Selamat Datang di Harvard, Tempe

Selamat Datang di Harvard, Tempe

Tempe, siapa tak suka? ©cookforyourlife.org

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Kalau ada yang mengatakan kita adalah bangsa tempe, jangan buru-buru tersinggung. Jangan-jangan malah harus berbangga. Karena tempe, makanan asli Indonesia yang terbuat dari kedelai ini semakin mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging, sehingga tempe diproduksi di banyak tempat di dunia.

Selain semakin banyak dikonsumsi masyarakat dunia, tempe juga semakin sering didiskusikan, diteliti, bahkan hingga dikonferensikan secara internasional.

Seperti yang terlihat ketika Amadeus Driando Ahnan, Pendiri dan Koordinator Indonesian Tempe Movement (ITM), diundang sebagai pembicara di Harvard Business School, Boston, Massachusetts, AS, 7 November lalu. Ando, mahasiswa S3 Food Science di University of Massachusetts, memberikan sesi berjudul Why Would “Food for the Poor” Tempe Matter for Global Health dalam pertemuan Harvard Global Health Shared Interest Group, yaitu komunitas akademisi Harvard lintas bidang yang memiliki minat mengenai kesehatan global. Sekitar 20 anggota komunitas terdaftar dalam kegiatan tersebut.

Amadeus Driando Ahnan di Harvard Business School I Foto: KBRI Washington D.Cc
Amadeus Driando Ahnan di Harvard Business School I Foto: KBRI Washington D.C.

Dalam kesempatan diskusi bersama para mahasiswa dan peneliti dimaksud, Ando membagi pengalaman ITM sebagai gerakan non-profit dengan tujuan memberikan akses masyarakat terhadap makanan sehat, ramah lingkungan, dan terjangkau. Ando menekankan bahwa tempe bukan hanya sekedar makanan asli Indonesia namun juga membawa nilai-nilai dan local wisdom Indonesia. Tempe di Indonesia mempunyai nilai budaya yang tinggi. Meskipun demikian, masih terdapat orang yang menganggap tempe adalah makanan orang tidak mampu, padahal sebetulnya makan ini adalah solusi bagi pemerintah dalam memberikan akses makanan bergizi untuk rakyatnya.

Ando menjelaskan bahwa tempe mempunyai kandungan protein yang hampir sama dengan daging sapi, namun lebih sehat karena tidak mengandung lemak jenuh ganda. Tempe lebih ramah lingkungan karena dalam proses produksinya hanya dibutuhkan 10% dari energi yang dibutuhkan untuk memproduksi daging sapi. “Di Amerika Serikat, Tempe dijual seharga $1,99 untuk 8oz, sementara satu potong steak daging sapi bisa seharga lebih dari 7 dolar” ujar Ando.

Sesi interaktif yang berlangsung selama 90 menit tersebut menarik antusiasme peserta untuk mendengar secara langsung pengalaman memulai dan mengembangkan gerakan ITM. Disebutkan bahwa gerakan ini juga bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi kesehatan global. ITM menjadi contoh organisasi yang unik karena memadukan unsur ilmiah, budaya, seni, dan bisnis sosial dalam pelaksanaannya.

Peserta menikmati tempe di akhir sesi I Foto: KBRI Washington D.C.
Peserta menikmati tempe di akhir sesi I Foto: KBRI Washington D.C.

Dukungan KBRI

“Dukungan KBRI kepada Ando dari Indonesian Tempe Movement dalam memenuhi undangan untuk berbicara di Harvard Business School mengenai manfaat Tempe merupakan satu sinergi yang strategis untuk mendukung promosi Tempe sebagai produk budaya Indonesia dalam keseharian masyarakat Amerika Serikat,” demikian ditegaskan oleh Budi Bowoleksono, Dubes RI untuk Amerika Serikat.

Sinergi ITM dengan KBRI Washington D.C. telah berlangsung dalam beberapa bulan terkahir dengan hasil yang sangat baik. “Pada bulan September 2017, kerja sama kedua belah pihak pada pelaksanaan DC Vegan Festival berhasil menarik lebih dari 1350 pengunjung untuk menikmati kelezatan Tempe. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mendapat manfaat kesehatan dari Tempe, serta memberikan pemahaman tentang Indonesia” lanjut Dubes Budi.

Masih ingin tahu bagaimana tempe begitu mendunia? Yuk simak infografis berikut:

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Sumber: Press Rilis KBRI Washington D.C.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau7%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Profesor Asal Australia Tulis Buku Akibat Terkesan Dengan Angkot Unik Di Kota Ini Sebelummnya

Profesor Asal Australia Tulis Buku Akibat Terkesan Dengan Angkot Unik Di Kota Ini

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Wahyu Aji
@wahyu_aji

Wahyu Aji

http://www.wahyuaji.com

1 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.