NusantaRun Chapter 5: Berlari Sejauh 127,9 Kilometer Demi Memajukan Pendidikan Indonesia!

NusantaRun Chapter 5:  Berlari Sejauh 127,9 Kilometer Demi Memajukan Pendidikan Indonesia!
info gambar utama

Oleh: Mahfud Achyar

“Manusia-manusia kuat itu kita. Jiwa-jiwa yang kuat itu kita. Manusia-manusia kuat itu kita. Jiwa-jiwa yang kuat itu kita.” – Tulus (Manusia Kuat, 2016).

Lagu Tulus yang berjudul “Manusia Kuat” menjadi lagu pengiring ketika para pelari NusantaRun Chapter 5 memasuki finish line yang berlokasi di Telaga Cebong, desa Sembungan, Dieng, Jawa Tengah.

Saat itu Minggu pagi, (17/12/2017), kawasan Telaga Cebong dikepung kabut tipis. Udara pagi di desa Sembungan masih terasa dingin. Betapa tidak, desa Sembungan dinobatkan sebagai “Desa Tertinggi di Pulau Jawa” karena berada di atas ketinggian 2.306 mdpl.

Orang-orang berkumpul di Telaga Cebong dengan penuh antusias dan penuh harap. Mereka tidak sabar melihat orang-orang terkasih memasuki finish line. Mereka, para pelari, memang layak untuk ditunggu karena mereka telah berlari berpuluh-puluh kilo lamanya dengan medan yang menantang: tanjakan, tikungan, dan turunan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Apa rasanya berlari sejauh 127,9 kilometer (full course) dan 66.6 kilometer (half course)? Lelah. Sungguh melelahkan! Namun rasa lelah yang menggelayut di kaki seakan sirna ketika para pelari mulai memasuki finish line.

Wajah mereka bercerita dalam banyak bahasa. Ada pelari yang meneteskan air mata, ada pelari yang menyunggingkan senyuman terbaik, dan ada pula pelari yang memasang ekspresi kaget—seakan ia masih belum percaya bahwa telah berhasil menjadi NusantaRun finisher.

---

Perjalanan panjang para pelari NusantaRun Chapter 5 dimulai pada Jumat malam, pukul 22.00 WIB di halaman kantor Bupati Banyumas.

97 pelari dari berbagai daerah di Indonesia terdaftar sebagai pelari full course yang berlari sejauh 127,9 kilometer dengan melewai 10 checkpoint spot yang tersebar di berbagai wilayah di Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, dan berakhir di Dieng.

Sementara itu, 127 para pelari half course baru akan berlari pada checkpoint 5, tepatnya di halaman kantor Bupati Banjarnegara. Berbeda dengan pelari full course yang melewati 10 checkpoint spot, pelari half course hanya melewati 5 checkpoint spot.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Kendati jarak yang ditempuh antara pelari full course dan half course berbeda. Namun, kedua kategori tersebut mengemban misi yang sama yaitu menghimpun donasi yang nantinya akan digunakan untuk program pendidikan, khususnya untuk program peningkatan kapasitas guru-guru yang ada di Dieng dan sekitarnya.

Jika pada umumnya event lari merupakan wadah kompetisi antarpelari untuk memperebutkan podium juara dan medali, maka NusantRun mengusung konsep yang berbeda yaitu charity run.

Seperti yang dilansir pada laman resmi NusantaRun yaitu www.nusantarun.com, NusantaRun merupakan sebuah running movement di mana kecintaan terhadap olahraga lari bertemu dengan jiwa sosial sebagai wujud cinta terhadap Indonesia.

Tahun 2017 menjadi tahun ke-5 penyelenggaraan event NusantaRun. Jika kilas balik ke belakang, NusantaRun memulai perjalanan dengan rute Jakarta-Bogor dengan jarak 53.5 kilometer, kemudian dilanjutkan rute Bogor-Bandung dengan jarak 118 kilometer, masih berlanjut Bandung-Cirebon dengan jarak 135 kilometer, dan pada tahun lalu Cirebon-Purwokerto dengan jarak 145 kilometer.

Pada tahun 2016, NusantaRun berhasil menghimpun dana sebesar 2 miliar rupiah. Dana tersebut digunakan untuk program pembangunan SMP Intan Permata di Purwokerto serta program pengembangan kualitas guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Untuk tahun ini, NusantaRun kembali menghimpun dana dengan target 2 miliar rupiah. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk program peningkatan kapasitas guru dengan menggandeng Yayasan IOA (Indonesian Overseas Alumni).

Program yang akan dijalankan antara lain program kepemimpinan transformasional, pembelajaran sains kreatif, pembelajaran matematika yang mudah dan menyenangkan, serta program penguatan pendidikan karakter siswa.

Sebagai informasi, Yayasan IOA berdiri pada tahun 2008 untuk mendukung pendidikan di Indonesia. IOA percaya bahwa guru merupakan agen perubahan terdepan di masyarakat.

“Para guru harus mengembangkan kecakapan dan pengalaman yang dibutuhkan. Untuk itu, para guru memerlukan dukungan untuk berinovasi dan membuat perubahan. IOA fokus pada pengembangan dan peningkatan kapasitas guru tingkat Sekolah Dasar. Kualitas guru menjadi salah satu dari sekian banyak tantangan yang dihadapi di dunia pendidikan tanah air. Mereka berperan sebagai peletak dan pembangun dasar keterampilan serta karakter siswanya sebagai penurus bangsa,” tulis IOA pada laman resminya www.ioa.or.id.

Menyoal tentang kualitas pendidikan di Indonesia, UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 melansir data yang menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia hanya menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Sedangkan komponen penting dalam pendidikan yaitu guru menempati urutan ke-14 dan 14 negara berkembang di dunia. (Sumber: www.detik.com, 24 November 2017).

Jika dilihat dalam skala yang lebih kecil, hasil Uji Kompetensi Guru di kecamatan Kejajar dan Batur, Dieng pada tahun 2016 menunjukkan bahwa sekitar 75% guru-guru di sana masih belum mampu melampaui passing grade 55. Bahkan, hasil UKG guru SD Banjarnegara berada di posisi 24 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Nilai paling rendah terdapat pada sesi pedagogik/cara mengajar.

Oleh sebab itu, program peningkatan kapasitas guru menjadi sangat relevan guna mengakselarasi kualitas guru-guru di Dieng dan sekitarnya.

Barangkali, output dari program tersebut tidak dapat dirasakan secara langsung layaknya pembangunan infrastruktur sekolah. Namun, kebermanfaatannya akan sangat terasa pada tahun-tahun berikutnya dan bersifat jangka panjang.

Mengutip perkataan Aristotle yang terus mengabadi hingga saat ini, “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.”

---

Agaknya kita perlu angkat topi untuk semua pelari (baca: fundraisers) NusantaRun Chapter 5 tahun ini. Mereka telah membuat perbedaan dengan menjadi pelari yang tidak biasa. Berlari dengan jarak yang sangat panjang serta mengumpulkan rupiah untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Mereka layak disebut pahlawan pendidikan masa kini.

Dari total 224 fundraisers, beberapa di antaranya ada yang sudah mengikuti NusantaRun sejak chapter 1 hingga chapter 4. Namun, ada juga yang baru pertama kali mengikuti event NusantaRun. Semua pelari memancarkan energi positif sehingga tiga hari yang melelahkan terasa sangat menyenangkan.

Apresiasi tidak hanya patut disematkan kepada para fundraisers, namun juga kepada panitia, para relawan, donatur, masyarakat, dan semua pihak yang telah menyukseskan event NusantaRun Chapter 5.

Kita patut bangga karena nyatanya masih banyak orang-orang baik di negeri ini yang masih peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Mereka mencintai Indonesia dengan aksi yang nyata. Mereka turun tangan dan bergotong-royong untuk mewujudkan hal yang besar yang nantinya akan terus diingat dan menjadi prasasti kebaikan bagi generasi berikutnya.

Usai penyelenggaraan NusantaRun Chapter 5, beragam respon positif mengalir deras di akun Instagram @nusanta.run Salah satunya datang dari akun Suparmin @ilhamsangpetualang. Ia merupakan peserta NusantaRun Chapter 5 yang berhasil mencapai finish line dalam waktu 22 jam 11 menit 55 detik.

Pada kolom komentar, Suparmin menulis, “Alhamdulillah .salam santunku sahabat .. mari menginspirasi indon3sia utk slalu sehat .. berbagi dalam wawasan dan keilmuan. Berkasih sayang dalam kehidupan .. salam santunku buat kalian semua ...”

Sementara itu, akun Sandy Suryapranata @suryapranata menulis, “Terima kasih buat semua orang yang terlibat di acara ini, dari panitia #NR5 yang sudah mengatur acara ini berjalan lancar dan aman, marshall sepeda dan motor yang selalu sabar menemani pelari mengarungi malam dan teriknya siang selama 3 hari, tim CP yang selalu siap siaga membantu setiap ada pelari yang masuk, semua mobile team support yang dengan senang hati selalu membagikan semua makanan dan minuman ke pelari-pelari di tengah jalan, dan juga tidak lupa makasih banget untuk tim fisioterapis yang selalu siap untuk membereskan dan memperbaiki kaki-kaki ratusan pelari sepanjang rute #NusantaRun chapter 5 ini walaupun kaki-kaki kita pasti aromanya agak kurang sedap. Kalian semua orang baik!”

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Vidya Hutagalung, pelari NusantaRun half course, mengatakan alasannya tertarik mengikuti NusantaRun Chapter 5 karena ia menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan perbaikan pendidikan Indonesia. “Concern saya memang ke situ. Passion saya juga memang ke situ. Melihat NR (baca: NusantaRun) dari tahun-tahun sebelumnya selalu suka dengan movement-nya, di mana mereka berpindah dari satu kota ke kota lainnya dan meninggalkan jejak perbaikan pendidikan di kota itu,” ungkap Vidya.

Lebih lanjut, Vidya menceritakan bahwa pada awal tahun 2017 ia diajak oleh sahabatnya bernama Harry Anggie untuk ikut menyalurkan bantuan ke sekolah yang menjadi penerima manfaat NusantaRun Chapter 4.

“Melihat bagaimana tim NR menyalurkan bantuan, melihat bagaimana bantuan tersebut sangat memberi pengaruh besar bagi penerima manfaat, dan semua ceritanya membuat saya semakin termotivasi untuk mengikuti NR tahun ini. Mengapa harus ngotot tahun ini? Karena tidak kebayang tahun depan dengan jarak yang lebih jauh lagi. Tahun ini tertarik karena finish line di Dieng. Saya seperti menaklukkan banyak hal yang menjadi keraguan di diri sendiri. Dimulai dari saya yang manja, tidak betah lari jauh, mental block, moody dan sebagainya. I challenge myself to complete this mission,” imbuh Vidya.

Satu pekan pasca event NusantaRun, Vidya mengungkapkan bahwa ia masih merasakan doping kebahagiaan yang entah sampai kapan itu berakhir. Berlari dalam jarak yang jauh bersama teman-temannya, bertemu dengan para pelari senior, serta pengalaman-pengalaman berkesan selama NusantaRun kemarin akan terus ia ingat dan ceritakan kepada orang-orang terdekatnya. Ia pun berharap tahun depan masih berkesempatan mengikuti NusantaRun Chapter 6 dengan mengajak lebih banyak teman-temannya.

Jika tidak berlebihan, NusantaRun bisa dibilang sebagai pabrik penghasil hormon endorfin. Membuat orang yang pernah mengikuti event tersebut untuk ikut kembali lagi pada tahun-tahun berikutnya.

Pada akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip kalimat indah dari Mahatma Gandhi. Katanya, “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”

---

Informasi tambahan: saat ini, dana yang terkumpul untuk program peningkatan kapasitas guru di Dieng dan sekitarnya sudah mencapai Rp. 1.920.216.520 (per 23 Desember 2017). Masih tersisa 28 hari lagi untuk mencapai target 100%. Jika tertarik berdonasi, silakan kunjungi situs https://kitabisa.com/nusantarun).

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini