Indonesia Bersiap Menyambut Bandar Udara Ramah Lingkungan Pertamanya

Indonesia Bersiap Menyambut Bandar Udara Ramah Lingkungan Pertamanya
info gambar utama

Saat ini Bandar Udara Internasional Ahmad Yani Semarang sedang direnovasi oleh PT Angkasa Pura I. Salah satu yang sedang dikerjakan saat ini adalah membangun terminal penumpang dengan konsep unik, yakni berada di atas air seolah mengapung, yang akan membuat Bandar Udara Internasional Ahmad Yani menjadi bandara pertama di Indonesia yang hadir dengan konsep tersebut.

Sejauh ini pembangunannya baru mencapai 22 persen dari total pembangunan. Diperkirakan proyek ini akan menghabiskan dana total sejumlah 2.07 triliun rupiah.

Tidak berhenti pada desain terminal penumpang yang mengapung, bandara ini juga didesain dengan tema ramah lingkungan. Konstruksi setiap terminal akan menggunakan bahan ramah lingkungan. Dan ternyata air yang mengelilingi bandara ini tidak hanya dibuat sebagai ‘pajangan’ namun juga memiliki fungsi yang mendukung tema ramah lingkungan dari bandara ini.

Bandar Udara Internasional Ahmad Yani akan menanamkan teknologi reverse osmosis untuk menyediakan air siap minum. Dengan teknologi ini air hujan dan air laut dapat langsung di proses di dalam tank bawah tanah yang diletakkan di bawah terminal bandara.

“Selain berguna untuk bahan reverse osmosis, air yang berada di bawah terminal juga membantu mengontrol level air untuk mencegah banjir di musim hujan.” Ujar Nina Adis, administrator Angkasa Pura I.

Nina Adis juga mengatakan bahwa pihak Angkasa Pura menargetkan penggunaan material berbahan kaca yang ditingkatkan. Selain dari nilai estetikanya, kaca juga memberikan ruang lebih untuk cahaya matahari dapat masuk ke terminal, hal tersebut akan berhujung pada hemat penggunaan listrik.

Penerangan jalan di bandara ini pun akan memanfaatkan solar cell sebagai sumber energinya. Masing-masing tiang lampu jalanan akan memiliki solar panel. Saat ini ada 150 solar panel di seluruh bandara, ditargetkan pemasangan tambahan hingga 280 buah solar panel.

Pejabat bandara pun akan mendaftarkan Bandara Internasional Ahmad Yani sertifikasi green building. Belum ada bandara di negeri ini yang menerima sertifikasi serupa.

Nantinya, terminal baru ini akan memiliki taman interiornya sendiri, bersama dengan hutan mangrove, yang dapat dinikmati setiap pengunjung di area luar bandara, menambah suasan ramah lingkungan yang dibawa.

Jumlah penumpang di Bandara Internasional Ahmad Yani meningkat setiap tahunnya, menuntut peluasan terminal agar dapat memuat 7 juta penumpang setiap tahunnya.

Ilustrasi terminal Bandara Internasional Ahmad Yani | Jakarta Post
info gambar

Bangunan terminal lama hanya berukuran 6708 meter persegi dan bangunan baru dibangun di atas tanah seluas 58652 meter persegi. Hampir 10 kali lipat dari luas awal.

Proyek baru ini meliputi konstruksi lahan parkir yang dapat memuat 481 buah mobil, 300 buah sepeda motor, dan 70 taksi. Sedangkan bagian apron, mampu mengakomodasi 2 wide body airplane, 13 narrow body airplane, dan 10 small body airplane. Setelah renovasi bandara ini juga akan memiliki 6 buah garbarata yang sebelumnya belum dimiliki.

Maryanto, manajer umum Angkasa Pura I mengatakan “Saat ini Bandara Internasional Ahmad Yani hanya berkapasitas untuk mengakomodasi 8 narrow body airplane saja."

Akses menuju bandara pun akan dibuat seaksesibel mungkin. Angkasa Pura I bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang mengembangkan master plan bertujuan untuk menghubungkan bandara dengan transportasi umum termasuk layanan kereta dan Bus Rapid Transit.

Namun, master plan ini belum akan dieksekusi dalam waktu dekat dan hanya akan mulai dikembangkan saat bandara selesai direnovasi.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini