Sebuah kajian Universitas Georgia yang dirilis tahun 2015  menemukan lautan di Indonesia ialah perairan kedua di dunia yang menyimpan sampah plastik terbanyak. Ini bukanlah prestasi melainkan alarm yang menandakan, Indonesia tidak hanya krisis sampah daratan, tetapi juga sudah merambah ke perairannya.

Pemerintah kita sangat sadar dengan kondisi tersebut, dan sudah banyak langkah yang ditempuh sebagai usaha memperbaiki dan mengelola sampah. Tidak sedikit juga bahkan yang membuka bisnis dari peluang manajemen sampah, hingga penemuan-penemuan siswa di Indonesia untuk mengurangi atau mendaur ulang sampah.

Dalam perjalanan Indonesia sejak dari deklarasi kemerdekaannya di tahun 1945, tentu kita semua mendambakan hal-hal baik dan luarbiasa terjadi menyongsong dirgahayu Indonesia yang ke-100 tahun nanti. Tapi, jika diterpa juga dengan fakta-fakta lingkungan yang rusak, tentu kita menjadi miris sendiri dan butuh optimisme dalam memeranginya. Bukan hanya diam saja.

Tahun 2045, diperingatan Hari Ulang Tahun Indonesia, seperti apakah negara tercinta ini? Seperti apa manajemen sampahnya kelak?

Bicara sampah, bicara manusia

Sampah pasti berkaitan dengan manusia. Semakin banyak kegiatan manusia, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Kebayang kan kalau Indonesia, yang sedang mengalami bonus demografi kian tahun akan menghasilkan berapa banyak sampah?

Bicara sampah, maka kita juga membicarakan diri sendiri. Sebuah cerita menarik diulas dalam artikel berjudul “Rahasia Sukses Pengolahan Sampah di Jepang” menceritakan bagaimana kesadaran masyarakat Jepang dengan pola hidupnya yang tidak teratur, yang menyebabkan kesusahan pada diri dan lingkungannya.

Pada 1970an, Jepang mengalami krisis sampah. Berbagai cara mereka upayakan dimulai dari hal kecil, yakni pengawasan dan pembinaan setiap pagi di setiap rumah. Sebuah komunitas peduli gerakan pemilahan sampah ini konsisten mengirimkan satu orang ke rumah-rumah warga untuk mengajarkan ibu rumah tangga memilah sampah mereka, dan kunjungan itu ternyata dilakukan sampai awal 1990an, hingga akhirnya muncullah berbagai kebijakan dan berbagai penemuan alat dan system pendauran ulang sampah. Jepang memiliki perjalanan yang panjang untuk menghasilkan negaranya yang bersih dan tertata rapi seperti sekarang. Dimulai dari kesadaran manusianya.

Tantangan di Indonesia adalah …

Jika Jepang berhasil dengan perjalanan kurang lebih 30 tahun dalam mengelola sampah, itu berdasarkan berbagai faktor, salah satunya geografis. Jepang memiliki sekitar 6.852 pulau dan menurut artikel dari CNN, sistem pengolahan sampah di negeri Sakura itu dilakukan secara hierarkis, dari tingkat distrik hingga provinsi. Alhasil, setiap kota, kecamatan, dan distrik bisa memiliki sistem yang berbeda sama sekali. Termasuk Tokyo dengan 23 distriknya.

foto dari : theguardian.com/world/gallery/2008/aug/05/japan.recycling
foto dari : theguardian.com/world/gallery/2008/aug/05/japan.recycling
foto dari : https://www.theguardian.com/world/gallery/2008/aug/05/japan.recycling
foto dari : theguardian.com/world/gallery/2008/aug/05/japan.recycling

Setiap daerah di Jepang berusaha sebaik mungkin atau istilah lainnya, bersaing untuk mengurangi sampah dimasing-masing daerah tidak berakhir banyak di tempat pembakaran sampah. Sampai-sampai, Jepang membekali setiap rumah dengan buku panduan memilah sampah setebal 27 halaman. Jepang sangat ketat dengan peraturannya akan memilah sampah rumah tangga karena mereka sadar, semua orang butuh lingkungan yang bersih dan sehat.

Tokyo padat penduduknya, sehingga tidak memiliki ruang untuk tempat pembuangan sampah. Foto: Yuya Shino / EPA | theguardian.com
Tokyo padat penduduknya, sehingga tidak memiliki ruang untuk tempat pembuangan sampah. Foto: Yuya Shino / EPA | theguardian.com

Mari beralih ke Indonesia, yang memiliki 16.056 pulau, 34 provinsi dan ratusan kabupaten yang berarti, secara geografis, Indonesia lebih besar dibanding Jepang. Kemungkinan, Indonesia butuh energi, usaha yang lebih dan tentu saja waktu lebih panjang dibandingkan Jepang.

Jangan pesimis dulu, karena saat ini pemprov maupun kota-kota kecil di Indonesia juga sedang berlomba-lomba mengelola sampahnya. Dan menurut data 2016, terdapat lebih dari 3000 bank sampah tersebar di Indonesia yang sampai saat ini pun masih berusaha mengurangi sampah.

Ini berarti, Indonesia peduli dengan sampahnya, bukan hanya segelintir orang saja. Pemerintah juga mendukung loh, pada Juni 2017 lalu Kementerian Koodinator Kemaritiman menyatakan sudah menyiapkan sejumlah tahapan, antara lain melalui pendidikan oleh Deputi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman. R. Sudirman, selaku Direktur Pengelolaan Sampah dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, juga mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo memiliki gagasan ‘luar biasa’ guna mengatasi krisis sampah, yakni mengubah sampah menjadi energi.

Benar, pengelolaan sampah memang tidak sesimpel yang kita duga. Karena untuk sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah melalui banyak tahap. Namun ada satu hal yang bisa kita lakukan, yakni dengan penuh kesadaran mulai memilah sampah rumah tangga sendiri dan ...

foto sampah di Sungai Ciliwung pada 2016 | bbc indonesia
foto sampah di Sungai Ciliwung pada 2016 | bbc indonesia

Jangan buang sampah ke sungai!

Atau diparit, atau diperairan mana pun. Usahakanlah terlebih dulu memilahnya. Pendidikan memilah sampah adalah dasar dalam mengelola sampah yang akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Dengan demikian, tantangan utamanya ada ditangan sendiri, rakyat Indonesia.

Teknologi yang dibutuhkan

Banyak yang mengatakan kalau sistem pembakaran sampah di Indonesia terkendala teknologi. Banyak pula yang setuju kalau Indonesia tidak akan pernah bersih jika teknologinya belum mendukung. Saya setuju.

Namun, teknologi bukan hal yang tidak mungkin ada di negara ini. Indonesia tidak pernah kekurangan orang-orang pintar dan ahli dibidang teknologi. Ada banyak anak muda bangsa yang saat ini sedang menempuh sekolah di luar negeri dengan jurusan teknik mesin, yang tentu saja sangat berguna untuk menciptakan teknologi.

Jangan meragukan mereka, karena seiring perjalanan Indonesia setiap tahun, mereka juga membutuhkan waktu untuk berkarya dan mengembangkan.

Indonesia Bisa!

Jakarta - Uji coba penerapan penggunaan limbah plastik pada campuran aspal untuk perkerasan jalan dilakukan di Bekasi. Jalan yang diujicoba aspal plastik sepanjang 3 km | foto dari finance.detik.com
Jakarta, September 2017 - Uji coba penerapan penggunaan limbah plastik pada campuran aspal untuk perkerasan jalan dilakukan di Bekasi. Jalan yang diujicoba aspal plastik sepanjang 3 km | foto dari finance.detik.com

Setelah membaca beberapa sajian diatas, harusnya kita semakin optimis dan bergerak cepat. Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat kini bukan lagi diwujudkan berdasarkan alasan “untuk anak cucu” ; tetapi lakukanlah perubahan sekarang berdasarkan alasan “demi hidupku dan lingkunganku saat ini”.

Dengan melakukannya sekarang, dengan memilah sampah sekarang dan mulai budayakan di kehidupan sehari-hari, kita sudah boleh bermimpi : Indonesia bebas sampah 2045. Itu bukan hal yang tidak mungkin.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu