Indonesia Timur, Rumah Hiu Berjalan yang Hanya ada di Indonesia

Indonesia Timur, Rumah Hiu Berjalan yang Hanya ada di Indonesia
info gambar utama

Tak hanya dikenal sebagai surga terumbu karang, Indonesia juga ternyata menjadi surga bagi hiu yang sangat langka. Perairan yang menjadi lokasi favorit untuk berdiam dan berkembang biak, adalah perairan Indonesia Timur, khususnya di Papua Barat dan Maluku.

Apa saja jenis hiu langka yang ada di perairan Indonesia tersebut? Dari informasi yang dirilis Conservation International (CI) Indonesia, sedikitnya ada lima jenis hiu langka yang sudah ditemukan ada di perairan Indonesia.

Kelima hiu tersebut, masuk dalam kelompok jenis hiu hiu berjalan yang jumlahnya sangat terbatas di dunia. Menurut CI Indonesia, hingga saat ini hiu berjalan hanya ada sembilan jenis di dunia dan lima jenis di antaranya sudah diketahui ada di perairan Indonesia.

Jenis-jenis hiu berjalan yang merupakan satwa endemik Indonesia. Foto : Conservation International
info gambar

Marine Program Director CI Indonesia Victor Nikijuluw mengatakan, keberadaan lima dari sembilan jenis hiu berjalan di Indonesia, sudah sepatutnya mendapatkan perhatian istimewa di kalangan pecinta ekosistem laut. Untuk itu, keberadaannya harus mendapatkan perlindungan secara langsung oleh siapapun.

“Semua ikan hiu pasti bisa berenang. Tetapi hanya beberapa spesies saja yang bisa berjalan. Makanya, spesies tersebut disebut hiu berjalan atau walking shark,” ucap dia di Jakarta, Kamis (19/01/2017).

Victor memaparkan, sebagai hiu yang langka ditemukan di belahan bumi lainnya, keberadaan lima spesies hiu berjalan di Indonesia, sudah sepantasnya mendapatkan peningkatkan status perlindungan dari Pemerintah. Peningkatan perlindungan tersebut, sudah diberikan kepada Hiu Paus dan Pari Manta.

Lebih lanjut Victor menuturkan, hiu berjalan dinilai sangat istimewa, karena dari semua jenis hiu yang ada, hanya hiu berjalan yang berbeda sendiri. Kata dia, disebut hiu berjalan, karena gerakannya di dasar laut menggunakan sirip -siripnya untuk bergerak.

“Itu persis seperti melata atau berjalan. Cara tersebut terutama dilakukan di perairan dangkal dan umumnya bisa dilihat pada malam hari,” sebut dia.

Secara taksonomi, Victor menjelaskan, hiu berjalan sering disebut sebagai Hiu Bambu (bamboo shark) dan dikelompokkan dalam genus Hemiscyllium.

Jenis-jenis hiu berjalan yang merupakan satwa endemik Indonesia. Foto : Conservation International
info gambar

Ada 4 Spesies Endemik

Adapun, lima jenis hiu berjalan yang ada di Indonesia, seperti rilis resmi CI Indonesia, empat diantaranyaadalah spesies endemik atau hanya ditemukan di perairan Indonesia. Keempatnya, adalah hiu berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), biu berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), hiu berjalan Halmahera (H. halmahera), dan hiu berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi).

Sementara, satu spesies lagi, adalah biu berjalan H.trispeculare yang ditemukan di perairan Aru Maluku. Spesies tersebut tidak masuk endemik, karena bisa ditemukan juga di pantai utara dan barat Benua Australia.

Menurut pakar hiu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fahmi, terbatasnya jumlah dan perairan yang menjadi habitat hiu berjalan di dunia, tidak lain karena hiu jenis tersebut memiliki sifat biologi yang unik dan tidak seperti spesies ikan terumbu karang lain.

“Kelompok ikan hiu ini memiliki kemampuan berenang yang terbatas dan amat tergantung pada habitat dan kedalaman tertentu. Ssehingga tidak sanggup bergerak jarak jauh dan tidak memiliki potensi sebaran yang tinggi,” ujar dia.

Fahmi menerangkan, tipe reproduksi hiu berjalan adalah dengan meletakkan telurnya pada substrat tertentu untuk kemudian menetas dan berkembang menjadi menjadi individu dewasa pada habitat yang sama.

Salah satu jenis hiu berjalan yang merupakan satwa endemik Indonesia. Foto : Conservation International
info gambar

Seluruh temuan ilmiah tersebut, kata Fahmi, akan dilaporkan kepada pemerintah daerah yang memiliki wilayah perairan tempat lima jenis hiu berjalan ada. Dengan adanya pelaporan, dia berharap ke depan perlindungan hiu berjalan bisa dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Fahmi menyebutkan, dari lima jenis hiu berjalan yang sudah ditemukan di Indonesia, baru hiu jenis Hemiscyllium freycineti yang sudah diberikan perlindungan penuh. Aturan tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang menjadi penguasa wilayah perairan tempat hiu tersebut ada.

“Sejauh ini, baru spesies Hemiscyllium freycineti yang ada di Raja Ampat yang dilindungi oleh Perda Raja Ampat Nomor 9 Tahun 2012 mengenai Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Raja Ampat,” papar dia.

Menurut Fahmi, upaya yang dilakukan Raja Ampat tersebut patut untuk diikuti oleh daerah lain yang diketahui wilayah perairannya terdapat hiu berjalan. Perlindungan penuh penting dilakukan, karena jika dibiarkan bebas, maka akan banyak yang memburunya dan itu akan memusnahkan populasinya yang sangat sedikit.

“Saat ini, kelompok hiu berjalan merupakan kelompok ikan hiu yang sering dijadikan ikan hias dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Beberapa negara maju bahkan sudah melakukan upaya budidaya spesies hiu berjalan untuk kepentingan komersial,” ungkap dia.

Dengan fakta seperti itu, Fahmi mendesak kepada Pemerintah untuk segera melakukan pengelolaan terhadap jenis hiu tersebut dan juga habitatnya. Jangan sampai, keberadaan jenis hiu tersebut ke depan justru banyak ditemukan di akuarium-akuarium ikan hias dan justru sulit ditemukan di habitat aslinya.

Daya Tarik Pariwisata

Sebagai hiu yang langka yang tidak ditemukan di perairan belahan dunia lain, hiu berjalan yang ada di Indonesia bisa menjadi aset pariwisata. Hal itu, karena keberadaan hiu tersebut biasanya ada di perairan yang dangkal yang biasa menjadi tempat wisata laut.

Victor Nikijuluw mengungkapkan, daya tarik hiu berjalan untuk pariwisata, bisa dimulai dengan memasukkannya dalam wisata snorkeling ataupun menyelam. Khusus untuk wisata snorkeling, dia menilai itu sangat cocok karena bisa menarik banyak orang, namun tetap dengan jumlah yang terbatas.

“Dengan melakukan snorkling atau berperahu di perairan dangkal, hiu berjalan akan mudah dijumpai,” tutur dia.

Akan tetapi, Victor menambahkan, karena spesies hiu berjalan mudah ditemukan, ancaman keberlanjutannya juga semakin besar. Karena itu, sebaiknya spesies tersebut tidak diganggu ketika wisatawan sedang berwisata di pesisir.

“Jangan merusak terumbu karang serta padang lamun yang merupakan habitat serta tempat mereka memijah. Kerusakan habitat dapat mengancam kelestariannya. Bila dilakukan konservasi dengan baik, maka kehadiran spesies ini akan menjadi pesona pariwisata yang unik dan meningkatkan nilai pariwisata,” tandas dia.

Menurut Victor, karena keberadaan hiu berjalan masih sangat langka, CI Indonesia secara berkala melakukan pengawasan langsung di perairan Papua Barat. Dari hasil pengawasan tersebut, didapat kesimpulan bahwa populasi Hiu Berjalan berada dalam ancaman.

“Hal itu, karena daerah sebaran hiu berjalan yang terbatas daripada perkiraan sebelumnya. Akibatnya, spesies unik ini lebih mungkin terpapar terhadap ancaman setempat,” jela dia.

Yang dimaksud ancaman setempat, Victor memaparkan, adalah seperti penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab, tumpahan minyak, peningkatan suhu, bencana seperti angin siklon dan tsunami, kerusakan pantai, pembangunan wilayah pesisir dengan cara reklamasi, serta perkembangan industri pariwisata yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Untuk diketahui, Hiu Berjalan endemik Indonesia dari jenis Hemiscyllium freycineti, ditemukan pertama kali di Raja Ampat pada 1824. Kemudian pada 2008, jenis H. henryi ditemukan di perairan Kaimana dan H. galei ditemukan di Teluk Cenderawasih. Sedangkan H. halmahera ditemukan perairan Halmahera pada 2013.

Dari hasil studi yang dilakukan CI dengan LIPI, Western Australian Museum, dan California Academy of Science terhadap sembilan spesies hiu berjalan , didapat kesimpulan bahwa daerah sebaran semuanya terbatas di wilayah cincin utara Benua Australia, Papua Nugini, Perairan Papua Barat, Halmahera, dan Aru.

Temuan yang didukung oleh Mark Erdmann dan Gerald Allen dari CI, dan Western Australian Museum ini merupakan perkembangan hasil temuan sebelumnya yang menunjukkan daerah sebaran yang luas dari bagian utara Benua Australia, Papua Nugini, hingga Seychelles di Samudera Hindia dan Pulau Solomon di Pasifik.

Sumber: Repost dari Mongabay Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini