Lagi-lagi anak bangsa mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Ialah Febri Raharningrum dan Fadhila El Discha, dua alumnus Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada, yang berhasil membawa proyek sosial bernama ‘Bhumihara’ meraih gelar sebagai salah satu pemenang ajang Young Social Entrepreneurs (YSE) 2017 di Singapura, 5 November yang lalu. YSE 2017 sendiri adalah ajang yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) yang bertujuan memberikan bekal dan wawasan bagi pengusaha sosial muda (young social entrepreneurs) dalam membangun dan mengembangkan usahanya. Tim Bhumihara maju sebagai salah satu pemenang dari enam pemenang setelah sebelumnya berhasil menyisihkan 63 tim lolos seleksi proposal.

Fadhila dan Febri dalam ajang Young Sosial Entrepreneurs 2017 di Singapura
Fadhila dan Febri dalam ajang Young Sosial Entrepreneurs 2017 di Singapura. © 2017 Bhumihara

‘Bhumi’ berarti ‘tanah’ sedangkan ‘hara’ memiliki arti ‘untaian mutiara’. Kedua kata yang berasal dari bahasa sansekerta tersebut dikombinasikan menjadi ‘Bhumihara’ yang bermakna tanah (pulau) yang seperti untaian mutiara layaknya Kepulauan Indonesia. Sesuai dengan namanya, ide Bhumihara yang dicanangkan oleh Febri, Fadhila, dan Bryan Citrasena ini bercita-cita untuk mempelopori dalam membangun ketahanan dan kemandirian pulau-pulau kecil di Indonesia terutama dalam bidang pengolahan sampah yang selanjutnya akan bergerak ke arah ketahanan energi.

Ide ini bermula ketika Febri berkunjung ke Pulau Bawean untuk mengikuti kegiatan Indonesia Mengajar Pamit sebagai relawan dokumentasi pada bulan Juni 2016. Berangkat dari kegiatan tersebut, Febri menyadari bahwa permasalahan di daerah pelosok dan terpencil bukan hanya di bidang pendidikan saja tetapi juga dalam hal pengelolaan sampah dan penyediaan listrik. Hal ini juga dirasakan oleh Bryan yang mengikuti kegiatan relawan yang sama di Pulau Kalama, Kepulauan Sangihe. Menurut kesaksian Febri dan Bryan, penduduk pulau-pulau tersebut terbiasa hidup berdampingan dengan sampah di sepanjang bibir pantai maupun pekarangan rumah mereka. “Pada dasarnya mereka mengerti bahwa hal tersebut tidak baik bagi mereka namun mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sampah-sampah tersebut,” ujar mereka.

Ide Bhumihara ini tergolong unik, karena berbeda dengan kebanyakan penggiat lingkungan yang berfokus pada permasalahan sampah di kota-kota besar, Bhumihara fokus pada pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil Indonesia. “Pasalnya, dalam beberapa artikel mancanegara, Indonesia disebut sebagai kontributor terbesar kedua di dunia dalam hal polusi sampah plastik di lautan. Sedangkan pengelolaan sampah di daerah pelosok terutama pulau kecil sangatlah jarang diperhatikan. Menurut pandangan kami, hal tersebut tidak akan pernah terselesaikan jika pulau-pulau yang paling dekat dengan lautan tidak kunjung menjadi perhatian,” ujar Febri. “Oleh karena itu, Bhumihara ingin meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia mengenai hal tersebut untuk membentuk kredibilitas Indonesia yang lebih baik dalam hal pengelolaan lingkungan,” tambahnya.

Proyek yang juga menjadi finalis Passionville 2016 dan Semifinalis Pertamina Ide Gila 2017 ini mulai serius digarap sejak September 2016 di Pulau Bawean. Pulau yang walaupun letaknya dekat dengan Kota Gresik, pusat industri di Jawa Timur ini, memiliki keadaan yang cukup kontras baik dari segi pendidikan maupun lingkungan. Permasalahan sampah di Pulau Bawean bermula dari kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke laut akibat ketiadaan sistem pengelolaan sampah yang baik dari pemerintah setempat. Hal ini menjadi unik akibat ukuran pulaunya yang relatif kecil sehingga sampah yang dibuang oleh masyarakat ke laut tidak berpindah tempat. Di bulan tertentu, sampah akan kembali lagi ke daratan terbawa gelombang pasang maupun angin. Sedangkan sampah yang dibuang di sungai akan menyebabkan banjir di musim hujan. Pemandangan akan tumpukan sampah komunal di hutan, semak-semak dan pinggir jalan bukan hal yang asing lagi bagi warga setempat. Pulau Bawean yang memiliki kontur berbukit-bukit serta dikelilingi pantai yang indah ini semakin memotivasi tim Bhumihara untuk membantu melestarikannya.

Potret sampah di bibir pantai Pulau Bawean © 2017, Bhumihara
Potret sampah di bibir pantai Pulau Bawean © 2017 Bhumihara

Dalam pelaksanaannya, Bhumihara sebenarnya tidak memiliki terobosan baru dalam hal teknologi pengelolaan sampah maupun manajemen pengelolaan sampah seperti konsep pilah-angkut dan sebagainya. Namun begitu, Bhumihara mencoba menerapkan sistem token, yakni sistem yang memberi penghargaan berupa voucher listrik atau kupon sembako kepada keluarga yang konsisten memilah sampahnya dengan baik untuk mengapresiasi komitmen warga. Bhumihara sendiri, menurut penuturan mereka, lebih berperan sebagai akselerator bagi residen dan pemerintah lokal agar peduli akan masalah sampah di daerahnya. Untuk menyukseskan proyek ini, tim Bhumihara juga memanfaatkan jejaring yang sudah dibangun oleh Indonesia Mengajar sebelumnya untuk mengajak kerjasama pemerintah, tokoh masyarakat, atau penggerak lokal.

Dengan slogannya, “Menjaga kebersihan dan keasrian pulau-pulau kecil di Indonesia, satu pulau di setiap waktunya”, Bhumihara memiliki impian untuk membuat seluruh pulau kecil di Indonesia mandiri dalam mengelola sampahnya masing-masing, tidak ada lagi sampah yang dibuang secara sembarangan maupun dibakar. Dengan banyaknya pulau yang ada di Indonesia, Bhumihara memiliki visi untuk menjadikan usaha ini menjadi usaha kolektif yang dapat dimulai dan dijalankan oleh siapa saja dengan memberdayakan masyarakat setempat. “Dengan demikian, kita bisa meraih cita-cita tanpa harus menunggu satu pihak melakukan semuanya,” ujar Febri.

Sumber:
Wawancara

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu