Sarat Makna, Desainer Ini Pamerkan Kain Khas Indonesia di MQ Vienna Fashion Week 2017

Sarat Makna, Desainer Ini Pamerkan Kain Khas Indonesia di MQ Vienna Fashion Week 2017
info gambar utama

Pada 12 - 19 September lalu, desainer asal Indonesia berkesempatan memamerkan karyanya dalam ajang MQ Vienna Fashion Week 2017 di Wina, Austria. Panggung di kawasan Museum Quartier tersebut dimeriahkan oleh para model yang memeragakan busana karya Handy dan Lulu.

"MQ Vienna Fashion Week" merupakan peragaan busaha berskala internasional yang diadakan Creative Headz didukung Kamar Dagang Austria dan digelar setiap tahun di Kota Wina, demikian Sekretaris Kedua Fungsi Pensosbud KBRI/PTRI Wina, Wina Retnosari, seperti dilansir Antara, Jumat (15/09/2017).

Dubes RI di Wina, Dr Darmansjah Djumale menyebutkan, partisipasi Indonesia dalam "MQ Vienna Fashion Week" merupakan kampanye yang sarat makna. Ada nilai sejarah dan seni budaya yang terkandung dalam batik, Lurik dan tenun.

Keikutsertaan desainer Indonesia di "MQ Vienna Fashion Week" kali kedua dan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Selain Handy Hartono dan Lulu Lutfi Labibi, Ervina Husin desainer tas kulit "Warnatasku" juga meramaikan panggung peragaan busaha desainer Indonesia dengan koleksi tas kulitnya.

Masing-masing desainer menampilkan 22 koleksi musim semi dan musim panas 2018. Lulu Lutfi Labibi menampilkan koleksi "odyssey" dengan ciri khasnya berupa penerapan teknik drapery (tumpuk) pada bahan lurik yang diproduksi perajin dari Klaten, Jawa Tengah.

sumber foto : mqvfw.com
info gambar

Sementara Handy Hartono menampilkan koleksi "eco eastern" terbuat dari kain tenun tangan dari Nusa Tenggara Timur dipadukan dan kain Sarita khas Toraja dengan nuansa warna merah yang kental.

sumber foto : mqvfw.com
info gambar

Masih menggunakan tekstil tradisional dari kawasan Indonesia timur, koleksi tas kulit dari "Warnatasku" mengangkat tema "Maumere Treasure from the East" yang menonjolkan tenun ikat dengan pewarnaan alami dari Maumere.

sumber foto : mqvfw.com
info gambar

Di samping pagelaran busana juga diadakan pameran produk industri mode dan "business to business meeting". Setiap tahunnya kegiatan tersebut menarik sekitar 10.000 pengunjung dan diliput media partner.

Salah satu pimpinan Creative Headz sekaligus kurator MQ Vienna Fashion Week, Zigi Mueller Matyas menyebutkan penampilan desainer Indonesia sangat menonjol. Tidak hanya penggunaan bahan tekstil yang berbeda karena menggunakan tekstil tradisional, juga pemilihan warna dan teknik pembuatan baju. Menurut dia pemilihan warna sangat bagus. Fashion di Austria cenderung menggunakan warna-warna gelap seperti hitam dan putih atau warna pastel. Banyak masyarakat Austria yang tidak menyadari pemilihan warna pakaian dapat mempengaruhi mood.

Duta Besar RI di Wina, Dr. Darmansjah Djumala, mengatakan partisipasi Indonesia dalam MQ Vienna Fashion Week 2017 merupakan kampanye yang sarat makna. “Ada nilai-nilai sejarah dan seni budaya yang terkandung dalam batik, lurik, dan tenun yang ingin kita sampaikan kepada publik di Austria. Kita berharap masyarakat Austria, khususnya dari kalangan industri fashion, tidak hanya mengenal tekstil tradisional Indonesia, namun juga tertarik lebih jauh untuk berkunjung ke daerah-daerah wisata di Indonesia yang menjadi sentra pembuatan tekstil tradisional tersebut, seperti Yogyakarta, Maumere, dan berbagai tempat wisata lainnya di NTT,” ujar Duta Besar Djumala di sela-sela acara MQ Vienna Fashion Week, Selasa (12/9/2017).

Lisa Niedermayr dari Vienna Academy of Fine Arts yang turut menyaksikan fashion show malam itu mengaku sangat tertarik dengan penggunaan warna indigo yang ditampilkan dalam koleksi Odyssey milik Lulu Lutfi Labibi. “Kami tengah mengerjakan proyek UNESCO mengenai tekstil bertema Indigo. Saya berharap kita bisa melibatkan desainer-desainer Indonesia dalam proyek ini. Ini akan jadi kerjasama yang baik sekali,” ucap Lisa di akhir pertunjukan.

Lulu Lutfi Labibi adalah desainer yang selalu menggunakan desain kain lurik untuk koleksinya. Desainer asal Yogya ini mengaku sangat menyukai motif garis-garis. Belum lama ini Lulu telah menyelesaikan 15 koleksinya yang bertema "Duka Luruh" dan akan dipamerkan dalam pagelaran Jakarta Fashion Week 2018. Seperti dilansir di tribun news, ia menjelaskan 'Duka Luruh' merupakan pengalaman yang pernah dirasakan setiap orang secara personal, duka yang sudah usai atau tidak kembali dirasakan.

Koleksi terbaru Desainer khas kain lurik, Lulu Lutfi Labibi yang diberi tema Duka Luruh saat ditampilkan dalam gelaran Jakarta Fashion Week 2018
info gambar


Sumber: antara news | kompas.com | liputan6.com | tribun news

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini