Friedrich Silaban, Lebih Jauh dengan Arsitek Kebanggaan Indonesia

Friedrich Silaban, Lebih Jauh dengan Arsitek Kebanggaan Indonesia
info gambar utama

Semasa hidupnya, arsitek kenamaan Friedrich Silaban merancang banyak bangunan ikonik di Jakarta. Sebut saja Gedung Bank Indonesia (1958), Gedung Pola (1960-1961), Gedung BNI (1960-1961), Departmen Kejaksaan (1961), Monumen Pembebasan Irian Barat (1962), dan Markas Besar Angkatan Udara (1964).

Tak lupa Masjid Istiqlal (1955) yang membuat karier arsitek berdarah Batak ini melejit.

Lewat sebuah pameran bertajuk Friedrich Silaban di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pengunjung dapat mengenal lebih jauh sosok Friedrich Silaban. Pameran ini dengan rinci menjelaskan kisah hidup sekaligus karya Friedrich yang dijelaskan lewat sketsa asli, foto, dan benda memorabilia lain.

Alur pameran dimulai dari masa kecil Friedrich. Pria ini lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912. Friedrich akhirnya pindah ke Batavia untuk menempuh pendidikan kejuruan bangunan di Konongin Wilgemina School dalam kurun waktu 1927-1933.

Friedrich kemudian memulai karier dan membangun rumah tangga di Bogor bersama sang istri, Letty Keivits. Friedrich sendiri bertemu Letty ketika berada dalam kamp tahanan pejuang nasionalis. Saat itu Friedrich ditahan karena dianggap "dekat dengan Belanda".

Rupanya ia serius menekuni dunia arsitektur. Friedrich mengambil perkuliahan dan ujian di Aacademie voor Bouwkunst di Amsterdam dari 1949-1950. Saat kuliah ia memboyong istri dan anak-anaknya ke Belanda.

Pada 1955, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno mengadakan sayembara membuat desain maket Masjid Istiqlal. Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan.

Pembangunan Masjid Istiqlal | Kompas
info gambar

Bung Karno sebagai Ketua Dewan Juri mengumumkan nama Friedrich Silaban dengan karya. Friedrich lantas diganjar Piagam Tanda Kehormatan dan hadiah sejumlah uang dari kemenangannya tersebut. Racangan Friedrich terkenal berunsur modern pada zamannya, beradaptasi dengan iklim tropis seperti sinar matahari, hujan, dan angin. Kolom-kolom beton yang menjulang tinggi juga digambarkan Friedrich sebagai penegasan wibawa sebuah bangsa.

Yang lebih mengejutkan lagi bahwa Friedrich Silaban adalah seorang anak pendeta yang menganut Kristen Protestan, namun hasil kerja kerasnya mendesain maket Masjid Istiqlal berhasil mengalhkan arsitek-arsitek kenamaan pada masa itu.

Namun karier Friedrich lambat laun meredup, sesuai dengan perpindahan kekuasaan presiden Indonesia dan gejolak politik di Tanah Air. Banyak rancangannya yang tak rampung seperti Tugu Nasional, Menara Bung Karno, dan Teater Nasional. Hanya ada sketsa, dan tak pernah direalisasikan.

Kegalauan Friedrich mengenai kariernya yang stagnan tampak jelas dalam surat lamaran yang ditujukan kepada Alvaro Ortego, profesor lulusan Harvard menjabat sebagai penasehat di Center for Housing, Building, and Planning di PBB.

Sayangnya tak ada posisi kosong di PBB, seperti yang dilamar oleh Friedrich. Meski ia tetap berkarya, karya Friedrich pasa masa Orde Baru berada di bawah bayang-bayang kejayaan karier di masa orde lama.

Kondisi kesehatan yang kian turun memaksa Friedrich untuk beristirahat hingga akhir hayatnya di rumahnya yang berada di kawasan Bogor.

"Dear Sir, I am an architect but not an ordinary one," tulis Friedrich dalam surat lamaran bagian awal ke PBB.

Indonesia memang pernah punya arsitek tidak biasa, melainkan luar biasa. Mari melihat kisah hidup Friedrich Silaban dan karyanya sebagai pacuan serta motivasi untuk kita untuk terus berjuang dalam meraih mimpi.


Sumber: Kompas, idntimes

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini