertumbuhan tercepat di Asia dengan Singapura dan Indonesia sebagai gerbong utama.

Dengan mempelajari secara seksama lingkungan investasi startup di Indonesia, laporan ini akan memberikan pintu tentang bagaimana pola pikir para investor dalam berinvestasi. Sekaligus memberikan saran bagaimana para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan untuk melakukan pengembangan yang mampu memperkuat kepercayaan diri para pemodal ventura dan juga menarik perhatian investasi lokal maupun asing di tahun-tahun mendatang.

Dalam studi ini, AT Kearney mencari aspek-aspek prioritas apa saja yang menjadikan para investor melirik pasar startup di Indonesia. Sebanyak 25 pemodal ventura baik dari dalam negeri maupun luar negeri diwawancarai untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Berdasarkan laporan tersebut, kebanyakan investasi masih berada pada tahap inkubasi atau pembiayaan awalan. Setidaknya terdapat 53 kesepakatan investasi yang 43 persennya merupakan modal awalan dan 30 persen merupakan Series A. Meski mayoritas merupakan modal awalan, ternyata modal ventura tingkat lanjutan seperti Series C dan berikutnya mengakumulasi 43 persen total investasi di Indonesia yang nilainya mencapai US$ 3 miliar.

Tiga Unicorn asal Indonesia (Gambar: AT Kearney)
info gambar

Dalam laporan ini pula, terungkap bahwa 95 persen investasi berasal dari Tiongkok. Sementara sisanya berasal dari negara lain. Raksasa Tencent misalnya, yang telah melakukan investasi US$ 1,2 miliar ke Go-Jek. Sementara Alibaba Group telah berinvestasi US$ 1,1 miliar pada Tokopedia. Tidak ketinggalan JD.com yang berinvestasi US$ 500 juta pada Traveloka. Ketiga perusahaan digital asal Indonesia tersebut merupakan tiga perusahaan pertama yang menjadi Unicorn di Tanah Air.

AT Kearney juga menilai, para investor memandang Indonesia sebagai negara yang berpotensi karena merupakan negara yang terus tumbuh ekonominya. Kelas menengah terus bertambah dan merupakan masyarakat yang sangat melek teknologi.

Namun dari segi perilaku investasi, berdasarkan laporan ini. para investor lokal cenderung bertindak konservatif dan hati-hati. Hal tersebut tampak dari 21 persen investor lokal cenderung akan melakukan penurunan jumlah investasi, sementara 57 persen berencana untuk meningkatkan jumlah investasi. 21 persen sisanya mengungkapkan untuk menjaga nilai investasi agar tetap. Hal ini kontras dengan perilaku investor luar negeri yang 80 persen mengungkapkan akan melakukan peningkatan investasi sementara 20 persen lainnya akan menurunkan jumlah investasi.

Investasi per pengguna internet dalam satuan US$ (Gambar: AT Kearney)
info gambar

"Mereka tidak banyak melihat investor lokal yang berhasil, sementara mereka yang dari Tiongkok memang sudah berhasil. Ini yang kita sebut dengan kemenangan kecil (small winning) ketika kita ingin membangun perusahaan besar yang kuat dan berkelanjutan. Boleh-boleh saja untuk melakukan investasi kecil dan mendapatkan kemenangan cepat jika itu bisa memberikan kesan yang berbeda," jelas Gazzini.

Dari segi sektor startup, investasi sektor e-commerce terbilang mendominasi di Indonesia. Sebanyak 58 persen total investasi sejak tahun 2012 hingga Agustus 2017 yang lalu dilakukan di sektor e-commerce. Sementara 38 persen investasi dialokasikan ke sektor transportasi.

Diperkirakan di masa mendatang, sektor fintech dan layanan kesehatan akan bisa meraih investasi. Hal ini diungkapkan oleh para pemodal bahwa 67 persen mereka berencana untuk berinvestasi di sektor fintech dan 25 persen mengatakan berencana berinvestasi di sektor layanan kesehatan.

Meski investasi ke startup Indonesia melonjak tinggi, namun para investor memperhatikan bahwa Indonesia masih sangat perlu suplai engineer yang lebih banyak.

"Kami sangat terkejut dengan antusiasme para pemodal ventura dan bagaimana mereka sangat optimis dengan Indonesia. Potensi pertumbuhannya menakjubkan namun tetap membutuhkan engineer. Ini bukan tentang perubahan yang ekstrim. Namun memang diperlukan dorongan yang masif untuk mencetak talenta lebih banyak jika para startup itu ingin memperbesar skala dan memenuhi permintaan," ujar Gazzini

Indonesia memang akan sangat membutuhkan banyak talenta baru. Tahun 2015 misalnya, disebutkan bahwa Indonesia membutuhkan ribuan ahli IT baru untuk memenuhi permintaan industri yang tumbuh sangat cepat.

Selain persoalan talenta tantangan lainnya untuk pasar investasi di Indonesia adalah insentif fiskal, permodalan dan opsi exit, ataupun dalam hal memfasilitasi perkembangan startup. Gazzini menjelaskan bahwa peran pemerintah bisa jadi menjadi pihak yang sangat berpengaruh dalam hal mencetak talenta baru mengingat pasar telah mulai dewasa.

Mampukah Indonesia terus menjaga tren positif dan meraup peluang ekonomi digital dunia?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini