Drama kolosal 'Surabaya Membara' yang mendebarkan seolah menjadi nostalgia. Masyarakat hanyut dalam suasana peperangan yang heroik. Sengitnya pertempuran antara Arek-arek Suroboyo dengan tentara sekutu yang bersenjata modern disuguhkan secara apik. Anak-anak muda dengan semangat membara bisa menaklukan sekutu meski hanya bersenjata bambu runcing.

"Serangggggg!" teriak puluhan Arek-arek Suroboyo sambil membawa bambu runcing saat menyerbu tentara sekutu yang ingin menguasai Kota Surabaya. Sekutu tak mau kalah. Dengan persenjataan modern, aksi penyerbuan dibalas dengan tembakan dan lontaran peledak. Suara dentuman dan letusan terdengar bersahutan. Korban berjatuhan.

Semakin dramatis ketika asap putih tebal membumbung. "Dorr..dorr!" suara letusan senjata terdengar bersahutan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini berakhir penyobekan bendera Belanda. Bagian biru disobek sehingga bendera yang berkibar menjadi merah putih.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Drama Kolosal Surabaya Membara (© v-images2.antarafoto.com)

Begitulah suasana drama kolosal yang rutin digelar oleh Pemerintah dan Pemuda Surabaya pada 9 November, malam menjelang Hari Pahlawan. Dipentaskan di sekitar Tugu Pahlawan, atau di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan Surabaya. Melibatkan ratusan aktor dari kalangan pelajar, mahasiswa dan Tentara Nasional Indonesia di Surabaya.

Masyarakat Kota Surabaya terlihat antusias, seakan tak peduli meski harus berjubel menyaksikan drama kolosal yang berdurasi sekitar 90 menit, yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB. Bahkan warga tampak sudah berdatangan memenuhi areal Tugu Pahlawan sejak pukul 18.00 WIB.

Pertempuran 10 November di Surabaya dilatarbelakangi oleh pengibaran bendera Belanda di hotel Yamato pada tanggal 18 September 1945. Mengingat saat itu Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, para pemuda Surabaya yang terkenal dengan sebutan arek-arek Surabaya jelas merasa gusar melihat tindakan Belanda yang tidak menghargai dan tanpa ijin mengibarkan bendera merah-putih-biru di wilayah Indonesia.

Memicu terjadinya pertempuran 10 November dan perobekan bendera Belanda hingga menyisakan merah putih, yakni bendera Indonesia. Bukan hanya pemuda Surabaya, pertempuran ini juga melibatkan pemuda dari berbagai penjuru tanah air dengan semangat untuk mengusir penjajah seutuhnya dari Indonesia.

Drama Kolosal ini selalu mengangkat tema tentang orang-orang yang terlibat dalam pertempuran 10 November, seperti Bung Tomo, Ahmad Jai, Muhammad Yasin, dan tahun ini mengangkat lakon Cak Roeslan Abdulgani. Cak Roes, sapaan akrabnya, merupakan negarawan dan politikus Indonesia kelahiran Surabaya, 24 November 1914. Saat pasukan sekutu mendarat di Surabaya, beliau terlibat dalam beberapa pertempuran 10 November 1945 demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pertempuran sengit memaksa Cak Roes menyingkir dari Surabaya menuju Malang.

Setelah itu karier politiknya cemerlang, diantaranya pada era Presiden Soeharto Cak Roes pernah dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1967-1971. Pernah menulis buku Seratus Hari di Surabaya yang menceritakan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Hingga akhirnya beliau wafat di Jakarta di usia 90 tahun pada 29 Juni 2005.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Waroeng Omah Sejarah Soeroboyo (WOSS) (© 4.bp.blogspot.com)

Diantara peninggalan Cak Roes, sebuah rumah beralamat di Jalan Plampitan 8 No. 26-28 Surabaya, yang dikenal sebagai Waroeng Omah Sejarah Soeroboyo (WOSS). Ditempati oleh menantu dari adik Cak Roes, Djarod Indraedhi, rumah ini sering dikunjungi wisatawan lokal maupun turis asing yang ingin mengenal  lebih jauh sosok Cak Roes serta kisah-kisah perjuangannya di masa silam. Di rumah ini terdapat banyak buku dan catatan sejarah yang ditinggalkan oleh Cak Roes semasa hidupnya.

Penggagas drama kolosal Surabaya Membara, Taufik “Monyong” Hidayat, menyatakan  bahwa dengan menampilkan lakon tokoh-tokoh yang terlibat dalam pertempuran 10 November, akan menjadikan Kota Surabaya sebagai rumah sejarah melalui gerakan kebudayaan berbingkai drama kolosal Surabaya Membara. Keinginan agar pemerintah memperhatikan nasib veteran pejuang beserta keluarga dari tokoh pahlawan kemerdekaan Indonesia. Untuk kehidupan yang lebih baik, sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi terhadap perjuangan mereka. Sebab bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia (© pbs.twimg.com)
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Roeslan Abdulgani (© cdns.klimg.com)

Sumber: news.detik.com | antaranews.com | republika.co.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu