“Teaching Generation” Karya UNAIR Raih Penghargaan Video Kreatif Internasional

“Teaching Generation” Karya UNAIR Raih Penghargaan Video Kreatif Internasional

Cuplikan Film "Teaching Generation" © Youtube Universitas Airlangga

Di tengah kompetisi perguruan tinggi di era global, para mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif di berbagai bidang, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Prestasi membangkan pun kembali diraih melalui film produksi Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga (UNAIR ) Surabaya, berjudul "Teaching Generation" meraih penghargaan trofi perak untuk kategori video institusi paling kreatif tingkat internasional dalam event 13th QS-Apple Creative Awards 2017 di Taichung, Taiwan, pada 22 November 2017.

Berdurasi 4.30 menit, film ini mengambil scene di beberapa lokasi di Surabaya, film itu mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Apalagi, saat pemberian penghargaan, ada tiga Wakil Rektor serta beberapa pimpinan dan staf utusan kerjasama luar negeri kampus ini yang hadir di sana.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Wakil Rektor III UNAIR Moch Amin Alamsjah (kiri) saat menerima penghargaan di Taichung, Taiwan (© news.unair.ac.id)

“Teaching Generation” berkisah tentang perjalanan empat generasi keluarga yang semuanya kuliah di kampus Airlangga. Keempat pemeran utamanya, Suroso, Sri, Jono, dan Selly, adalah keluarga dari empat generasi yang kuliah di fakultas berbeda di UNAIR.

Keempat tokoh dalam “Teaching Generation” dibantu belasan tokoh pemeran yang lain, bercerita dari empat zaman yang berbeda. Pertama, zaman penjajahan, yakni tahun 1924 ketika cikal bakal UNAIR masih berupa sekolah kedokteran NIAS. Scene zaman kedua adalah tahun 1945, zaman ketika Indonesia merdeka. Ketiga, tahun 80’an, zaman ketika dari berbagai sumber, UNAIR sedang banyak melakukan pembangunan. Dan keempat, scene zaman ini, tahun 2017.

Redo Nomadore merupakan sutradara pembuat “Teaching Generation”, alumnus Prodi Hubungan Internasional FISIP UNAIR. Redo tak menyangka, karyanya mendapat sambutan yang positif. “Project video heritage ini adalah salah satu project yang paling menantang yang pernah saya handle. Proses produksinya sangat seru dan kita banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya untuk mendapatkan set yang tepat,” ujar Redo dilansir dari news.unair.ac.id

Pada mulanya, Redo mendapat inspirasi dari perjalanan panjang UNAIR dalam memajukan pendidikan. Sejak tahun 1913, bermula dari cikal bakal UNAIR yang berada di Fakultas Kedokteran, kampus ini telah bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang terus berkembang sesuai tuntutan zaman.

Mencoba sepresisi mungkin sampai riset seragam PETA, seragam tentara belanda dan jepang zaman itu, model radio, style fashion di setiap zaman, dan atribut lainnya. Beberapa lokasi yang menjadi scene film antara lain rumah tua di Dinoyo; Jalan Gula, Surabaya Utara; Tugu Pahlawan dan sekitarnya; bilangan Jalan Rajawali; serta Kampus A UNAIR sebagai icon. Dalam mengekplorasi ide sebelum memproduksi sebuah film, riset menjadi hal wajib. Begitupula ketika Redo menggarap “Teaching Generation”.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Piala Silver yang didapat UNAIR atas Film “Teaching Generation” (© news.unair.ac.id)

Redo sebelumnya telah banyak memproduksi film-film konseptual dan deskriptif, mengaku gembira, film buatannya meraih penghargaan video institusi paling kreatif dan mengalahkan video-video dari beragam perguruan tinggi. Atas penghargaan yang telah diterima, ia mengucapkan banyak terimakasih kepada berbagai pihak yang turut serta dalam menyelesaikan film. Untuk UNAIR yang sudah memberi arahan dan memberi keleluasaan pada saya dan tim HINTERHOV untuk mengeksplorasi ide. Juga pada seluruh Tim PIH UNAIR yang telah banyak mendukung pada setiap prosesnya.

Ketua PIH Unair, Suko Widodo dalam siaran pers yang diterima di Surabaya, mengaku tak menyangka film ini mendapat apresiasi tinggi hingga meraih penghargaan. Film yang menggambarkan sejarah UNAIR ini diproduksi dalam waktu yang cukup pendek dan pesaing berasal dari berbagai negara. Awards yang diraih dapat menjadi motivasi dan pemicu untuk terus menghasilkan karya terbaik.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau10%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LIPI Kembali Akan Adakan Ekspedisi Ke Pulau Terdepan Sebelummnya

LIPI Kembali Akan Adakan Ekspedisi Ke Pulau Terdepan

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun! Selanjutnya

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun!

Rizkia Yulianti
@rizkyuliant

Rizkia Yulianti

banyak peran dibalik layar

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.