Berdaun Raksasa! Tanaman unik Ini Ditemukan di Sumatera Utara

Berdaun Raksasa! Tanaman unik Ini Ditemukan di Sumatera Utara
info gambar utama

Saat mendengar kata raksasa dalam flora, kawan GNFI biasanya segera membayangkan Bunga Raflesia Arnoldi yang ditemukan di Bengkulu. Benarkan? Tapi Anda perlu tahu bahwa ada suatu jenis flora yang memiliki daun ukuran raksasa dengan segala detail khasnya.

Tumbuhan Daun Sang yang mempunyai nama ilmiah Johannestijsmania altifrons ini mempunyai ukuran daun yang raksasa, yaitu mencapai 6 meter. Lebar daunnya saja mencapai 1 meter. Namun, hanya sedikit saja yang mengetahui keberadaan tanaman unik daun sang ini.

Daun Sang diklaim sebagai tanaman endemik Sumatera, Indonesia yang hanya bisa ditemui di kawasan Aras Napal, Besitang. Sebuah wilayah di Kabupaten Langkat yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Namun Daun sang yang unik ini juga ternyata bisa ditemui di Thailand, Malaysia, Serawak, Kalimantan bagian barat dan Sumatera, Indonesia.

Daun Sang ditemukan oleh seorang profesor botani asal Belanda yaitu Prof. Teijsman. Tanaman khas ini ditemukan di Sumatera awal abad 19. Tanaman ini merupakan salah satu dari 4 spesies anggota genus Johannestijsmania yang tumbuh hanya di kawasan Asia Tenggara. Flora ini merupakan anggota famili Arecaceae (Pinang-pinangan atau Palem). Tanaman Daun Sang yang mempunyai nama ilmiah Johannestijsmania altifrons, disebut juga sebagai Daun Payung Sal, Sal (Malaysia), Bang Soon (Thailand), Joey Palm, Diamond Joey Palm, Umbrella Leaf Palm (Inggris).

https://rynari.wordpress.com
info gambar

Tumbuhan ini memiliki daun yang langsung menyembul dari tanah, karena batang tanaman unik ini hanya pendek dan biasanya tersembunyi di tanah dan bergerigi di tepinya. Daun sang termasuk tumbuhan yang tidak tahan terhadap sinar matahari langsung sehingga tanaman unik ini lebih sering ditemukan hidup di bawah naungan pepohonan dan hidup secara berkelompok membentuk rumpun.

Dahulu masyarakat setempat memanfaatkan daun sang yang unik sebagai atap rumah. Bahkan hingga sekarang banyak masyarakat di Besitang, Langkat yang menggunakan daun sang untuk membuat atap gubuk di ladang-ladangnya.

Sayangnya, Tanaman ini sekarang masuk dalam daftar tanaman yang hampir punah. Pembukaan lahan, illegal lodging, dan pembakaran hutan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi keberlangsungan makhluk hidup di dalamnya, termasuk Daun Sang. Kondisi Daun Sang yang tidak tahan panas memperparah perkembangbiakannya, karena semakin menipisnya pepohonan rindang yang berperan melindunginya dari sengatan matahari.

Sumber : Kaskus, Alamendah

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini