Indonesia Ternyata Butuh Lebih Banyak Startup Di Bidang Ini

Indonesia Ternyata Butuh Lebih Banyak Startup Di Bidang Ini
info gambar utama
Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi digital di Indonesia terus tumbuh. Investor pun diperkirakan akan terus beduyun-duyun datang ke Indonesia di tahun 2018 mendatang. Namun rupanya startup di Indonesia masih belum merata karena pada sektor tertentu jumlah startup sangat besar sementara di beberapa sektor, startup sangat minim.

Hal tersebut diungkapkan oleh Business Development Golden Gate VC, Dea Surjadi di sela-sela Tech In Asia Conference Jakarta pada 2 November lalu. Dea mengungkapkan bahwa saat ini startup di Indonesia mayoritas adalah bidang e-commerce kemudian diikuti oleh fintech. "Startup dibidang health care (pelayanan kesehatan), agriculture tech dan edu tech perlu lebih banyak muncul," ujar Dea.

Dea juga menjelaskan bahwa startup di Indonesia perlu lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh pasar di Indonesia. Menurutnya, saat ini banyak startup di Indonesia yang secara teknologi sangatlah maju namun tidak dibutuhkan pasar. Sehingga startup bisa melakukan perubahan target pasar, yang semula pasar lokal menjadi pasar di negara-negara lain. Hal ini menurutnya juga menjadi pertimbangan bagaimana sebuah institusi modal ventura melakukan investasi pada sebuah startup.

"Jika ada yang bagus, strong founders, strong value preposition, dan market butuhkan. Terkadang startup memiliki teknologi yang keren, tapi (pasar) Indonesia tidak membutuhkan, lalu untuk apa? Produknya canggih, jadi mungkin saja Singapura yang membutuhkan. Tapi Singapura kan pasarnya hanya berapa? Marketnya kecil. Jadi Indonesia prioritas," ungkapnya.

Dari sudut pandang sebagai investor, Golden Gate VC saat ini lebih memprioritaskan modalnya kepada startup-startup di Indonesia. Selain memiliki pasar yang besar Indonesia memerlukan banyak teknologi yang mampu menyelesaikan masalah. Beberapa startup yang telah digelontorkan modal oleh Golden Gate VC adalah Halodoc, Printerous, Jojonomics, Gajian, Duit Pintar dan beberapa lainnya. "Saat ini kami telah invest di 10 atau 11 startup di Indonesia dari total 34 startup," ujar Dea.

Dirinya juga percaya bahwa dana investasi untuk startup di Indonesia tahun depan akan terus meningkat. Meskipun ada anggapan bahwa dalam waktu dekat ini, Indonesia tidak akan ada startup dengan predikat unicorn baru selain "GTT" Go-jek, Traveloka, Tokopedia.

Berdasarkan riset yang dilakukan AT Kearney dan Google dan dilansir September yang lalu mengungkapkan bahwa ternyata Indonesia memang menjadi pusat perhatian investor teknologi digital. Dana investasi yang masuk ke Indonesia dalam lima tahun terakhir telah meningkat lebih dari 60 kali lipat. Dari US$ 44 juta menjadi US$ 1,4 miliar di tahun 2016 dan berganda di tahun 2017 menjadi US$ 3 miliar. Hal ini menggambarkan bagaimana investor merasa percaya dengan pasar startup di Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini