Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Mereka yang Mati Muda Demi Bangsanya

Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Mereka yang Mati Muda Demi Bangsanya

Ilustrasi foto : Pementasan drama kolosal pengibaran bendera Merah Putih di Dermaga Ujung, Tanjung Perak (M. Risyal Hidayat / ANTARA) © aktual.com

Delapan puluh sembilan tahun silam, tepatnya tanggal 27-28 Oktober 1928 lahirlah sebuah momentum bersejarah bangsa ini. Para pemuda dari berbagai daerah berikrar dan berjanji suci untuk tetap setia dibawah rumah besar bersama bernama Indonesia. Mereka menyatukan tekad untuk bersama-sama dan bahu-membahu menuju bangsa ini menjadi lebih baik. Peran mereka tak berhenti sampai disitu, sepanjang perjalanan bangsa terbukti para pemuda turut mengambil bagian dalam berbagai kesempatan.

Dalam era yang penuh gejolak dan revolusi fisik, tak terhitung berapa ribu bahkan jutaan jumlah pemuda yang gugur di medan juang. Usaha memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bukanlah hal yang mudah dan harus dibayar mahal. Para pemuda meregang nyawa demi masa depan bangsa dan anak cucu agar bisa hidup di alam merdeka.

Mereka berjuang dengan penuh keikhlasan dan semangat cinta tanah air. Walaupun usia masih muda, pemikiran mereka jauh melampaui usianya. Berikut segelintir nama pahlawan dan mereka yang mati muda demi bangsanya.

Wolter Monginsidi

Wolter Monginsidi adalah sosok pejuang muda pemimpin gerakan kemerdekaan Sulawesi Selatan. Terlahir pada hari kasih sayang 14 Februari di Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pemuda yang akrab disapa Bote ini sudah aktif berjuang sejak usia belia. Pada 17 Juli 1946, Bote ikut andil dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Dalam laskar tersebut, posisinya adalah sebagai sekretaris.

Monginsidi kerap kali bertempur dengan keberanian yang menyalak melawan kesewenangan Belanda. Walaupun saat itu tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA) bersenjata lebih canggih, dia tak gentar sedikit pun memimpin pasukan di wilayah Makassar dan sekitarnya. Hingga dia tertangkap dan dipenjara 28 Februari 1947.

Sebenarnya, Monginsidi bisa mengajukan grasi agar mendapat pengampunan dari pemerintah Belanda kala itu. Namun, dia teguh tidak melakukannya demi kecintaannya terhadap negeri. Dengan sabar dia menanti ajal hingga hari penentuan tiba di sebuah sel. Ayat-ayat alkitab dia baca dan perdalami selama hari-hari panjang masa penantian tersebut. Inilah yang meneguhkan imannya hingga nafas terakhirnya.

Pada 5 September 1949, Wolter Monginsidi dihadapkan pada regu tembak. Dia sudah siap menjalani hari akhirnya. Sesaat sebelum timah panas menembus tubuhnya, dia berujar ‘Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta’. Dia pun melanjutkan ‘Laksanakan tugas, saudara! Saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara’. Kemudian diakhiri dengan ucapan ‘Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku’.

Iring-iringan para pemuda pada upacara pemakaman Wolter Monginsidi (sumber : 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949 / Repro)
Iring-iringan para pemuda pada upacara pemakaman Wolter Monginsidi (Sumber Foto: '30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949' / Repro)

Sesaat kemudian terdengar pekik ‘Merdeka..!’ menyalak tiga kali dari mulutnya. Monginsidi menghembuskan nafas terakhir setelah 8 peluru menembus raganya: 4 di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 di pelipis kiri, dan 1 di tepat pusar. Saat itu pula dia gugur sebagai kusuma bangsa di usia belia, 24 tahun.

Pierre Tendean

Kematian tragis pemuda Indonesia yang terkenang dalam sejarah adalah kisah Piere Tendean dalam huru-hara tahun 1965. Pierre meruapakan ajudan dari menteri pertahanan Abdul Haris Nasution kala itu, dan dia adalah satu-satunya ajudan muda yang masih belum menikah. Terlahir dari pasangan A.L. Tendean dan Maria Elizabeth Cornet yang Indo-Perancis, membuatnya memiliki paras bule gagah dan tampan.

Saat menjadi taruna, Pierre sempat bertugas dalam penumpasan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Ketika terjadi persitiwa malam 30 September 1965, Pierre sedang bertugas menjaga dirumah Nasution. Mendengar kegaduhan dari pasukan milisi yang pro-PKI, dia pun segera mendatangi sumber kegaduhan berasal. Dia pun disambut dengan todongan senapan para penculik. Dalam gelap, dia sempat dikira Nasution oleh para penculik dan dibawa ke Lubang Buaya.

Disanalah dia bertemu dengan jenderal lainnya. Disana pula dia gugur terkena tembakan penculik dan jasadnya dimasukkan ke sebuah sumur tua bersama para jenderal korban lainnya. Selain meninggalkan ibunda tercinta, Pierre meninggalkan calon pendamping hidup bernama Rukmini yang akan dia persunting pada November 1965. Namun nahas, takdir berkata lain.

Pierre Tendean lahir di Batavia (sekarang Jakarta) pada 21 Februari 1939 dan gugur pada 1 Oktober 1965 dalam usia yang relatif muda, 26 tahun. Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965 menetapkan Pierre Tendean sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia. Pangkatnya pun dipromosikan sebagai kapten secara Anumerta. Wajah Pierre juga pernah muncul dalam perangko di tahun 1966 dan diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota besar Indonesia.

Wajah Pierre Tendean dalam sebuah perangko pos (Sumber foto : Wikipedia)
Wajah Pierre Tendean dalam sebuah perangko pos (Sumber foto : Wikipedia)

Chairil Anwar

Perjuangan tidak hanya dengan angkat senjata di medan laga. Para penyair, penulis dalam bidang sastra pun melawan dengan cara mereka. Chairil Anwar adalah salah satu pelopor utama dalam dunia sastra angkatan 45. Lahir di Medan pada 26 Juni 1922 dari seorang ayah bernama Toeloes dan ibu bernama Saleha.

Dalam usia yang memasuki 20-an tahun, dirinya turut serta ‘membakar’ semangat revolusi dengan puisi dan sajak. Salah satu yang paling terkenal adalah ‘Aku’, ‘Persetujuan dengan Bung Karno’ yang ditulis pada tahun 1948. Sajak puisi lainnya adalah ‘Krawang-Bekasi’ yang dia tulis ketika hiruk pikuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan tahun 1949. Tak hanya itu, Chairil beserta para pemuda dan seniman lainnya ikut mencetuskan slogan yang membakar semangat juang. Seperti ‘Merdeka atau mati’, ‘berjuang sampai titik darah penghabisan’, dan ‘ayo bung rebut kembali’.

Chairil memang dekat dengan para pemuda pejuang di masa itu. Terutama kalangan yang dikenal dengan Menteng 31 yang juga merupakan markas dari Angkatan Pemuda Indonesia (API). Namun, petualangannya harus berakhir pada 28 April 1949 saat usianya baru menginjak 27 tahun. Berbagai macam penyakit telah menggerogotinya. Penyair yang ‘ingin hidup seribu tahun lagi...’ itu kini harus pergi untuk selamanya. Puisi dan sajak yang dia ciptakan ibarat api bagi para pejuang. Ya, Chairil adalah sang pemantik api untuk negeri.

Soe Hok Gie

Sepeninggal Chairil Anwar, Indonesia tidaklah kehilangan pemuda intelektual terbaiknya. Adalah Soe Hok Gie nama sang pemuda tersebut. Dia adalah pelopor tokoh gerakan mahasiswa 1966. Pemuda yang lahir pada era Perang Pasifik (17 Desember 1942) tersebut telah mewariskan sejumlah pemikiran, strategi, dan ide-ide brilian dalam memecahkan permasalahan bangsa kala itu.

Menulis adalah senjata Gie dalam mengkritisi ketidakberesan di sekitarnya. Selain itu dia kerap kali melakukan aksi demonstrasi bersama teman seperjuangan. Semua aksi yang dia lakukan terekam jelas dalam buku catatan hariannya yang terbit dengan judul ‘Catatan Seorang Seorang Demonstran’. Bakat menulis Gie adalah bakat turunan dari sang ayah, Soe Lie Piet, yang juga seorang penulis dan wartawan. Gagasan serta analisis yang ditulis Gie secara tajam berserakan di berbagai media cetak, seperti Sinar Harapan, Indonesia Raya, dan Kompas serta surat kabar lainnya. Kumpulan tulisannya kini telah dibukukan dalam buku bertajuk ‘Zaman Peralihan’.

Walaupun terlahir dari kalangan minoritas, Gie tak sedikitpun goyah akan kecintaannya kepada tanah air Indonesia. Untuk menumbuhkan semangat cinta alam dan tanah air, dia suka mendaki gunung bersama teman pecinta alam sesama mahasiswa UI. Dari situ terbentuklah organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA)-UI. Organisasi mahasiswa pecinta alam ini masih tetap ada hingga kini.

Gunung yang menempa sosok Gie, gunung pula yang merenggut nyawanya. Di puncak Semeru, Gie pada 16 Desember 1969 menghembuskan nafas terakhir karena asap beracun di puncak gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut. Gie meninggal dalam usia 27 tahun bersama mimpi dan harapan untuk Indonesia yang lebih baik di dalam liang lahatnya. Dia adalah sosok pemuda yang berjuang demi bangsanya, dengan jiwa intelektual yang dia miliki.

Refleksi Momentum Sumpah Pemuda di Masa Kini

Itulah sekelumit kisah kepahlawanan para pemuda bangsa dalam mempertahankan tanah airnya. Jika dulu para pejuang dan pemuda Indonesia berjuang angkat senjata mengusir penjajah, kini kita hidup di alam yang bebeda. Ya, alam merdeka dan dapat berdiri diatas kaki sendiri sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Dan disitu pulala tantangan baru yang nampak nyata mulai muncul. Seiring perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi bangsa ini dalam menatap era globalisasi tidaklah kecil.

Salah satu yang dapat kita ambil adalah masuknya paham-paham radikal yang mengatasnamakan agama dan aliran tertentu. Anak-anak muda dan siapa saja akan mudah dicuci otak jika tidak dibekali dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan wawasan kebangsaan. Itu semua dapat dibendung apabila semua pihak bahu-membahu dan bergandengan tangan dalam menatap masa depan bangsa seperti apa yang dicita-citakan para pendahulu, niscaya tantangan tersebut dapat menjadi sebuah peluang dan kabar baik.

Dengan semangat Sumpah Pemuda dan menengok sejarah pengorbanan para pemuda Indonesia di masa silam, hendaknya sebagai pelecut kita sebagai generasi milenial dalam mengisi kemerdekaan. Sebagaimana seperti semangat para pemuda delapan puluh sembilan tahun silam dalam ikrar suci setia terhadap tanah air, Indonesia.

Sumber referensi :

Rudy Badil, et.al. 2009. Soe Hok Gie : (Sekali Lagi…) Buku Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya. Jakarta : KPG

Rosihan Anwar. 2012. Sejarah Kecil (Petite Historie) Indonesia Jilid 6 : Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah. Jakarta : Penerbit Buku Kompas

Tim Penyusun. 2017. Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi. Jakarta : KPG & Tempo Publishing

Tim Penyusun. 2016. Chairil Anwar : Bagimu Negeri Menyediakan Api. Jakarta : KPG & Tempo Publishing

Petrik Matanasi. Kematian Tragis Seorang Ajudan, Pierre Tendean. https://tirto.id/kematian-tragis-seorang-ajudan-pierre-tendean-cwPz

Iswara N. Raditya. Yang Mati Muda Demi Indonesia. https://tirto.id/yang-mati-muda-demi-indonesia-ciZT

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Spesial Sumpah Pemuda: Berbakti untuk Ibu Pertiwi melalui Persatuan dan Prestasi Sebelummnya

Spesial Sumpah Pemuda: Berbakti untuk Ibu Pertiwi melalui Persatuan dan Prestasi

Spensav, Antivirus Buatan Siswa SMP yang Mendunia Selanjutnya

Spensav, Antivirus Buatan Siswa SMP yang Mendunia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.