Jaranan: Sejarah dan Keunikannya

Jaranan: Sejarah dan Keunikannya

Para penari jaranan sedang unjuk kebolehan © Twitter.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Jaranan jaranan jarane jaran Teji

Jaranan jaranan jarane jaran Teji

Sing numpak Mas Ngabehi sing ngiring para abdi

Jrek jrek nong jrek jrek gung jrek e jrek turut lurung

Itulah penggalan berjudul jaranan. Jaranan sendiri merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kediri. Meskipun berasal dari Kediri, nyatanya kesenian ini juga terkenal di beberapa kota lain di Jawa Timur, seperti Ponorogo, Tulungagung, Nganjuk, dan Banyuwangi. Seni jaranan dikatakan berasal dari Kediri karena merunut pada sejarahnya. Ada banyak versi tentang sejarah seni jaranan. Salah satu yang berkembang di masyarakat ialah tentang pernikahan Dewi Sanggalangit dengan Klana Sewandana.

Pada 1041 Kerajaan Kahuripan terbelah menjadi 2, yakni Kerajaan Jenggala di bagian timur dan Kerajaan Panjalu yang selanjutnya disebut Kediri di bagian barat. Adalah Dewi Sanggalangit, putri Kerajaan Panjalu yang memiliki wajah rupawan. Kecantikan Dewi Sanggalangit membuat beberapa pria ingin meminangnya menjadi istri. Singkat cerita Klana Sewandana dari Wengkerlah yang pada akhirnya terpilih menjadi suami Dewi Sanggalangit. Pada saat iring-iringan temanten dari Kerajaan Panjalu ke Wengker keduanya diarak oleh pajurit kerajaan yang menunggang kuda serta pemusik yang memainkan alat musik yang terbuat dari besi dan bambu.

Untuk mengenang pernikahan Dewi Sanggalangit dan Klana Sewandana lantas terciptalah seni jaranan. Disebut jaranan karena dalam kesenian ini para penari menggunakan properti berupa jaran (kuda) buatan dari anyaman bambu yang juga dilengkapai dengan pecut. Musik pengiringnya ialah gamelan. Para penari yang mengenakan jaran buatan melambangkan para prajurit Kerajaan Jenggala yang menaiki kuda ketika iring-iringan temanten, sedangkan mereka yang memainkan gamelan melambangkan para pemusik yang memainkan alat musik dari besi.

Momen yang paling dinanti sekaligus yang menjadi keunikan dari seni jaranan ialah ketika para penari kesurupan lantas mereka menari tanpa sadarkan diri. Hal yang lebih wow adalah ketika mereka melakukan hal ekstrim, seperti memakan beling. Para penari bisa kesurupan karena memang roh-roh halus “sengaja” didatangkan pada saat pertunjukkan jaranan. Selain sebagai sarana hiburan, seni jaranan juga dijadikan alat oleh masyarakat setempat untuk berkomunikasi dengan para leluhur mereka. Adalah gambuh, orang yang bertugas memanggil roh-roh leluhur untuk kemudian masuk ke raga para penari. Gambuh jugalah yang nantinya menyembuhkan para penari dari kesurupan.

Bereaksi: Tingkah seorang pemain jaranan yang mulai kerasukan arwah © misterjogja.com
Bereaksi: Tingkah seorang penari jaranan yang mulai kerasukan arwah © misterjogja.com
Berasa lezat: Karena sudah kesurupan melahap lampu pun tak ubahnya melahap nasi goreng. Sama-sama lezat © pinterest.com
Berasa lezat: Karena sudah kesurupan melahap lampu pun tak ubahnya melahap nasi goreng. Sama-sama lezat © pinterest.com

Mengikuti perkembangan zaman, kini ada pertunjukkan seni jaranan yang memasukkan unsur modern di dalamnya. Walaupun ada unsur modern, tetap saja tidak meninggalkan hakekat aslinya. Jenis pertunjukkan seni jaranan tersebut ialah jaranan santerewe. Dalam pertunjukkannya musik tradisional dipadupadankan dengan musik dangdut. Adanya musik dangdut inilah yang membuat masyarakat semakin tertarik untuk menonton.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga55%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli18%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau6%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
5 Tempat Wisata Terpopuler Di Kota Tomohon Sebelummnya

5 Tempat Wisata Terpopuler Di Kota Tomohon

Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta Selanjutnya

Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta

Laras Prameswari
@laras_prameswari31

Laras Prameswari

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.