Matahari masih beberapa jam lagi terbit, ketika ribuan santri berusia 6 sampai 18 tahun mulai bangun dan beraktivitas di sebuah pesantren. Mereka menjalankan sholat malam dan membaca Alquran hingga Subuh menjelang. Setelah itu aktivitas berlanjut. Beragam kegiatan sudah terjadwal dengan sangat tertib, mulai dari olah raga pagi, mandi, makan, belajar di kelas, mengaji berbagai kitab, kegiatan ekstra kurikuler, belajar lagi, hingga waktu istirahat malam tiba. Begitulah cuplikan keseharian santri yang terekam dalam sebuah film dokumenter berjudul Da’wah. Film tersebut mengambil latar Pesantren Dalwa, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Film besutan sutradara Italia Italo Spinelli inilah yang pada Sabtu 4 November lalu menuai kekaguman penonton dan pegiat film di Fiesta del Cinema di Roma. Sekitar 300 orang memenuhi Auditorium Parco della Musica. Tiket yang dijual secara online oleh panitia sudah habis sehari sebelum Da’wah diputar.       

"Saya belajar banyak selama proses pembuatan film ini. Berbeda dari persepsi sebagian orang terhadap Islam, pengajaran agama yang diberikan kepada para murid sama sekali tidak mendukung adanya tindak kekerasan," kata Italo Spinelli.  

Suasana Ustadz sedang Mengajar di Pesantren Dalwa I Foto: Film Da'wah
Suasana Ustadz sedang Mengajar di Pesantren Dalwa I Foto: Film Da'wah

Dia menuturkan bahwa para guru di pesantren tersebut sangat menekankan pentingnya berbagi kebahagiaan dan kasih sayang kepada sekitarnya. 

Ketika ditanya mengenai hal menarik yang dia temui selama pembuatan film, Spinelli berbicara mengenai konsep jihad yang dia temui selama penggarapan dokumenter. Menurutnya, jihad yang ia temui di Pesantren ini adalah perlawan terhadap emosi diri sendiri, bukan musuh dari luar. 

Spinelli merekam gambaran-gambaran nyata dari keseharian para santri yang diwakili tokoh bernama Rafli remaja keturunan Jerman, M Hasan Masduqi, Muhammad Shofi dan Ahmad Yazid, santri dari Pasuruan.

Panitia Festival di Roma menilai film Dakwah sangat apik dari segi artistik dan narasi cerita. Peraih piala Oscar, Bernardo Bertolucci, yang memberikan pengantar sebelum penayangan film, juga menyampaikan kekagumannya pada kepiawaian sang pembuat bercerita dan menggambarkan kehidupan madrasah di Indonesia lewat film ini.

Sutradara film The Draemers, The Last Emperor, juga The Last Tango in Paris itu pun mengatakan sangat penting para guru dan murid sekolah di Eropa bisa menyaksikan film ini.

Sapta Nirwandar (ketiga dari kiri) menyepakati penyebaran film dengan distributor asal Italia I Foto: istimewa
Sapta Nirwandar (ketiga dari kiri) menyepakati penyebaran film Da'wah dengan distributor film di Italia I Foto: istimewa

Sementara itu, Sapta Nirwandar, sang produser mengungkapkan pihaknya sengaja membawa film Da’wah ke Eropa sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Barat terhadap kehidupan Islam di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia.

Menurutnya, dalam proses pembuatan film ini, sutradara yang bukan seorang muslim beserta kru-nya dibebaskan untuk mengeksplorasi seluruh detil kehidupan pesantren. Selama sembilan hari mereka mengabadikan kehidupan sekitar 2.700 santri di pondok pesantren yang berdiri sejak tahun 1981 itu.

Di akhir festival, daya tarik film berdurasi 60 menit ini rupanya juga menarik sebuah distributor yang berpusat di Roma untuk mengajukan kontrak pendistribusian film ini di Eropa.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu