Sekelumit Kisah Para Pahlawan Literasi dari Pelosok Negeri

Sekelumit Kisah Para Pahlawan Literasi dari Pelosok Negeri
info gambar utama

Bulan November adalah salah satu bulan bersejarah dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia selain bulan Agustus. Pada tanggal 10 bulan ini meletuslah peristiwa heroik di kota Surabaya tahun 1945. Tanggal inilah yang hingga kini dijadikan sebagai peringatan ‘Hari Pahlawan’ untuk menghormati jasa para pejuang dan keberanian Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Menurut sejarawan Taufik Abdullah, peristiwa 10 November 1945 terjadi karena antusiasme akan kemerdekaan sedang berada pada idealisme tertinggi. Selain itu, peristiwa tersebut juga sebagai ‘pengakuan’ bahwa negara nasional yang sah telah berdiri dan karena itu harus dipertahankan. Walaupun nyawa sekalipun menjadi taruhannya. Surabaya telah menjadi saksi bisu dimana para pejuang dan rakyat bersatu mempertahankan hak dasar bagi setiap bangsa.

Kini setelah 72 tahun berlalu kita menghirup alam kebebasan, alam kemerdekaan di bumi pertiwi. Namun, kemerdekaan itu bukanlah berarti tidak ada permasalahan berarti di negeri ini. Masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, salah satunya dalam ranah mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Ditengah keterbatasan, masih ada orang-orang tangguh yang menjalankan amanat undang-undang tersebut. Mereka adalah pahlawan literasi yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Berikut sekelumit kisah tentang mereka.

Luna, Si Kuda Pustaka di Kaki Gunung Slamet

Rendahnya minat baca menjadi kendala permasalahan dunia literasi di Indonesia selain sarana prasarana. Berdasarkan data statistik UNESCO, Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara dengan literasi rendah. Posisi ke-59 diduduki oleh Thailand dan terakhir adalah Botswana. Terlihat miris memang jika kita melihat data tersebut.

Kenyataan diatas memang menjadi cambuk bagi kita semua, dan kita patut berbangga hati pada sosok Ridwan Sururi bersama kuda kesayangannya yang bernama Luna. Dengan topi lebar ala seorang koboi, pria berusia 43 tahun itu menyusuri jalanan terjal di lereng Gunung Slamet. Di punggung Luna, terdapat boks untuk tempat buku-buku bagi para pembacanya.

Baginya, dengan berkeliling desa dan menyusuri setiap jalanan akan memudahkan siapa saja untuk mendapatkan bahan bacaan guna menambah cakrawala pengetahuan. Memang, jika dilihat dari data Kementerian Pendidikan sebagaimana dilansir dari Kompas.com angka melek huruf meningkat 96 persen tahun 2013. Tapi disisi lain, secara nasional propinsi Jawa Tengah berada di posisi tertinggal ketiga paling bawah. Hampir lima persen penduduk atau sekitar satu juta jiwa masih buta huruf. Terutama di daerah pedesaan.

Ridwan Sururi dan Si Kuda Pustaka, Luna sedang menyusuri menyusuri jalanan
info gambar

Menyadari hal itulah Ridwan Sururi dan si kuda Luna menghampiri setiap warga, sekolah dan tempat lain di dengan beragam koleksi buku dari donatur. Akses sulitnya mendapatkan buku bacaan berkualitas adalah salah satu faktor mengapa budaya literasi disana tergolong rendah. Usaha Ridwan Sururi bersama Luna, perlahan membuahkan hasil. Mereka berdua setidaknya mampu mengatasi permasalahan dasar masyarakat di tingkat pendidikan dengan cara yang sederhana.

Kisah Ridwan Sururi dan kuda Luna sempat menjadi perhatian dunia beberapa waktu lalu. Bahkan foto-foto mereka saat menghampiri warga di lereng gunung Slamet menyebar di kantor berita foto Getty Images. Tak ketinggalan pula, kantor berita Inggris BBC juga menuliskan kisah inspiratif Ridwan Sururi.

Bukan Sekedar Becak Biasa

Memasuki usia senja biasanya diisi dengan beristirahat dan melakukan hal ringan lainnya. Ini tidak berlaku bagi Fransiskus Xaverius Sutopo. Di usianya yang ke-70 tahun dia masih nampak bugar dalam menyebarkan kebaikan bagi setiap orang. Cara yang dilakukan Mbah Topo, sapaan akarabnya memang terlihat unik dan beda dari yang lain.

Dia menyulap becaknya menjadi sebuah perpustakaan berjalan. Selain sebagai sarana untuk mencari nafkah di usia senja, Mbah Topo memiliki misi yang sangat mulia dengan becaknya. Yakni ingin mensukseskan program Gerakan Indonesia Gemar Membaca. Sembari menunggu penumpang dia tak segan-segan untuk meminjamkan buku kepada siapa saja untuk dibaca. Penumpang pun seolah dimanjakan dengan bacaan-bacaan yang ada.

Mbah Topo dan becak pustakanya (Source : ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah via Kumparan.com)
info gambar

Buku yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari buku motivasi, rohani, biografi, novel, sampai majalah juga ada. Kebanyakan buku Mbah Topo adalah koleksi pribadi dan sumbangan dari para donatur. Mbah Topo sendiri terkadang mangkal di kawasan Bumijo, Jogjakarta.

Sejak pensiun dari dari Kodim 0734 Kota Yogyakarta tahun 2003, setahun kemudian Mbah Topo mulai menarik becak. Ide mendesain perpustakaan pada becaknya dia mulai pada tahun 2012 silam. Langkah Mbah Topo banyak mendapat respon positif. Dan pada tahun 2017 in oleh Dinas Perhubungan Jogjakarta, becak Mbah Topo dinobatkan sebagai becak dengan desain terbaik.

Badan Sehat Wawasan Meningkat

Kisah pejuang dan pegiat literasi lainnya juga datang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Cara yang dilakukan pria bernama Muhammad Fauzi ini cukuplah unik. Disela-sela kesibukannya menjual jamu keliling, dia masih sempat untuk memberikan cakrawala baru kepada siapa saja.

Keranjang jamu yang penuh dengan botol-botol ramuan herbal tradisional itu nampak berbeda dari yang lain. Yakni adanya buku-buku yang berjajar diantara botol-botol jamu yang ada. Buku-buku tersebut memang sengaja disewakan Fauzi kepada para pembaca yang mayoritas adalah kaum buruh di daerah Sidoarjo.

Muhammad Fauzi sedang menjajakan jamu bersama buku-bukunya kepada pembaca (Source : Rahadian Bagus Priambodo via surabaya.tribunnews.com)
info gambar

Ada bermacam genre buku yang disewakan kepada pembaca. Mulai dari agama, kesehatan, politik, hingga komik. Layaknya di perpustakaan, buku milik pria yang biasa berjualan di Jalan Gatot Subroto, Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur ini dibekali dengan label tiap buku. Bahkan pembaca boleh meminjam dibawa pulang dalam waktu dua pekan secara gratis.

Fauzi mengaku dirinya menggumpulkan setidaknya Rp. 200.000 dalam dua pekan untuk membeli buku. Kini, koleksinya tercatat sudah mencapai sekitar 7.000 buku. Awalnya Fauzi membuka perpustakaan dengan memanfaatkan bangunan bekas poliklinik desa samping rumahnya pada tahun 2011. Barulah pada tahun 2013, Fauzi mulai membawa buku koleksinya sembari menjajakan jamu. Alasannya sederhana, karena tidak semua warga bisa ke perpustakaan jadi dialah yang harus menjemput bola.

Hal lain yang patut dibanggakan adalah keberhasilannya membuka sekolah gratis dari tingkat PAUD hingga tingkat SD di rumahnya. Sekolah tersebut didirkan pada 2016 lalu dibawah naungan Yayasan Bustanul Hikmah Sukorejo. Di sekolah ini terdapat enam pengajar, termasuk istri Fauzi yang bernama Imroatul Mufida. Bahkan Fauzi memberikan insentif kepada lima pengajar tiap bulannya dari hasil penjualan jamu. Walaupun jumlahnya masih dibilang belumlah seberapa.

Refleksi

Masa berganti, tantangan zaman pun juga berubah. Akan selalu ada pahlawan baru dalam bidang yang berbeda. Tak harus dengan angkat senjata, mereka berjuang dengan apa yang dimilikinya. Jika dulu ada nama Ki Hadjar Dewantara sebagai pahlawan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, kini saatnya kita meneruskan semangatnya. Para pejuang literasi ini pun juga layak kita sebut sebagai pahlawan. Apapun latar belakangnya, mereka punya satu tujuan yang mulia. Yakni agar masyarakat makin cinta literasi, cinta membaca, dan bermuara pada terciptanya cita-cita para pahlawan serta Undang-Undang Dasar 1945.

Terima kasih para pahlawan. Apresiasi kami setinggi-tingginya untuk jasa para pejuang literasi penjuru negeri, karena #diajugapahlawan.

Sumber Tulisan

  • Pustaka Sang Penjual Jamu. Kompas, 25 November 201
  • Kuda Pustaka dari Gunung Slamet. Kompas.co
  • Ridwan, Penyebar Ilmu Kuda 'Pustaka' di Pelosok Purbalingga yang Mendunia. Detik.com
  • Jendela Dunia di ‘Becak Pustaka’ Pak Sutopo. Kumparan.com
  • Mbah Topo Pernah Raih Penghargaan Desain Becak Dari Dishub DIY. Detik.com
  • Taufik Abdullah. “Nasionalisme Indonesia dari Asal Usul ke Prospek Masa Depan” dalam kata pengantar buku Nasruddin Anshoriy & Djunaidi Tjakrawerdaya. 2008. Seri Satu Abad Kebangkitan Nasional : Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional. Yogyakarta : LKIS.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini