Diakui atau tidak, kopi adalah jenis minuman yang penting bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Meminum kopi kini telah menjadi salah satu trend di banyak kalangan, terutama generasi muda. Selain itu, komoditas kopi juga memberi nilai ekonomis yang besar bagi banyak negara penghasil, pengekspor, dan perusahaan-perusahaan pengolah dan penjual kopi siap saji.

Pekerja memetik biji kopi arabika di kebun kopi yang berada di Tritit, Kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah (Mongabay Indonesia)
Pekerja memetik biji kopi arabika di kebun kopi yang berada di Tritit, Kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah (Mongabay Indonesia)

Dikutip dari Indonesia Investment, kopi disebut sebagai “komoditi kedua yang paling banyak diperdagangkan secara legal” dalam sejarah manusia. Indonesia mendapat anugerah besar menjadi salah satu negeri penghasil kopi-kopi terbaik, terunik, dan terbesar dunia.

Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya kopi. Oleh karena itu, negara-negara yang mendominasi produksi kopi dunia berada di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Chart I : Lima Negara Produsen Kopi Terbesar di Dunia - Musim Tanaman 2016-2017 (dalam bungkus 60 kg, sumber : ico.org)

Indonesia terkenal sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia, sekaligus salah satu pengekspor kopi robusta terbesar kedua seantero dunia. Negara penghasil terbesar kopi, menurut data Organisasi Internasional Kopi, adalah Brazil, Vietnam, dan Kolombia secara berurutan. Sementara pengekspor robusta terbesar dipegang oleh Vietnam. Meski bukan yang terbesar,tapi posisi Indonesia sebagai penghasil kopi terbaik dunia tak terbantahkan.

Lima Negara Eksportir Kopi Terbesar di Dunia pada Musim 2016-2017 (dalam bungkus 60 kg, sumber : ioc.org)

Kopi Indonesia mempunyai "identitas" sesuai dengan daerah tempat kopi ditanam. Seperti Kopi Sidikalang, Kopi Lintong, Kopi Bali, Kopi Papua, atau Kopi Gayo. Kopi-kopi ini memang memiliki cita rasa berbeda, sebagai penanda beragamnya nuansa yang ditawarkan kopi-kopi nusantara.

Hal ini diakui oleh mancanegara. Salah satunya Jonathan da Silva, seorang penggiat kopi dari Brasil, seperti dikutip dari National Geographic Indonesia, mengakui cita rasa kopi Indonesia yang kaya rempah.

Kopi dan Luwak | hatacafe.com
Kopi dan Luwak | hatacafe.com

Indonesia juga memproduksi beberapa kopi-kopi spesial yang rasanya tak ditemukan di tempat lain. Di antara paling terkenal di antara kopi-kopi spesial ini adalah kopi luwak, kopi Toraja, kopi Aceh dan kopi Mandailing. Kopi luwak - mungkin merupakan jenis kopi paling terkenal karena dikenal sebagai kopi termahal di dunia. Kopi ini diekstrasi dari biji kopi yang telah melalui sistem pencernaan musang luwak Asia (Paradoxurus hermaphroditus).

Karena proses fermentasi khusus di dalam perut hewan tersebut (dan juga karena fakta luwak bisa memilih buah kopi yang paling enak) kopi ini dipercaya memiliki rasa yang lebih kaya.

Kopi Indonesia di Starbucks | Terapeak.com
Kopi Indonesia di Starbucks | Terapeak.com

Kopi Indonesia pun sejak lama menjadi menu andalan di salah satu brand coffeeshop terkenal dunia, yakni Starbuck. Data yang didapat Agrofarm menjelaskan, di era 1970-an, Indonesia telah memasok biji-biji kopi ke Starbucks, Seattle, Amerika Serikat. Sejak saat itulah Starbucks begitu lekat dengan Indonesia. Apalagi, Starbucks juga menjual biji dan bubuk kopi jenis arabika asal kawasan tertentu (single-origin), di samping kopi racikan (blend).

Kopi dari Indonesia dipasarkan dengan nama “Starbucks Sumatra”, “Starbucks Reserve Isla Flores”, serta “Starbucks Reserve West Java”. Lebih lagi, “Starbucks Sumatra” menjadi salah satu produk Starbucks terlaris di dunia.

Itulah, sesungguhnya Indonesia adalah surga keberagaman kopi dunia. Beda tempat, beda rasa, beda budaya meminum kopi. Kopi Indonesia bisa menjadi wajah bangsa yang beragam, membranding Indonesia dengan butir-butir kopi nusantara yang kaya rasa.

 Sumber : Investasi Indonesia | Tirto.id | Argofarm.co.id | ico.org 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu