Jelajah Rote dan Batas Selatan Nusantara di Pulau Ndana

Jelajah Rote dan Batas Selatan Nusantara di Pulau Ndana

Nelayan Nembrala yang membantu saya menyeberang dari Rote ke Pulau Ndana. © Alex Zulfikar

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Traveling ke pulau-pulau kecil di perbatasan negeri selalu memberi kesan tersendiri. Tak terkecuali perjalanan saya ke Pulau Rote.

Rote berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di selatan Pulau Timor. Rote sebenarnya bukanlah pulau terluar di bagian selatan Indonesia karena masih ada satu pulau lagi sebagai tapal batas selatan, yaitu Pulau Ndana.

Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Ndana, terlebih dulu saya singgah di Pulau Rote. Ada tiga cara menuju Rote dari Kupang, ibu kota provinsi NTT. Cara pertama bisa naik kapal cepat yang ditempuh selama dua jam penyeberangan. Kapal Express dari Kupang ke Rote berangkat dua kali sehari dari Kupang jam 08.30 (setiap hari) dan 14.30 (setiap hari, kecuali Selasa dan Rabu). Harga tiket kelas Eksekutif Rp 110.000 dan kelas VIP Rp 140.000 (November 2017).

Cara kedua adalah dengan naik kapal ferry ASDP dengan jarak penyeberangan selama empat jam. Kapal ini berangkat setiap hari jam 07.30 dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju Rote. Perlu dicatat, keberangkatan kapal ferry ASDP sangat tergantung pada kondisi ombak, sehingga traveler harus meng-update informasinya di dermaga sebelum keberangkatan.

Sedangkan cara ketiga yang paling cepat adalah naik pesawat dari Bandara Internasional El Tari di Kupang (KOE) menuju Bandara DC Saudale di Rote (RTI). Pesawat Wings Air terbang dua kali sehari dari Kupang ke Rote jam 06.40 dan 15.10 dengan harga tiket sekitar Rp 250.000.

Setelah tiba di Rote, ada dua pilihan lokasi penginapan untuk wisatawan, yaitu di kota Ba'a dan Nembrala. Ba'a merupakan ibu kota Kabupaten Rote Ndao sekaligus kawasan paling ramai di Rote. Sementara Nembrala adalah kawasan wisata dengan banyak pilihan homestay dan cottage di pinggir pantai.

Padang rumput yang mengering di Pulau Ndana
Padang rumput yang mengering di Pulau Ndana



Hari pertama di Rote, saya menuju Pulau Ndana, pulau paling selatan dari 17.000 lebih pulau Nusantara. Untuk menuju pulau ini, wisatawan harus sewa perahu motor dari nelayan di Nembrala atau Oeseli. Perahu motor di Nembrala kondisinya lebih bagus dan layak daripada di Oeseli. Harga sewa perahu motor untuk perjalanan pergi-pulan ke Pulau Ndana dalam sehari berkisar Rp 750.000 sampai Rp 1.000.000.

Pulau Ndana merupakan pulau tanpa penduduk dan hanya dihuni oleh sejumlah prajurit Marinir dan TNI AD yang berjaga di pos jaga Pulau Ndana. Para prajurit TNI yang bertugas ini pun bukan "penghuni tetap" karena secara berkala (9 bulan) mereka akan digantikan oleh pasukan lain untuk berjaga di pos terluar Nusantara Pulau Ndana.

Danau Merah yang lokasinya berada di tengah Pulau Ndana
Danau Merah yang lokasinya berada di tengah Pulau Ndana



Ketik kapal saya merapat di Pulau Ndana, tampak dari kejauhan sebuah tiang bendera merah putih di bangunan barak TNI, sementara di bibir pantai terhampar pasir putih yang landai dan memanjang dengan air laut bening dan berwarna biru toska. Wisatawan yang berkunjung ke pulau ini wajib mengisi buku tamu di pos jaga.

Dua spot utama di Pulau Ndana adalah Patung Jenderal Sudirman dan Danau Merah yang berada di tengah pulau. Monumen patung Jenderal Sudirman berjarak sekitar satu kilometer dari pos jaga TNI. Padang rumput yang kering dan gersang dengan cuaca terik mewarnai perjalanan saya ke salah satu monumen kebanggaan NKRI ini.

Sementarra itu untuk menuju Danau Merah, wisatawan akan dipandu dan ditemani oleh petugas jaga dengan mengendarai motor roda tiga. Sesuai namanya, air danau berwarna coklat kemerahan dengan rasa payau. Sebuah pohon asam besar dan sumur tua ada di sisi selatan danau. Konon, warna kemerahan pada air danau berasal dari darah korban peperangan pada masa kerajaan di Pulau Ndana.

Menjelang senja, saya bertolak kembali ke Nembrala karena memang tidak ada fasilitas penginapan di Pulau Ndana. Ombak laut pada sore hari pun cenderung besar sehingga disarankan untuk kembali dari Pulau Ndana sebelum sunset.

Hutan bakau mati Landotie, tak jauh dari dermaga menuju Pulau Landu
Hutan bakau mati Landotie, tak jauh dari dermaga menuju Pulau Landu



Keesokan harinya, saya memulai perjalanan overland keliling Pulau Rote dengan titik awal dari Pantai Nembrala. Spot pertama adalah Pantai Bo'a. Pantai ini kerap disebut sebagai Hawaii-nya Rote karena memiliki ombak besar yang menjadi incaran para surfer. Tak jarang pantai ini menjadi lokasi kompetisi surfing internasional.

Beranjak dari Pantai Bo'a, sekitar satu kilometer ke arah selatan terdapat Pantai Oeseli. Pantai ini identik dengan batu-batuan karang besar dan spot foto sunset yang instagramable. Dari Oseli ini traveler juga bisa menyeberang ke Pulau Ndana, tapi dengan kondisi ombak yang lebih besar dibandingkan dari Nembrala.

Panorama pantai dan hutan mangrove Pulau Rote dari puncak Bukit Mando'o
Panorama pantai dan hutan mangrove Pulau Rote dari puncak Bukit Mando'o



Dari pantai Oeseli, perjalanan berlanjut ke hutan bakau Landotie. Yang unik dari tempat ini adalah hamparan pohon-pohon bakau setinggi enam sampai 10 meter yang sudah mati dan kering, tapi tetap berdiri kokoh. Bentuknya yang unik menjadikan pohon-pohon bakau ini sebagai spot foto bagi wisatawan. Berhati-hatilah saat berfoto di antara pohon bakau mati ini karena cukup licin dan kedalaman air yang tidak rata.

Tak hanya wisata alam, Rote juga memiliki keunikan budaya berupa Sasando, alat musik petik yang terbuat dari bambu dan daun lontar. Tak hanya Sasando, di desa ini pengajin juga menghasilkan Ti'i Langga, topi ala Sombrero khas Rote. Traveler bisa berkunjung di desa pengrajin Sasando yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Ba'a.

Setelah puas wisata pulau, laut, pantai, dan budaya, saatnya menikmati keindahan Pulau Rote dari ketinggian di puncak Bukit Mando'o. Lokasi ini juga dikenal dengan nama Tangga 300, meskipun setelah saya hitung, jumlah tangga menuju puncak berjumlah 488 atau lebih dari 300 anak tangga. Dari puncak Bukit Mando'o ini terlihat panorama hutan bakau, pantai, laut, dan pedesaan di bagian selatan Pulau Rote.

Keramahan warga Rote dan keindahan alam di pulau ini membuat saya merasa bersyukur dianugerahi negeri dengan pesona yang tidak ada habisnya, dari perkotaan, pegunungan, hingga perbatasan di ujung selatan Nusantara.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga38%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang23%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi23%
Pilih TerpukauTerpukau15%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Bhumihara, Cita-cita Menjaga Pulau-pulau Indonesia, Mendapat Penghargaan di Singapura Sebelummnya

Bhumihara, Cita-cita Menjaga Pulau-pulau Indonesia, Mendapat Penghargaan di Singapura

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Alex Zulfikar
@zulfikaralex

Alex Zulfikar

travlesia.com

2 Komentar

  • Syahrul

    Selamat malam mas. Wah keren ceritanya. Saya kebetulan lagi mencari cari informasi sebelum berkunjung ke pulau rote nih. Kalau boleh, mau nanya nanya dimana ya mas? Oh ya kalau mau berkunjung ke instagram perjalanan saya boleh loh @jejakpandangku

  • Alex Zulfikar

    Hi Syahrul, Salam kenal, terima ksh udah menyempatkan baca artikel singkat dari perjalanan ke Rote beberapa waktu lalu. Silahkan japri saya lewat IG @alexjourney.id

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.