Resmi dibuka di International Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD), Tangerang Selatan, Bali Democracy Forum 2017 dihadiri oleh ratusan peserta dari 103 negara. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, perwakilan organisasi internasional dan diplomat negara-negara dunia tersebut hadir dalam ajang satu dekade forum demokrasi tingkat dunia yang diadakan sejak tahun 2007. 

Semula sesuai namanya, Bali Democracy Forum 2017 diagendakan akan dilaksanakan di Pulau Dewata Bali, namun akibat aktifitas Gunung Agung yang beberapa kali erupsi mengakibatkan acara harus dipindahkan sesuai instruksi wakil presiden RI Jusuf Kalla. Manurut wapres, dalam pidato pembukaannya perpindahan ini selain untuk memberikan kenyamanan pada para delegasi, juga untuk memberi pengertian bahwa Indonesia juga bukan hanya Bali. 

"Indonesia memiliki 17.000 pulau dan 3.000 pulau berpenduduk dengan penduduk yang sangat besar. Indonesia berharap acara dapat berjalan aman dan teratur. Itulah mengapa diprioritaskan keamanan dibandingkan menikmati Bali setelah forum usai," jelasnya. 

Wakil Presiden, Jusuf Kalla kemudian menjelaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dan sejarah yang panjang terkait dengan demokrasi. Mulai dari demokrasi parlementer hingga demokrasi terbuka. Proses demokrasi yang dilalui Indonesia di masa lalu tidak pernah lepas dari kecenderungan otoriter setelah beberapa tahun demokrasi berjalan. 

Pembukaan resmi Bali Democracy Forum 2017 dengan membunyikan alat musik tradisional (Foto: Bagus DR/GNFI)
Pembukaan resmi Bali Democracy Forum 2017 dengan membunyikan alat musik tradisional (Foto: Bagus DR/GNFI)

"Belajar dari sejarah, Indonesia menetapkan kenapa presiden untuk Indonesia hanya dua kali, paling maksimum sepuluh tahun. Karena presiden yang cenderung berkuasa lebih lama, akan berubah dari demokrasi menjadi otoritarian," jelas wapres.

Pun meski demikian, wakil presiden mengungkapkan bahwa demokrasi Indonesia tidak bisa digandakan untuk negara lain. Menurutnya demokrasi harus disesuaikan dengan gaya hidup didaerahnya masing-masing dan demokrasi dipandang Indonesia sebagai alat dan bukan tujuan. 

"Demokrasi Indonesia berbeda dengan Singapura, berbeda dengan Malaysia, dan berbeda dengan banyak negara lainnya tetapi tetap ujungnya adalah suatu demokrasi yang menghasilkan kemakmuran dari bangsa-bangsa yang ada," jelas Jusuf Kalla. 

Oleh karena itu, Ia mengajak setiap hadirin untuk saling berbagi pengalaman dan belajar bersama dalam berdemokrasi di forum ini. 

Diakhir sambutannya Jusuf Kalla menjelaskan bahwa toleransi adalah aspek penting dalam demokrasi. Tanpa toleransi demokrasi akan menimbulkan masalah. Itu sebabnya demokrasi dengan toleransi diharapkan akan tercipta kemakmuran, kesejahteraan dan kehidupan yang berdampingan. 

"Semoga forum ini, seminar ini akan memberikan hal yang baik bagi kita semua," tutupnya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu