Go-Jek Girl, Wanita Australia yang Jatuh Cinta Pada GO-JEK

Go-Jek Girl, Wanita Australia yang Jatuh Cinta Pada GO-JEK

Catherine Coyne berpura-pura menjadi pengemudi gojek untuk lomba bahasa Indonesia oleh NAILA © AustraliaPlus

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Catherine Coyne, seorang warga Australia yang pernah tinggal di Jakarta selama kurang lebih satu tahun. Saat itu ia mengikuti program relawan 'Australian Volunteers International Development' bersama dengan Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan).

Di tahun ini, Catherine menerima salah satu penghargaan lomba berbahasa Indonesia tingkat nasional di Australia, atau National Australia Indonesia Language Awards (NAILA) dengan topik pembicaraan mengenai Go-Jek.

Dalam Kompetisi NAILA, Catherine membuat sebuah video mengenai GO-JEK dalam Bahasa Indonesia, melalui video tersebut kemudian Catherine dikenal sebagai“Go-jek Girl”.

Lalu bagaimana ia bisa jatuh cinta pada ojek yang berbasis aplikasi ini?

Menurut Catherine salah satu tantangan saat ia berada di Jakarta adalah berjalan di jalanan, tak heran jika teman-teman kantornya kaget saat tiba di kantor, karena berkeringat dan terlihat lelah.

“Hingga akhirnya saya temukan Go-Jek dan mengubah hidup saya, lega sekali rasanya. Sebelumnya saya pakai ojek tapi...” kata Catherine.

Keselamatannya menjadi masalah baginya, karena ia merasa dilecehkan beberapa kali di jalanan. Ia sempat merasa tertekan untuk pergi keluar hingga akhirnya ia bertemu Go-jek! Saya mengenal mereka karena mereka tinggal di kawasan dekat rumah, jika mereka melihat saya pergi keluar berjalan kaki, mereka kemudian menawarkan tumpangan gratis!

Saat Erwin Renaldi dari ABC mewawancarainya dengan bahasa Inggris, Catherine menyisipkan beberapa ekspresi dalam bahasa Indonesia.

Dalam video itu, Anda terdengar memakai ekspresi yang tengah populer di Indonesia. Bagaimana cara belajarnya?

..di dalam bahasa Indonesia selalu ada kata-kata baru yang muncul setiap minggunya. Itulah alasannya saya suka 'bahasa gaul', yang sangat kreatif, ekspresif, dan bisa menyampaikan banyak arti dalam satu ungkapan. Saya punya halaman Facebook yang khusus soal bahasa gaul dan menyimpang kata-kata baru, juga berbagi pertanyaan dan jawaban dengan member grup. Saya belajar bahasa Indonesia di Udayana di Bali, UNPAS di Bandung, Wisma Bahasa di Jogja, dan La Trobe di Melbourne. Tetapi saya belajar bagaimana berbicara bahasa Indonesia dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman Indonesia. Menurut saya penting untuk memiliki campuran antara belajar formal dan informal, jika kita ingin memperdalam belajar bahasa.

Setelah tinggal di Jakarta dan beberapa kali pergi ke Indonesia, apakah menurut Anda ada persamaan budaya diantara Indonesia dan Australia?

Saya rasa ada sejumlah persamaan yang membuat kita menjadi nyaman dengan satu sama lain. Persamaan yang utama adalah bagaimana kita sama-sama santai. Ini terlihat jelas dari ungkapan yang sering kita ucapkan, 'Gak apa-apa' dan 'No worries'. Ketika saya pergi ke kawasan wisata di Indonesia, orang-orang sering mengatakan jika orang Australia jadi turis asing favorit mereka karena alasan ini. Menurut saya penting juga bagi kita untuk tahu perbedaan yang dimiliki satu sama lain, karena ini jadi hal yang paling menarik. Mengapa saluran YouTube milik Sacha Stevenson, How to Act Like An Indonesia sangat popular bagi bukan orang Australia? Karena menekankan sekaligus merayakan keunikan Indonesia yang membedakan dari negara-negara lainnya.

Seperti apa rasanya tinggal di kawasan gurun Australia dan apakah sulit untuk terus mempraktikan bahasa Indonesia?

Saya tinggal di Alice Springs, kota terpencil di Australia Tengah, jumlah penduduknya sekitar 28 ribu orang. Saya pindah kesini untuk bisa tinggal dengan keluarga, setelah tinggal di Jakarta dan tentu sangat berbeda dengan Ibu Kota. Lapang, ruang terbuka, langit biru, udara segara, tidak ada orang! Membuat saya terkejut tapi jadi ajang istirahat setelah hidup di kota besar. Sekarang, ada sekitar 12 orang yang tinggal di sini, dan hanya ada satu orang Jakarta, kita berteman tentunya. Saya tidak punya banyak kesempatan belajar bahasa Indonesia, jadi kemampuan saya sudah berkurang. Tapi saya coba untuk terus berhubungan dengan teman-teman saya dan untuk tahu berita-berita soal Indonesia.

Catherine Coyne sedang membonceng teman dalam salah satu adegan di videonya |  Foto: YouTube, Catherine Emily
Catherine Coyne sedang membonceng teman dalam salah satu adegan di videonya | Foto: YouTube, Catherine Emily

Kota di Indonesia mana yang menjadi favorit Anda dan mengapa?

Gue sangat suka Jakarta, tapi kalau tinggall di Jakarta pasti pusing terus! Karena saya menghabiskan banyak waktu di Denpasar di kampus seberang rumah sakit Sanglah, jadi merasa sangat terikat dengan kota itu. Saya suka persimpangan lima di Jalan Teuku Umar... Tapi favorit saya adalah Ubud. Jalur Campuhan ridge walk sangat luar biasa dan saya suka kesibukan yang berdampingan dengan rutinitas sehari-hari, seperti upacara-upacara yang indah dan berwarna. Saya juga suka yoga dan memiliki kualifikasi sebagai guru Hath yoga. Saya mengikuti pelatihannya di Ubud awal tahun lalu.


Sumber: australiaplus.com, abc.net.au

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Eksistensi Sejarah Di Tengah-Tengah Modernitas Sebelummnya

Eksistensi Sejarah Di Tengah-Tengah Modernitas

8 Juni 2020, Ojol DKI Kembali Bisa Angkut Penumpang Selanjutnya

8 Juni 2020, Ojol DKI Kembali Bisa Angkut Penumpang

Nurul Arifin
@arale

Nurul Arifin

endblogg.blogspot.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.