Bagaimana Tinju Menyelamatkan Seorang Penderita HIV

Bagaimana Tinju Menyelamatkan Seorang Penderita HIV
info gambar utama

Sudut-sudut kota di setiap wilayah kadang memiliki kisah yang spesial untuk diceritakan.

tempat-tempat tak terduga, yang kadang dijauhi manusia dapat menjadi suatu mahakarya tak terduga. hasil dari karya orang biasa yang mencoba melakukan hal luar biasa dengan sekuat tenaga.

Tak jauh dari salah satu pesantren terbesar di Bandung, Daarut Tauhid terdapat rumah. Rumah di daerah Gegerkalong ini umumnya memiliki beberapa warung makan di depan rumahnya. siswa dari pondok pesantren sering membeli makanan di warung tersebut.

Seluruh wilayah ini memiliki suasana yang tenang dan religius.

Tak jauh di sisi rumah, terdapat gang gelap. Gang gelap yang didalamnya terdapat ring tinju, musik yang lumayan keras dan suasana yang penuh semangat.

Di samping ring tinju terdapat sebuah pavilion kecil dimana orang-orang meninju dengan sarung tanggannya. Kebanyakan dari mereka memiliki tato.

Suasana diantara halaman depan rumah dan bagian belakang rumah sangatlah mengejutkan.

jika anda berada disini mungkin akan mengira bahwa telah melakukan teleportasi ke dunia lain, lorong-lorong gelap memang selalu mencurigakan.

Jimmy, yang memimpin komunitas yang bernama Rumah Cemara tersebut tersenyum dengan ramah.

"tempat ini dulunya adalah kandang ayam, Anggota gym sedang berkembang, kami membutuhkan tempat yang lebih luas." katanya.

Hal-hal besar kadang berawal dari awal yang sederhana.

Gym tinju adalah salah satu cara Rumah Cemara untuk membantu orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan kecanduan narkoba, dengan rutin berolahraga, memberikan ruang kepada masyarakat dan memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan untuk komunitas mereka.

Di sini, mereka yang menderita HIV / AIDS atau yang baru pulih dari kecanduan obat terlarang, berkomunikasi dengan masyarakat luas melalui olahraga.

Lalu apakah mereka mendapat keluhan dari pondok pesantren yang sangat dekat dengan tempat itu?

"kami mengundang ustadz pesantren kesini, ia kemudian datang dan berdoa untuk kelancaran tempat ini" kata jimmy sambil tersenyum.

Satu yang menarik di salah satu gym ini, dimana ada tanda untuk Rumah Cemara Boxing Camp. Di bawahnya ada tulisan : Indonesia Without Stigma.

Lebih dari 600.000 orang hidup dengan HIV di Indonesia, menurut UNAIDS.Berbagi jarum suntik yang terkontaminasi di antara pengguna narkoba suntik dan seks heteroseksual yang tidak aman adalah dua mode utama penularan HIV / AIDS.Ketakutan akan stigma dan diskriminasi mendorong ketahanan terhadap pengujian, pengobatan dan pendidikan.Rumah Cemara sedang berupaya mengakhiri stigma dan diskriminasi tersebut.Anda bisa ikut serta di www.rumahcemara.or.id

A story from our better World


Sumber: ourbetterWorld

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini