Pada tanggal 28 Desember 2017, saya menghadiri acara pengukuhan Guru Besar dibidang Ilmu Kefarmasian sahabat saya Prof. Dr. Achmad Fuad, MS, Apt di Universitas Airlangga Surabaya. Dalam orasi ilmiahnya sang Profesor ini mengungkapkan uneg-uneg nya tentang pentingnya penemuan obat baru alami yang berasal dari tanaman dan biota laut (Marine biota) tentu dengan mengutip pendapat atau hasil penelitian berbagai ahli dunia tentang hal tersebut. Prof. Fuad yakin bahwa kita bisa mengembangkan obat-obat alami ini di Indonesia mengingat negeri ini kaya akan biodiversitas yang dia sebut Megadiversitas. Ketika menjelaskan Megadiversitas ini Prof. Fuad dengan suara terbata-bata didepan para hadirin mengucapkan terima kasih kepada Allah karena menganugerahi Indonesia dengan kekayaan seperti itu.

Memang benar yang dikatakan Prof. Fuad, Indonesia mampu mengembangkan dan menemukan obat-obat baru yang berasal dari kekayaannya sendiri. Indonesia ini tidak hanya sebuah negara yang memiliki lebih dari 3.000 bahasa dan ratusan suku-suku serta lebih dari 10.000 pulau-pulau. Tapi Indonesia (bersama Brazil) adalah sebuah negara yang paling kaya keanegaragaman hayati atau bio-diversity bahkan disebut sebagai megadiversty.

Jakarta Post pernah melaporkan tahun 2002 tentang kekayaan alam kita antara lain tanah air kita ini memiliki 515 spesis binatang mamalia, 515 spesis reptile, 1.553 species burung; Pada tahun 1821, Gubernur Inggris – Sir Stamford Raffles sudah menginformasikan bahwa Indonesia ini merupakan negara dengan jumlah spesis kera yang disebut Siamang (Symphalangus Syndactylus) terbesar di dunia, serta mempunyai sekitar 1.400 spesis ikan tawar dsb. Itu kekayaan fauna nya. Dibidang floranya, Indonesia merupakan salah satu lima besar negara di dunia yang memiliki sekitar 38.000 spesis pohon tinggi, menjadi negara nomor satu dibidang keragamaan kelapa sawit dengan 477 spesis dan jenis-jenis lainnya yang di tempat lain tidak ada. Itu diantaranya kekayaan biodiversitas Indonesia, dan itu adalah sumber alam yang penting untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia (bahkan dunia).

Tapi sahabat saya sang Profesor ini yang mengebu-ngebu memperjuangkan kemajuan ilmu faarmasi di Indonesia mungkin akan lebih terbata-bata ketika orasi ilmiah seandainya membaca data bahwa Bank Dunia di tahun 2005 saja sudah memprediksi hutan daratan rendah di Sumatra dan Kalimantan akan punah pada tahun 2010; perkumpulan 20 LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang melakukan investigasi tentang kelansungan hutan melaporkan pada tahun 2002 saja terjadi pengundulan hutan di Indonesia ini sekitar 2.000.000 ha per tahunnya. Dikhawatirkan angka ini meningkat pertahunnya karena permintaan dunia (paling banyak dari Cina dan Jepang) akan produk hutan di Indonesia terus meningkat.

Hutan di negeri ini sayangnya hanya dilihat sebagai sumber uang yang didapat dari exploitasi hutan untuk mengambil kayu. Padahal sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan farmasi dari negara-negara maju di dunia sedang giat-giatnya mencari zat-zat penting untuk membuat obat dari hutan-hutan tropis.

Salah satunya perusahaan Jepang bernama Shiseido yang sejak 1995 telah mendaftarkan 51 paten untuk penemuan obat dari tanaman yang secara tradisional hanya ditemukan di Indonesia. Namun akibat protes dari masyarakat Indonesia dan dunia perusahaan ini – melalui anak perusahaannya di Indonesia PT. Dian Tarunagua mengumumkan bahwa Shiseido akan menarik permintaan paten nya apabila pemalakan hutan illegal di Indonesia tidak di hentikan.

Sudah saatnya semua stakeholder di Indonesia ini menyadari akan kekayaan sumber daya alamnya dengan melakukan pelestarian terus menerus hutan dan laut. Karena kalau kita mengabaikan kenyataan itu, maka penggundulan hutan dan pengrusakan biota laut secara illegal, akan membuat semua kekayaan intelektual dari hutan dan laut akan hilang dari permukaan Indonesia ini, yang berarti bahwa ribuan spesis tanaman, ratusan sepsis biota laut yang penting sebagai sumber obat untuk kesehatan manusia akan hilang. Itu juga berarti masyarakat Indonesia yang memiliki bebagai penyakit yang gawat maupun tidak gawat harus tergantung pada obat-obatan kimia.

Prof. Fuad yang dalam orasi ilmiahnya menyebutkan bahwa nenek-neneknya dulu sehat karena meminum obat-obatan alami seperti kunyit, mungkin akan menangis kalau melihat kenyataan adanya exploitasi sumber daya alam kita secara illegal. Tunduk kepada Allah karena kebesaranNya itu melalui berbagai cara, salah satunya dengan jalan mengagumi, menjaga dan melestarikan sumber daya alam yang di karuniakan Allah kepada kita itu. Sebaliknya, merusak sumber daya alam kita sendiri berarti kita men-dzolimi ciptaan Allah – dan membiarkan keluarga kita, masyarakat kita yang sakit bertambah sakit karena meng-konsumsi obat-obatan kimia.

Semuanya berpulang pada kita sendiri sebagai bangsa yang mengaku beradab.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu