Selain tempat wisata yang indah dan memukau, pulau sabang juga menjadi destinasi bagi pecinta kuliner. Banyak makanan makanan khas yang berasal dari sabang ini.

Makanan disini memanjakan bagi para wisatawan wisatawan yang ingin berkunjung kesini. Tidak hanya makanan namun disana juga terdapat kedai kopi yang khas dari daerah tersebut.

Berikut beberapa tempat kuliner yang bisa memanjakan lidah anda.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 (© img.okezone.com)

1. Kedai Kopi Pantai Jaya


Kopi Aceh memang dikenal nikmat. Pecinta kopi tentu tak akan melewatkan kesempatan untuk menyicipi kopi ini di daerah asalnya. Wisatawan tentu tak perlu menyeberang ke Aceh demi segelas kopi. Sabang juga punya tempat asyik untuk menikmati kopi.

 Aroma kopi tak begitu terasa saat menginjakkan kaki di Kedai Kopi Pantai Jaya. Kedai ini terletak di Ie Muelee, kota Sabang. Sang pemilik, Sofian Zakaria sibuk meladeni pelanggan. Tangannya lincah memainkan saringan panjang berwarna putih, meletakkannya pada wadah silinder besi, menyiapkan gelas kemudian menuang kopi melalui saringan.

 "Kedai buka dari tahun 1980, dari zaman kakek saya dulu," tutur Sofian pada CNNIndonesia.com, Rabu (30/11). Ia bercerita bahwa biji kopi dipanggang sendiri. Hasil tumbukan mesinnya pun terbilang kasar karena jika terlalu halus, proses penyaringan bisa memakan waktu lama. Saat kopi jadi, aromanya sama sekali tak sesedap kopi Aceh biasanya. Sedikit nutty atau mirip kacang tapi samar-samar. Namun, sungguh aroma hanya tipuan. Pasalnya, rasanya begitu 'mengena' di lidah. 

 Kedai yang buka mulai pukul 06.00 - 21.00 WIB ini menyediakan tiga jenis kopi, yakni kopi hitam, kopi susu dan kopi sanger. Kopi sanger mirip dengan kopi susu, hanya saja ada tambahan gula selain susu tentunya. Jika menginginkan kopi lain, kedai menyediakan kopi sachet. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 (© http://www.batamliciouz.com)

2. Mi Sedap

Jangan salah sangka, karena mi sedap di sini bukan mengacu pada merk mi instan. Mi sedap merupakan warung mi yang terletak di Jalan Perdagangan, kota Sabang. Kedai ini selalu ramai apalagi saat hari raya.

 Sembari menyiapkan mi rebus, Thomas Kurniawan bercerita bahwa warung ini berdiri sejak zaman kakeknya dulu. Ia sampai tak tahu persis tahun berapa. Thomas hanya ingat dia mulai ikut berjualan sejak usia 30 tahun. Mi ia buat dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan mesin. Sekali membuat mi, ia menghabiskan 2 karung atau 50 kilogram tepung terigu. Jam buka warung mulai pukul 08.30 - 12.00 WIB dan pukul 19.00-22.00 WIB. Hari Minggu libur atau kadang ia hanya buka di malam hari. 

 "Mi tanpa pengawet. Buatnya hanya pakai tepung dan telur," katanya.

Kenampakan mi tampak biasa. Mi berwarna putih polos, plus taburan daging ikan olahan dan seledri. Rasa gurih kaldu ayam begitu terasa. Mi rebus begitu pas dinikmati di tengah dinginnya kota Sabang setelah diguyur hujan. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 (© http://4.bp.blogspot.com)

3. Rujak 0 Kilometer

 Destinasi wisata biasanya bersanding dengan wisata kuliner. Jika mampir ke tugu 0 Kilometer, tak ada salahnya menyicipi rujak di sana. Mungkin rujak ini pun bisa ditemui di tempat lain, tapi tetap saja, suasana juga membuat rujak terasa nikmat.

 Buah-buahan yang dipakai pun tak berbeda dengan rujak pada umumnya, hanya saja yang membedakan adalah sambalnya. Mengintip proses pembuatan sambal, sang penjual menambah buah rumbia. Rasanya agak sepat, tapi begitu dicampur dengan gula aren serta bumbu sambal rujak, rasanya jadi berbeda. 

 Selain warnanya jadi lebih gelap, rasa sambal rujak jadi sedikit mirip kecap. Suasana 0 Kilometer, apalagi jika dikunjungi saat siang, bakal menambah nikmat rujak. Mungkin pengunjung juga bisa berbagi dengan monyet-monyet yang kadang muncul dari pepohonan. 


Sumber: CNN Indonesia | Detik.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu