Hampir semua orang mengetahui bahwa pertemuan para pemimpin negara di dunia yang di dominasi negara-negara kaya yaitu G-20 adalah pertemuan yang amat bergengsi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri pada Juli 2017 lalu menghadiri  petemuan bergengsi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Hamburg Jerman.

Forum pertemuan para pemimpin 20 negara atau G-20 itu sebenarnya di mulai pada tahun 1999 di Jerman, namun masyarakat internasional baru menganggap pertemuan itu penting ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah pertemuan G-20 di Washington untuk membicarakan upaya negara-negara yang tergabung di G-20 itu menyelesaikan masalah-masalah ekonomi global. Negara-negara yang tergabung di G-20 ini mempunyai peran dan pengaruh penting di arena global karena menguasai 89% perekonomian dunia; karena itu wajar mereka harus memiliki tanggung jawab manakala perekonomian dunia mengalami kemunduran.

Indonesia sendiri di beri kehormatan bergabung menjadi anggota G-20 ini pada tahun 2008 dan sebagai satu-satunya negara ASEAN yang menjadi aggota G-20. Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pernah berpendapat bahwa forum G-20 ini bukan hanya forum ekonomi tapi juga forum Peradaban karena beberapa negara anggotanya adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Turki, Saudi Arabia dan Indonesia. Sehingga Forum G-20 ini adalah forum Kebinekaan peradaban dunia. Bagi Indonesia sendiri forum ini bisa digunakan sebagai jembatan untuk mempertemukan kemajemukan peradaban dan juga sebagai ujian untuk benar-benar melaksanakan politik yang bebas aktif.

Tentu ada pertanyaan apa alasan Indonesia dimasukkan sebagai anggota G-20, sementara Malaysia atau Thailand tidak. Pertama, harus diakui bahwa Indonesia adalah negara besar karena itu layak Indonesia memiliki hak khusus untuk menjadi anggota; kedua Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia setelah Cina, Amerika Serikat dan India. Jumlah penduduk yang besar ini menggambarkan potensi pasar yang besar bagi produk-produk dunia; ketiga, negeri ini memiliki penduduk yang mayoritasnya beragama Islam. Karena itu Indonesia dapat menjalankan perannya sebagai jembatan antara peradaban, khususnya dapat menunjukkan kepada peradaban barat bahwa Islam itu compatible dengan demokrasi dan dapat menjadi referensi bagi negara-negara berkembang lainnya; keempat, Indonesia memiliki masyarakat yang majemuk, bersuku-suku dan penganut agama-agama penting di dunia, juga bisa menjadi contoh negara lain bagaimana masyarakat yang majemuk itu bisa hidup berdampingan; dan kelima, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang tinggi, baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusia nya. Bonus Demografi yang dialami Indonesia dimana jumlah penduduk usia produktif tinggi dan kelas menengahnya mulai tumbuh pesat menunjukkan pada dunia begitu besar nya potensi yang dimilikinya.

Selain itu posisi Indonesia di G-20 dapat dipakai untuk mengembangkan jaringan diplomatik internasional sekaligus membantu ketertiban dunia seperti yang di amanatkan UUD 45. Mantan Menlu Marty Natalegawa mmiliki obsesi menciptakan kondisi dimana Indonesia secara serius diperhatikan sebagai suatu negara yang memiliki peran dan kepentingan global.

Jadi perlu diingat bahwa saat ini bicara tentang posisi Indonesia itu bukan hanya posisi di lingkup ASEAN tapi sudah di level dunia. Mindset seperti ini harus tertanam di jiwa generasi muda bahwa negerinya itu sudah memiliki peran global bukan lokal. Mindset pemuda yang hanya berfikir lokal akan menjadikan mereka minder atau rendah diri. Bukankah Presiden RI pertama Soekarno atau yang lebih dikenal dengan Bung Karno pernah berteriak lantang bahwa “Kita Bukan Bangsa Coolie”,atau persisnya: “bangsa Indonesia jangan mau menjadi “bangsa kuli” dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain (a nation of coolies and a coolie amongst nations).

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu