Soegija: Ya Uskup, Ya Pahlawan

Soegija: Ya Uskup, Ya Pahlawan
info gambar utama

Mungkin banyak di antara kita yang heran ketika membaca judul di atas sambil membatin, sejak kapan ada pahlawan bernama Soegija? Well, sosok yang bernama lengkap Albertus Soegijapranata ini memang tidak seterkenal pahlawan-pahlawan lain. Katakanlah Soekarno, Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro, dll. Namun, sumbangsihnya terhadap Indonesia pada masa penjajahan dan sesudahnya tidak dapat dipandang sebelah mata. 26 Juli 1963, selang 4 hari setelah tanggal kematiannya Soekarno memberinya gelar pahlawan nasional. Lantas, seperti apa perjuangan yang dilakukan Soegija yang khas dengan tagline 100% Katolik 100% Indonesia ini? Berikut ulasannya.

Warga negara Indonesia pertama yang diangkat menjadi uskup. Itulah Soegija. Pada 1960 ia resmi menjabat sebagai uskup agung Semarang. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi uskup Soegija bahkan tidak mengenal agama Katolik sebab ia dilahirkan dalam keluarga yang memeluk agama Islam. Pertemuan Soegija dengan Pastor Pater Van Lithlah yang membukakan jalannya sebagai penganut agama Katolik. Menyetujui permintaan Van Lith, Soegija belajar di sebuah sekolah binaan para pastor Jesuit, yakni Kolese Xaverius yang berlokasi di Muntilan. Sekian lama menuntut ilmu di sekolah tersebut Soegija tertarik dengan agama Katolik dan secara tekun mempelajarinya. Hingga pada 1931 ia ditahbiskan menjadi pastor dan pada 1940 ditahbiskan menjadi vikaris apostolik yang bertugas di vikariat apostolik Semarang.

Tahun 1942 Jepang mulai menduduki wilayah Indonesia, tidak terkecuali Semarang. Banyak bangunan disita. Banyak warga diculik. Soegija tidak tinggal diam. Ia memang tidak ikut akat senjata melawan pasukan Jepang, melainkan berjuang dengan cara lain, yakni dengan memperhatikan kebutuhan rakyat, terutama dalam hal pangan. Dan meski dirinya seorang romo, bukan hanya rakyat Katolik yang ia perhatikan, melainkan seluruh rakyat. Mengutip dari film Soegija (2012) besutan Garin Nugroho, Soegija memberitahu Pak Lurah yang warganya bertugas memasak makanan bagi para pastor interniran (pastor yang tinggal di pengasingan). “Bagikan makanan lebih dulu untuk penduduk. Jika rakyat kenyang, biar para imam yang terakhir merasa kenyang. Jika rakyat lapar, biar para imam yang pertama merasa lapar,” tuturnya. Soegija juga memberi perhatian khusus kepada para warga yang tinggal di pengungsian dengan selalu memastikan bahwa kebutuhan para warga di sana terpenuhi dengan baik.

Soegija tengah berpidato di hadapan rakyat Indonesia © Sesawi.net
info gambar
Kisah perjuangan Soegija menginspirasi sutradara Garin Nugroho untuk mengangkatnya dalam sebuah film © Wordpress.com
info gambar


Bung Karno dan Bung Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sayangnya Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Di Semarang, misalnya masih banyak tentara Jepang yang berkeliaran. Rakyat masih menderita. Merasa tidak mampu mengatasi kondisi tersebut seorang diri, Soegija lantas meminta bantuan kepada pemerintah pusat dengan menulis surat kepada Sutan Sjahrir, perdana menteri kala itu. Dalam suratnya Soegija menuangkan gagasannya tentang pembentukan pemerintahan daerah di Semarang dan memohon bantuan pemerintah pusat untuk mewujudkannya. Menurut Soegija pembentukan pemerintahan daerah ini penting dan harus segera dilaksanakan demi mengatasi penderitaan yang dialami rakyat. Permintaan Soegija terkabul.

Soegija juga berhasil memberlakukan gencatan senjata antara Sekutu dan Jepang. Pada waktu itu Sekutu yang telah berhasil melumpuhkan Jepang dengan membom atom kedua kotanya hendak melucuti senjata tentara Jepang yang ada di Semarang. Ketika mereka tiba kondisi Semarang luluh lantak sebab baru saja terjadi pertempuran 5 hari antara rakyat Indonesia dan tentara Jepang. Tidak ingin kondisi tersebut diperparah dengan penyerangan Sekutu terhadap Jepang, Soegija lantas berunding dengan Sekutu dan Jepang meminta kedua pasukan itu untuk tidak bertempur satu sama lain alias untuk melakukan gencatan senjata.

Setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, ibukota Indonesia pindah ke Yogyakarta. Memperlihatkan dukungan bagi negara, Soegija pun ikut pindah ke Yogyakarta dan menjalani hari-harinya sebagai vikaris di sana. Dua tahun berturut-turut sesudahnya, yakni pada 1947-1948 lagi-lagi Indonesia diserang oleh Belanda yang pada dasarnya belum bersedia mengakui kedaulatan Indonesia. Pasukan Belanda melancarkan serangannya dalam sebuah operasi yang dikenal dengan nama agresi militer.

Yogyakarta tak luput dari agresi militer ini. Dan seperti yang sudah-sudah Soegija ikut berjuang. Lagi-lagi tidak dengan angkat senjata, melainkan dengan menyediakan tempat bagi para pengungsi beserta dengan kebutuhan mereka yang lain. “Jangan layani saya. Layani mereka,” demikian yang dikatakan Soegija kepada petugas seperti yang ditampilkan dalam film Soegija (2012). Ini menunjukkan bahwa Soegija berkenan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ia pun tak keberatan untuk rutin mengunjungi tempat pengungsian, walaupun sebenarnya kondisi kesehatannya kurang baik. Soegija rela mengorbankan kondisi kesehatannya demi menghibur dan memberi kekuatan kepada para pengungsi.

Cinta rakyat: Salah satu adegan dalam film Soegija yang menunjukkan kala Soegija mengunjungi para warga lansia © Raditherapy.com
info gambar

Selain memberi perhatian penuh kepada para pengungsi, Soegija juga berjuang melalui tulisan. Dalam tulisannya ia menceritakan bagaimana kejinya perbuatan Belanda selama agresi militer di mana Belanda tidak pernah putus asa untuk bisa menguasai Indonesia. Tulisan ini ia kirim ke Amerika Serikat dan diterbitkan di majalah Commonwealth. Dampak dari apa yang ditulis Soegija ini sungguh besar. Belanda mendapat tekanan internasional dari masyarakat yang membaca tulisan Soegija dan karena tidak tahan dengan tekanan tersebut, Belanda pada akhirnya bersedia duduk dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Hasil dari konferensi yang berlangsung pada 1949 di Den Haag tersebut ialah Belanda menyerahkan kedaulatan atas Indonesia. Sejak itu Belanda angkat kaki dari Indonesia dan rakyat terbebas dari penjajahan bangsa asing.

Memang benar bahwa tidak ada lagi bangsa asing yang menjajah Indonesia. Namun, apakah Indonesia sudah benar-benar terbebas dari penjajahan? Tidak. Masih ada penjajahan dalam bentuk lain, yaitu paham komunisme. Soegija kembali tidak tinggal diam menghadapi serangan para komunis. Ia melawan dengan cara membentuk kelompok yang berasaskan nilai-nilai Pancasila yang dikenal dengan nama kelompok buruh Pancasila. Kelompok tersebut terdiri dari warga Katolik dan non-Katolik. Ini bukan kali pertama Soegija mengikutsertakan umat Katolik dalam perjuangannya. Setahun setelah agresi militer Belanda II, yakni pada 1949 Soegija mengadakan kongres umat Katolik seluruh Indonesia. Kongres tersebut berhasil mempersatukan berbagai partai Katolik yang ada menjadi Partai Katolik Indonesia.

Sibuk berjuang bagi bangsa dan negara tidak membuat Soegija lupa dengan tugasnya sebagai gembala umat Katolik. Ia selalu mengupayakan agar anak-anak Katolik memperoleh pendidikan yang baik. Pesan yang selalu disampaikan Soegija kepada siswa-siswi Katolik ialah bahwa mereka tidak boleh hanya menjadi umat Katolik yang baik, melainkan juga harus bisa menjadi warga negara yang baik. Soegija menekankan agar mereka tidak hanya mencari ilmu di sekolah, tetapi juga di luar lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, atas jasa Soegija pula, kini Bahasa Indonesia dan bahasa daerah dapat dipergunakan dalam misa.

Soegija wafat pada 22 Juli 1963 ketika berada di Belanda. Ia mengalami serangan jantung sesaat sebelum wafat. Taman Makan Pahlawan Giri Tunggal di Semarang adalah tempat di mana ia dikebumikan. Selama ini nama Soegija memang tidak pernah tertulis di buku-buku sejarah. Jadi, wajar jika banyak di antara kita yang tidak tahu siapa dia. Namun, setelah membaca kisah di atas kawan tentu paham, kan mengapa pada akhirnya Soegija diberi gelar pahlawan nasional? Soegija memang tidak bertempur secara fisik. Ia memilih bertempur secara”halus” yang mana pada akhirnya membawa dampak bagi kedaulatan Indonesia.

Satu hal yang dapat kita pelajari dari sosok Soegija adalah meskipun ia adalah seorang pemimpin umat Katolik, ia tidak hanya berkutat dengan tugas-tugas gerejawi. Soegija tidak lupa akan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia. Soegija membuktikan dirinya sebagai umat Katolik yang baik dengan ikut berjuang bagi kemerdekaan Indonesia. Berkat jasa-jasanya kini nama Soegija diabadikan sebagai nama universitas di Semarang.

Tempat ziarah: Para peziarah berfoto mengelilingi makam Soegija © News.unika.ac.id
info gambar
Tampak depan Universitas Katolik Soegijpranata © Static.panoramio.com
info gambar


“Kemanusiaan itu satu. Bangsa manusia itu satu. Kendati berbeda merupakan satu keluarga besar.”

“Kalau mau jadi politikus harus punya mental politik. Seorang politikus yang tidak punya mental politik hanya akan memikirkan kekuasaan dan ujung-ujungnya menjadi benalu negara.”

“Kita harus mengasihi gereja dan dengan begitu kita mengasihi negara. Sebagai orang Katolik yang baik mestinya kita juga patriot yang baik. 100% republik sebab kita merasa 100% Katolik.”


Sumber: kaskus.co.id dan film Soegija (2012)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini