Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*)

Pada waktu saya masih kecil di tahun-tahun 57-60 an sering bermain-main jauh dari kampung saya sendiri di Surabaya Pusat bersama teman-teman sebaya. Berjalan jauh tanpa bekal apapun, maklum kondisi perekonomian tahun-tahun itu masih rendah, banyak kemiskinan dimana-mana. Berjalan-jalan ke arah pusat kota dan sekitarnya untuk melihat-lihat keramaian atau bermain bola di lapangan bola, itu tentu melelahkan dan kehausan. Tapi hebatnya sering kami saksikan di beberapa rumah besar di pinggir jalan besar atau di kampung menyediakan air dingin di dalam Kendi yang di taruh di depan rumah untuk para pejalan kaki yang kehausan. Dan kami sering mengambil kesempatan untuk minum di depan rumah-rumah tersebut setelah berjalan jauh.

Adat kebiasaan yang mulia seperti itu tersebar dimana-mana di kota seperti Surabaya maupun di desa-desa, menyediakan air bagi para pejalan kaki atau yang berkendaraan yang memerlukan seteguk air agar tidak kehausan. Hebatnya rumah-rumah yang menyediakan Kendi itu tidak membeda-bedakan untuk siapa Kendi itu, tidak perduli apakah suku dan agama si pejalan kaki yang membutuhkan minum. Tidak untuk pribumi atau non-pribumi, Jawa atau non Jawa, Islam atau Kristen, tapi untuk semua orang dari berbagai kalangan yang sangat membutuhkan minum; berhenti dari perjalanan jauh, beristirahat dibahwa pohon rindang setelah minum air dariKendi itu. Penyedia air minum itu ikhlas, tanpa minta bayaran atau balasan apapun.

Itulah perbuatan mulia yang muncul dari keluhuran kearifan lokal di setiap kota atau desa di negeri ini, dimana ada orang atau keluarga yang dengan penuh keikhlasan melakukan solidaritas sosial terhadap sesama dengan kejujuran dan kebesaran hati.

Saya pernah melihat TVMonde baru-baru ini (2017), dari Perancis dimana wartawannya melaporkan kegiatan orang-orang desa di Vietnam, Kamboja yang melakukan kerja bhakti bersama membantu salah satu tetangganya yang sedang membangun rumah sederhana dari kayu. Setiap orang laki-laki di desa itu datang dengan penuh keihlasan mengaduk semen, mengangkut batu bata, mengangkat kerangka kayu untuk atap rumah. Sementara yang wanita-wanita menyiapkan makanan dan minuman untuk laki-laki. Itu sama dengan budaya Gotong Royong yang ada di negeri ini, yang di praktekkan turun temurun dari generasi ke generasi.

Gotong royong di Desa Nita, Flores, NTT. Foto: Oleh: Sinar Harapan
Gotong royong di Desa Nita, Flores, NTT. Foto: Oleh: Sinar Harapan

Saya pernah mengikuti pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang tahun 1982, dan pertemuan Pemuda Dunia di Tokyo tahun 1985 serta bekerja di Bank of Tokyo tahun 1990 an, menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana masing-masing orang Jepang menghormati satu sama lain dengn cara membungkukkan badan. Karyawan dengan karyawan, dengan atasan, dengan nasabah, dengan keluarga dsb, selalu melakukan adat budaya mereka itu meskipun mereka berada di dunia yang modern ini.

Tentu praktek menyediakan air untuk pejalan kaki di Kendi tahun 1950-60an itu mungkin tidak terjadi di dunia saat ini, karena dianggap “ndeso” atau ketinggalan jaman. Namun yang penting substansi dari perbuatan mulia seperti itu haruslah tetap berjalan. Jadi apapun generasi nya, apakah generasi X, Y, Z, generasi milenia, generasi Now atau apapun namanya di negeri ini, tidak boleh meninggalkan budaya luhur bangsa sendiri yang memiliki solidaritas tinggi. Kendi itu hanyalah alat untuk melakukan kearifan lokal, sebagai alat tentu bisa berubah-rubah sesuai dengan kemajuan jaman. Namun hakekat dari perbuatan luhur diatas tidak boleh sirna dari bangsa ini.

Jepang apa bedanya dengan kita, malah dari kemajuan ekonomi dan tektnologinya negeri Sakura ini meninggalkan Indonesia beberapa dekade. Toh masyarakatnya masih mempraktekkan adat istiadat luhur mereka. Negara-negara ASEAN lainnya juga masih melestarikan budaya mereka dengan baik meskipun mereka di dunia Now ini.

Sudah sering dijelaskan sejak dulu bahwa Modernisasi tidak sama dengan Westernisasi. Kita tetap harus merangkul sikap-sikap modern dalam artian professional, menghargai orang lain, berfikir kritis terbuka kreatif dan inovtif dsb dsb, tapi tetap harus ingat akan akar budayanya sendiri.

Saya tertarik mengutip kalimat yang diucapkan mantan dictator Filipina Presiden Ferdinand Marcos (kata Sahabat Rasulullah Muhammad, Syaidina Ali: jangan di lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa isi bicaranya itu) yang mengatakan: “A Man’ Eye Could Survey the World, but a Man’ Feet Should be Planted in His Country”. Dia ingin mengingatkan pada bangsanya bahwa boleh kita pergi kesudut dunia, tapi ingat kaki kita harus tetap di negeri sendiri.

*) Ahmad Cholis Hamzah, Alumni Universitas Airlangga dan University of London; Ketua Departemen Kajian Internasional dan Pemberdayaan Alumni Global IKA UA, dan authorized writer of Good News From Indonesia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu