Cahaya Raksasa di Langit California, dan Mimpi Besar Indonesia

Cahaya Raksasa di Langit California, dan Mimpi Besar Indonesia

Kilasan cahaya SpaceX © HelloGiggles

Kira-kira seminggu lalu, dunia dikejutkan oleh semburat cahaya raksasa warna putih di langit Los Angeles (California, AS). Tak hanya besar, lintasan cahaya ini begitu besarnya dan cukup lama berada di langit, sehingga banyak yang kemudian mengaitkannya dengan kemunculan pesawat luar angkasa. Apalagi setelah pemerintah Amerika Serikat melalui Pentagon secara terang-terangan mengungkapkan pencarian UFO beberapa waktu sebelumnya.

Begitulah adanya, cahaya putih berbentuk seperti ikan ini menggemparkan Los Angeles senja itu, dan dunia beberapa saat kemudian. Barulah diketahui, bahwa cahaya raksasa tersebut berasal dari peluncuran roket Falcon 9 milik SpaceX, sebuah perusahaan swasta milik Elon Musk (yang kita kenal sebagai pemilik pabrikan mobil Tesla), dari pangkalan angkatan udara Vanderberg di California, sebelah utara Los Angeles.



Roket ini membawa 10 satelit komunikasi Iridium Next ke orbit setelah matahari terbenam di langit. Hal tersebut meninggalkan kilasan cahaya yang luas di sekitar roket pada saat meluncur ke angkasa di lintasan selatan.

--

Ketika mungkin semua orang berpikir mengenai betapa luar biasanya cahaya tersebut, saya berpikir sedikit berbeda. Saya membayangkan, apa jadinya jika cahaya tersebut muncul di atas langit Surabaya, yang berasal dari peluncuran roket luar angkasa dari ..Probolinggo. Satu hal yang pasti akan saya rasakan, gumamkan, dan posting di sosial media saya adalah perasaan bangga luar biasa menjadi bagian dari Indonesia yang maju, dan bahwa Indonesia berada di jajaran depan bidang sains dunia.

Bisa jadi, itulah perasaan di benak masyarakat AS, atau setidaknya LA (dan California). Meski AS adalah gudangnya ilmuwan, dan peluncuran roket luar angkasa sudah menjadi hal biasa dan sudah dimulai sejak 50 tahun lalu, SpaceX adalah cerita berbeda. SpaceX bukanlah NASA milik pemerintah. SpaceX adalah murni pemikiran dan karya (saya menyebutnya sebagai) 'manusia dari masa depan' bernama Elon Musk. Tak hanya mampu meluncurkan roket Falcon 9 ke luar angkasa, hebatnya, Falcon 9 mampu 'pulang kembali' dan mendarat di tengah laut di atas kapal tanpa awak. Sebuah pencapaian baru dalam sejarah teknologi roket dunia.

Elon Musk dan Falcon 9 | geek.com
Elon Musk dan Falcon 9 | geek.com

Elon Musk dan SpaceX-nya telah menghidupkan kembali mimpi AS dan dunia, akan pendaratan manusia di planet lain.

Elon Musk. Mungkin belum banyak publik Indonesia yang mengenalnya, meskipun, bisa jadi karya dan visinya melebihi sang pendiri Apple, Steve Jobs. Keduanya adalah manusia-manusia yang lahir mendahului jamannya, manusia dari masa depan. Mereka mengubah banyak hal di dunia, dan yang lebih penting lagi, membangun kepercayaan diri banyak manusia untuk menatap masa depan yang berbeda, masa depan yang akan mampu membuka jalan bagi mimpi-mimpi besar manusia.

--

Apakah akan lahir manusia-manusia masa depan di Indonesia seperti Elon Musk, atau Steve Jobs yang tak hanya membawa kebanggaan bagi seluruh bangsa, namun juga membawa banyak kesempatan ekonomi, dan banyak hal lain yang menjadi penentu masa depan sebuah bangsa?

Mungkin pertanyaan yang lebih mudah adalah, apakah sains dan teknologi mampu menjadi pendorong kemakmuran Indonesia?

Profesor Richard N. Zare dari Stanford University mengukur kemakmuran sebuah bangsa dari dua faktor. Pertama adalah semangat dari budaya, dan mimpi dan visi besar dari rakyatnya, yang kedua adalah bangsa tersebut punya 'alat' untuk membangun masa depan, yang mampu merealisasikan mimpi dan visi tersebut.

Menurutnya, sebuah bangsa perlu 3 hal untuk maju :

  • Security, kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari ancaman baik internal maupun eksternal, baik kepada individu, maupun masyarakatnya. Kemampuan ini penting agar rakyat dari bangsa tersebut bebas dari ancaman, dan fokus mengejar mimpi-mimpinya.
  • Ekonomi, kemampuan untuk memproduksi barang-barang konsumsi, jasa, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
  • Pendidikan, kemampuan untuk mempersiapkan rakyatnya sehingga mampu mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan yang sudah diketahuinya, juga untuk untuk menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan dunia.

Dan masih menurutnya, sains berkontribusi besar pada ketiganya. Contohnya Tiongkok. Siapa yang meragukan bahwa kemampuan dan penguasaan sains oleh Tiongkok berpengaruh besar pada kemajuan dan kemakmuran negeri tirai bambu tersebut seperti yang kita kenal sekarang?

Budaya dan tradisi Tiongkok dikenal sangat menghargai pendidikan sejak ribuan tahun lalu, dan menempatkannya di posisi terhormat. Selama berabad-abad, rakyat Tiongkok mempunyai kesadaran tinggi bahwa sains dan teknologi, jika digunakan dengan baik, dapat memperkuat bangsanya dan mencapai tujuan-tujuan dan mimpi rakyatnya.

Tiongkok dan teknologinya | chinadaily
Tiongkok dan teknologinya | chinadaily

Amerika Serikat sendiri, berhasil 'mengkonversi' kemajuan sains dan teknologi di bidang militer (sejak masa Perang Dunia) menjadi sains dan teknologi penggerah ekonomi, dan menjadi katalisator utama dalam mengangkat daya saing AS di dunia. Dengan sains dan teknologi, AS selalu punya daya saing dan kekuatan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan melestarikan lingkungan hidup.

Saya pernah diberi kesempatan beberapa saat di beberapa kampus-kampus di AS, melihat bagaimana kehidupan kampus, dan kontribusi langsungnya pada ekonomi dan masa depan AS. Saya melihat bahwa banyak riset, dan penemuan-penemuan di kampus-kampus di AS bisa dengan cepat ditransformasikan menjadi produk-produk komersial. Ini keunggulan yang penting bagi sebuah bangsa.

AS memang tak selalu di depan di bidang sains. Negara yang kita kenal hebat di bidang ini pun, tak malu mengirimkan mahasiswa-mahasiswa terbaiknya ke Jerman, negeri dengan reputasi sains terbaik di masa lalu. Ketika mereka pulang, para mahasiswa ini adalah mereka yang membangun pondasi bagi terbangunnya budaya sains di AS, dan penemuan penemuan di bidang teknologi dan industri di AS.

Singapura juga, tetangga dekat kita, juga punya cerita tersendiri. Ketika negeri tersebut lepas dari Malaysia tahun 1965, Singapura tak punya aset apapun kecuali deep seaportnya. Makanan, air, dan bahan bakar harus diimpor dari negara lain. Saat itu, sedikit sekali orang yang berpikir bahwa negeri ini akan menjadi salah satu negeri dengan ekonomi maju dan kaya, hanya dalam waktu kurang dari satu generasi.

Kampus desain dan teknologi Singapura | worldarchitecturedesign
Kampus desain dan teknologi Singapura | worldarchitecturedesign

Di awal berdirinya, PM Singapura waktu itu Lew Kuan Yew menegaskan dua tujuan utamanya untuk membangun ekonomi, yakni membangun ekonomi yang modern, dan menciptakan identitas nasional Singapura. Dalam elaborasinya, Lee menyatakan bahwa pada tahun 1990 kelak, ekonomi Singapura akan dibangun dengan berbasis sains dan teknoloi, menjadi hub industri inovasi, dan menarik perusahaan-perusahaan sains dunia ke negeri kecil tersebut. Tahun 90-an adalah titik penting bagi perkembangan Singapura modern yang kita kenal seperti sekarang ini.

AS, Tiongkok, Singapura adalah tiga negara yang memang berbeda satu sama lain, dari banyak sisi. Namun ketiganya disatukan oleh satu elemen penting kemajuan ekonomi negaranya, yakni kesadaran akan pentingnya bidang sains dan teknologi untuk menjawab tantangan masa depan, dan menjadi solusi banyak hal, termasuk di bidang ekonomi.

Indonesia sudah mulai harus mempertimbangkan cara untuk memberi ruang lebih luas di sektor sains. Banyak anak bangsa yang menempuh pendidikan sains di luar, dan kita perlu menciptakan banyak kesempatan bagi mereka agar bisa pulang dan berkarya di bidang ini. Tentu perlu waktu, perlu investasi besar, perlu pengorbanan besar. Tapi rasanya dengan cara inilah Indonesia bisa mengejar banyak ketertinggalannya dari negara-negara lain yang lebih dulu maju. Indonesia harus terus mendukung penuh para ilmuwan, dan para insinyurnya menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.

Gambaran roket LAPAN | JakartaGreater.com
Gambaran roket LAPAN | JakartaGreater.com

Tentu saja, sains dan ilmu pengetahuan saja tak cukup untuk membuat Indonesia menjadi bangsa besar. Sains harus dikombinasikan dengan mimpi-mimpi besar. Mimpi-mimpi besar dan kesatuan rasa Satu Indonesia, menjadi jalan besar di masa depan, dan mungkin bidang sains-lah yang akan menjadi lampu penerang jalan tersebut. Kita sudah punya mimpi besar yang sama, dan rasa Satu Indonesia pun sudah kuat dan perlu terus diperkuat, yang belum punya adalah anak bangsa yang mempu 'membakar' angkasa seperti yang terjadi minggu lalu di California.

Selamat tahun baru 2018, selamat bermimpi besar.

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi56%
Pilih TerpukauTerpukau6%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mahasiswa Ini Baru Satu Tahun Kuliah Sudah Terbang ke Tujuh Negara Sebelummnya

Mahasiswa Ini Baru Satu Tahun Kuliah Sudah Terbang ke Tujuh Negara

Bumilangit Phase 1 : Dari Gundala, Sampai Mandala Selanjutnya

Bumilangit Phase 1 : Dari Gundala, Sampai Mandala

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.