5 Geopark Nasional dan Global yang Sudah Diakui UNESCO

5 Geopark Nasional dan Global yang Sudah Diakui UNESCO

NORTH WEST HIGHLANDS UNESCO GLOBAL GEOPARK © Photo by nwhgeopark.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Sejak dulu Indonesia disebut sebagai paru-paru bumi karena memiliki sumber daya alam, terutama hutan yang masih terjaga kelestariannya. Terutama di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Dengan kondisi tersebut, tentunya Indonesia memiliki potensi besar akan Taman Bumi untuk megurangi efek dari globalisasi.

Saat ini Indonesia memiliki hampir 30 geopark (Taman Bumi) di seluruh penjuru Nusantara. Diharapkan dengan adanya geopark ini bisa menjadi tumpuan wisata berbasis lingkungan.

Kendati demikian, hanya dua geopark yang berskala global dan telah masuk warisan UNESCO, yakni Geopark Gunung Batur (Bali) dan geopark Gunungsewu (Daerah Istimewa Yogyakarta). Selebihnya berstatus nasional dan kandidat.

Salah satu geopark, Ciletuh-Pelabuhanratu sudah menjalani validasi dari UNESCO dan akan menerima hasilnya tahun 2018.

Semua geopark yang ada di Indonesia berpotensi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Ada 5 Geopark di Indonesia yang cukup terkenal.

1. Geopark Gunung Batur Bali

Kawasan Kaldera Gunung Batur resmi masuk jaringan Taman Bumi Global oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 20 September 2012 resmi. Gepark ini memiliki keragaman geologi, hayati, dan kebudayaan.

Taman Bumi Global Batur meliputi 15 desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kawasan ini sebelum diakui oleh UNESCO memang sudah diminati wisatawan. Kaldera Batur diterima oleh UNESCO sebagai anggota Global Geoparks Network (GGN) di urutan ke-74. Indonesia pertama kali menjadi anggota GGN melalui Taman Bumi Batur, Bali.

Pada 2016 dilakukan peninjauan ulang (revalidasi) Taman Bumi Batur dalam hal tata kelola dan lulus. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli I Wayan Adnyana menjelaskan saat ini sudah ada 15 kelompok sadar wisata yang dikelola masyarakat.

2. Geopark Cadas di Sangkulirang-Mangkalihat

Geopark Cadas Sangkulirang | foto : klik sangatta
Geopark Cadas Sangkulirang | foto : klik sangatta

Gambar cadas di Gua-gua di Karst Sangkulirang-Mangkalihat sudah diusulkan untuk menjadi Geopark. Pertengahan April 2017, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) seluruh Indonesia yang dimotori BPBC Kaltim melakukan penelitian lanjutan di Gua-gua Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang terdapat gambar cadas.

Langkah itu dilakukan untuk menginventarisir apa saja ancaman yang dapat merusak gambar cadas yang berpotensi destinasi wisata baru di Kaltim, khususnya di Kutai Timur. Tujuan kegiatan itu, untuk menentukan langkah konservasi yang dilakukan

3. Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

Geopark Ciletih Palabuhanratu | foto Indonesia Geopark Network
Geopark Ciletih Palabuhanratu | foto Indonesia Geopark Network

Kawasan Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu (GNCP) dinilai menjadi Geopark kelas dunia versi UNESCO pada Agustus lalu. Badan Geologi sejak beberapa tahun lalu telah melakukan inventarisasi keragaman geologi sekaligus warisan geologi kawasan Ciletuh.

Dari sudut pandang kegeologian kawasan Ciletuh-Pelabuhan Ratu punya keunikan dan eksotika tersendiri, seperti Curug Cikaso yang menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung. Kawasan ini memberikan bukti terjadinya tumbukan lempeng tektonika (lempeng) samudera dengan lempeng benua.

Terdapat 13 titik lokasi wisata unggulan dari 24 lokasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan di kawasan Geopark tersebut.

Pada September 2018, UNESCO akan menentukan status Geopark Ciletuh apakah layak masuk jaringan geopark global. Anggaran keseluruhan untuk mempersiapkan Geopark Nasional Ciletuh-Pelabuhan Ratu agar diakui dunia senilai Rp 217 miliar.

4. Geopark Gunungsewu

UNESCO resmi menetapkan Geopark Gunungsewu sebagai bagian dari Global Geoparks Networks pada September 2015. Lembaga itu bakal melakukan revalidasi lagi pada 2019. Geopark Gunungsewu meliputi tiga kabupaten masing-masing Gunung Kidul, Pacitan dan Wonogiri. Ada puluhan geosite didalamnya.

Luas Gunungsewu mencapai 1.802 kilometer persegi yang terdiri dari 33 situs alam atau geosite. Sebanyak 13 situs alam berada di Gunungsewu di wilayah Gunung Kidul.

Situs geosite di Gunung Kidul itu adalah, Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Kali Ngalang, Gedangsari, Hutan Wanagama, Playen, Air Terjun Sri Gethuk, Bleberan, Playen, Gua Kali Suci, Semanu, Gua Jomblang, Semanu, Gua Pindul, Bejiharjo, Karangmojo, Lembah Karst Mulo, Wonosari.

Selanjutnya, Pantai Baron-Pantai Kukup-Pantai Krakal, Tanjungsari, Pantai Siung-Gunung Batur-Pantai Wediombo, Tepus dan Girisubo, Hutan Wisata Turunan, Girisuko, Panggang, Gua Cokro, Umbulrejo, Ponjong dan Bengawan Solo Purba (Sadeng) wilayah Desa Pucung, Kecamatan Girisubo.

5. Geopark Kaldera Toba

Geopark Kaldera Toba | foto : konsortium.com
Geopark Kaldera Toba | foto : konsortium.com

Tahun 2011, nama geopark dikawasan Danau Toba diusul dengan nama Geopark Toba. Namun atas pertimbangan bahwa Danau Toba merupakan kawasan yang terbentuk dari letusan super volcano yang membentuk fitur vulkanik atau yang sering disebut dengan kaldera, maka ditahun 2013 Geopark Toba diusulkan namanya menjadi Geopark Kaldera Toba.

Geopark Kaldera Toba mengusung Tema Gunung api (Supervolcano) dengan keunikan sebagai kaldera Volcano-Tectonic-Quarter terbesar di dunia. Geopark Kaldera Toba telah dikukuhkan sebagai Georpak Nasional pada tanggal 7 Oktober 2013 dan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 27 Maret 2014.

Kawasan ini mencakup 7 (tujuh) kabupaten yang mempunyai pantai di Danau Toba yang dibatasi oleh kaldera rim, terdiri dari Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungunkabupaten.


Sumber: tempo.co | indonesiatouristnews.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga61%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang19%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau6%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ternyata Seperti Ini Wujud Warnet Jaman Now, Sudah Coba? Sebelummnya

Ternyata Seperti Ini Wujud Warnet Jaman Now, Sudah Coba?

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo Selanjutnya

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo

Nurul Arifin
@arale

Nurul Arifin

endblogg.blogspot.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.