Indahnya Istano Basa yang Tidak Akan Pudar Meskipun Berkali-kali Terbakar

Indahnya Istano Basa yang Tidak Akan Pudar Meskipun Berkali-kali Terbakar

Replika Istana Pagaruyung © Foto: Wikipedia

Kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia sudah tidak diragukan lagi keragaman dan keindahannya. Pada artikel ini akan dibahas sekilas mengenai salah satu budaya daerah dari Sumatera. Pulau Sumatera merupakan pulau paling ujung sebelah barat Indonesia. Mari kita berkunjung ke Sumatera Barat tepatnya Batusangkar dan berjalan sejauh 5KM dari pusat kota untuk mengunjungi Istano Basa.

Istano Basa Pagaruyuang, begitulah kira-kira masyarakat setempat menyebut tempat yang terkenal dengan sebutan Istana Pagaruyung ini. Dahulunya Istana ini merupakan tempat tinggal keluarga Raja di zaman Kerajaan Pagaruyung hingga tahun 1833 saat hancurnya kerajaan Pagaruyung.

Ternyata Istana Pagaruyung yang sekarang ini menjadi museum dan pusat atraksi wisata di Batusangkar bukanlah bangunan asli dari Istana Pagaruyung yang berdiri sejak zaman kerajaan. Hal itu dikarenakan Istana Pagaruyung beberapa kali mengalami kebakaran, yakni di tahun 1804, 1966 and 2007.

Sejak kebakaran yang terjadi di tahun 1966, Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Harun Zain melakukan peletakan batu pertama bukan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya.

Pembangunan ulang setelah kebakaran terakhir di tahun 2007 akibat tersambar petir diperkirakan menghabiskan dana fantastis sebesar 20 milyar rupiah. Wow, jadi penasaran bagaimana sebenarnya Istano Basa Pagaruyuang atau Istana Pagaruyung ini terlihat dari dalamnya.

Devenni PF membagikan foto dan cerita dari Istano Basa ini di akun indonesaga miliknya dengan judul Bertamu ke Istana Pagaruyung, mari kita simak seperti apa sih Istano Basa dari dekat.

Istana Pagaruyuang di Batusangkar, Sumatera Barat | Foto: Devenni/Indonesaga
Istana Pagaruyuang di Batusangkar, Sumatera Barat | Foto: Devenni/Indonesaga
Sebelum memasuki Istana Pagaruyuang, kita diminta untuk melepas alas kaki. Lalu kita diminta mengisi buku tamu. Hal pertama yang langsung menangkap perhatian adalah singgasana raja yang berada di tengah dan menghadap pintu masuk. Singgasananya indah dengan bermacam kain warna-warni menjuntai dari langit-langit. Kain-kain ini dapat dilihat pula pada pintu ruangan-ruangan yang berada di sisi kanan dan kiri singgasana. Ruangan ini adalah kamar untuk anggota keluarga raja. Gambar diatas adalah salah satu ruangan tersebut. | Foto: Devenni/Indonesaga
Sebelum memasuki Istana Pagaruyuang, kita diminta untuk melepas alas kaki. Lalu kita diminta mengisi buku tamu. Hal pertama yang langsung menangkap perhatian adalah singgasana raja yang berada di tengah dan menghadap pintu masuk. Singgasananya indah dengan bermacam kain warna-warni menjuntai dari langit-langit. Kain-kain ini dapat dilihat pula pada pintu ruangan-ruangan yang berada di sisi kanan dan kiri singgasana. Ruangan ini adalah kamar untuk anggota keluarga raja. Gambar diatas adalah salah satu ruangan tersebut. | Foto: Devenni/Indonesaga
Tidak hanya ruangan yang dihias cantik. Namun langit-langitnya juga tidak luput dari perhatian. Gambar diatas memotret sebagian kecil dari ornamen yang ada pada langit-langit lantai 1. | Foto: Devenni/indonesaga
Tidak hanya ruangan yang dihias cantik. Namun langit-langitnya juga tidak luput dari perhatian. Gambar diatas memotret sebagian kecil dari ornamen yang ada pada langit-langit lantai 1. | Foto: Devenni/indonesaga
Ruangan bagi para putri raja yang belum menikah. Letaknya di lantai 2. | Foto: Devenni/indonesaga
Ruangan bagi para putri raja yang belum menikah. Letaknya di lantai 2. | Foto: Devenni/indonesaga
Ornamen ukir dan lampu gantung di langit-langit lantai 3. | Foto: Devenni/indonesaga
Ornamen ukir dan lampu gantung di langit-langit lantai 3. | Foto: Devenni/indonesaga
Lantai 3 berisi harta-harta simpanan raja. Pada lantai ini, dinding dan langit-langit penuh dengan ukiran yang mendetil, rapih, dan terjag warna dan kualitas kayu ukirannya. Keseluruhan aspek ini menjadikan ukirannya tidak membosankan namun memanjakan mata. | Foto: Devenni/indonesaga
Lantai 3 berisi harta-harta simpanan raja. Pada lantai ini, dinding dan langit-langit penuh dengan ukiran yang mendetil, rapih, dan terjag warna dan kualitas kayu ukirannya. Keseluruhan aspek ini menjadikan ukirannya tidak membosankan namun memanjakan mata. | Foto: Devenni/indonesaga
Menikmati alam yang membentang di belakang istana dari jendela lantai 3. | Foto: Devenni/indonesaga
Menikmati alam yang membentang di belakang istana dari jendela lantai 3. | Foto: Devenni/indonesaga


Sumber: Wikipedia | Indonesaga

Pilih BanggaBangga66%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi3%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Calon Warisan Budaya UNESCO Dari Indonesia Sebelummnya

Calon Warisan Budaya UNESCO Dari Indonesia

Dikunjungi Menteri Pariwisata, Pulau Rupat Bakal Jadi Destinasi Wisata Unggul Selanjutnya

Dikunjungi Menteri Pariwisata, Pulau Rupat Bakal Jadi Destinasi Wisata Unggul

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.