Kalau ada yang mengatakan kita adalah bangsa tempe, jangan buru-buru tersinggung. Jangan-jangan malah harus berbangga. Karena tempe, makanan asli Indonesia yang terbuat dari kedelai ini semakin mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging, sehingga tempe diproduksi di banyak tempat di dunia.

Selain semakin banyak dikonsumsi masyarakat dunia, tempe juga semakin sering didiskusikan, diteliti, bahkan hingga dikonferensikan secara internasional.   

Seperti yang terlihat ketika Amadeus Driando Ahnan, Pendiri dan Koordinator Indonesian Tempe Movement (ITM), diundang sebagai pembicara di Harvard Business School, Boston, Massachusetts, AS, 7 November lalu. Ando, mahasiswa S3 Food Science di University of Massachusetts, memberikan sesi berjudul Why Would “Food for the Poor” Tempe Matter for Global Health dalam pertemuan Harvard Global Health Shared Interest Group, yaitu komunitas akademisi Harvard lintas bidang yang memiliki minat mengenai kesehatan global. Sekitar 20 anggota komunitas terdaftar dalam kegiatan tersebut. 

Amadeus Driando Ahnan di Harvard Business School I Foto: KBRI Washington D.Cc
Amadeus Driando Ahnan di Harvard Business School I Foto: KBRI Washington D.C.

Dalam kesempatan diskusi bersama para mahasiswa dan peneliti dimaksud, Ando membagi pengalaman ITM sebagai gerakan non-profit dengan tujuan memberikan akses masyarakat terhadap makanan sehat, ramah lingkungan, dan terjangkau. Ando menekankan bahwa tempe bukan hanya sekedar makanan asli Indonesia namun juga membawa nilai-nilai dan local wisdom Indonesia. Tempe di Indonesia mempunyai nilai budaya yang tinggi. Meskipun demikian, masih terdapat orang yang menganggap tempe adalah makanan orang tidak mampu, padahal sebetulnya makan ini adalah solusi bagi pemerintah dalam memberikan akses makanan bergizi untuk rakyatnya. 

Ando menjelaskan bahwa tempe mempunyai kandungan protein yang hampir sama dengan daging sapi, namun lebih sehat karena tidak mengandung lemak jenuh ganda. Tempe lebih ramah lingkungan karena dalam proses produksinya hanya dibutuhkan 10% dari energi yang dibutuhkan untuk memproduksi daging sapi. “Di Amerika Serikat, Tempe dijual seharga $1,99 untuk 8oz, sementara satu potong steak daging sapi bisa seharga lebih dari 7 dolar” ujar Ando. 

Sesi interaktif yang berlangsung selama 90 menit tersebut menarik antusiasme peserta untuk mendengar secara langsung pengalaman memulai dan mengembangkan gerakan ITM. Disebutkan bahwa gerakan ini juga bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi kesehatan global. ITM menjadi contoh organisasi yang unik karena memadukan unsur ilmiah, budaya, seni, dan bisnis sosial dalam pelaksanaannya.

Peserta menikmati tempe di akhir sesi I Foto: KBRI Washington D.C.
Peserta menikmati tempe di akhir sesi I Foto: KBRI Washington D.C.

Dukungan KBRI 

“Dukungan KBRI kepada Ando dari Indonesian Tempe Movement dalam memenuhi undangan untuk berbicara di Harvard Business School mengenai manfaat Tempe merupakan satu sinergi yang strategis untuk mendukung promosi Tempe sebagai produk budaya Indonesia dalam keseharian masyarakat Amerika Serikat,” demikian ditegaskan oleh Budi Bowoleksono, Dubes RI untuk Amerika Serikat.

Sinergi ITM dengan KBRI Washington D.C. telah berlangsung dalam beberapa bulan terkahir dengan hasil yang sangat baik. “Pada bulan September 2017, kerja sama kedua belah pihak pada pelaksanaan DC Vegan Festival berhasil menarik lebih dari 1350 pengunjung untuk menikmati kelezatan Tempe. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mendapat manfaat kesehatan dari Tempe, serta memberikan pemahaman tentang Indonesia” lanjut Dubes Budi.

Masih ingin tahu bagaimana tempe begitu mendunia? Yuk simak infografis berikut:

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Sumber: Press Rilis KBRI Washington D.C.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu