Perairan Indonesia yang sangat luas dan strategis di dunia, menjadi habitat dan perlintasan cetacean atau mamalia laut, salah satunya adalah perairan di Nusa Tenggara Timur.

Untuk mengetahui keberadaan satwa cetacean seperti paus, lumba-lumba dan porpoise di wilayahnya itu, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, NTT melaksanakan monitoring kemunculan cetacea yang dilaksanakan pada 30 Oktober-2 November 2017. Kegiatan ini juga melibatkan lembaga pendidikan tinggi di Kota Kupang dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang.

Hasilnya, serombongan lumba-lumba kerap dijumpai di area Sulamu dan Afoan, Perairan Laut Sawu. Sementara paus nampak di perairan Naikliu.

Habitat paus dan lumba-lumba memiliki wilayah sebaran masing-masing. Di perairan sekitar Sulamu dan Afoan ditemui rombongan lumba-lumba sebanyak 30-40 ekor. Sementara paus dijumpai di perairan sekitar Naikliu pada pagi hari sekitar pukul 05.00-09.00 dan sore sekitar pukul 15.00-18.00 waktu setempat.

Serombongan lumba-lumba kerap dijumpai di area Sulamu dan Afoan, Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur | Foto : BKKPN Kupang
Serombongan lumba-lumba kerap dijumpai di area Sulamu dan Afoan, Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur | Foto : BKKPN Kupang

Pemetaan ini bertujuan untuk membuat suatu database mengenai kemunculan cetacea yang ada di TNP Laut Sawu. Data ini disebut dapat digunakan sebagai referensi mendukung pengembangan wisata whale watching maupun dolphin watching. Selain mencatat waktu kemunculan cetacea, jenisnya, jumlah, lokasi, perilakunya, jarak dengan kapal, dan lainnya.

Dari riset berjudul Efektivitas Sub Zona Perlindungan CetaCea di Kawasan Konservasi Perairan TNP Laut Sawu, NTT oleh Mujiyanto, Riswanto dan Adriani S. Nastiti dari Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan, menguatkan adanya keberadaan cetacea.

Mujiyanto yang dikonfirmasi Mongabay Indonesia, Jumat (05/01/2017) mengatakan riset ini dilakukan pada 2014-2016, untuk mengawal putusan Kep.06/KEPMEN-KP/2014 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Nasional Perairan Laut Sawu dan sekitarnya tahun 2014-2034. “Sekurangnya tiap 5 tahun dievaluasi efektif atau tidak zonasi perlindungan itu,” katanya.

Ia mengingatkan ada benturan di zona perikanan umum dan yang ditetapkan sebagai zona perlindungan cetacea. Misalnya banyak lumba-lumba yang bermain di jalur migrasi yang menjadi pelintasan kapal. “Ada yang kena jaring, luka. Pengawasan sulit,” tambahnya soal area yang terlalu luas. Kapal-kapal di atas 10 GT melintas saat pulang sambil menangkap atau tebar jaring purse seine.

Sementara untuk hasil penelitiannya lebih fokus di kemunculan cetacea. Untuk jadi rekomendasi dolphin atau whale watching menurutnya perlu melakukan pemantauan lebih panjang dan rutin misal 8 bulan berturut. “Pemantauan disesuaikan waktu liburan, penekanan ke bulan itu,” ujarnya soal wisata melihat cetacea. Di sejumlah titik, setasea ada tiap saat, namun di titik lain hanya ditemukan bulan tertentu.

Tingkat kemunculan paus dan lumba-lumba di area Sulamu dan Afoan, Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur | Foto : riset Mujiyanto dkk
Tingkat kemunculan paus dan lumba-lumba di area Sulamu dan Afoan, Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur | Foto : riset Mujiyanto dkk

Mujiyanto memaparkan dalam dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Cetacean di Indonesia periode 2016-2020, penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Laut Sawu salah satunya ditujukan untuk melindungi habitat dan jalur migrasi paus dan area perlindungan lumba-lumba yang secara rutin melakukan ruaya di perairan tersebut (KKHL, 2015).

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas luasan sub zona setasea di kawasan konservasi perairan TNP Laut Sawu. Hasil yang diharapkan adalah terhindarnya konflik kepentingan antara kebutuhan nelayan akan sumberdaya perikanan dengan keberlangsungan migrasi cetacea di Laut Sawu.

Sebaran lokasi kemunculan (sighting) lumba-lumba tertinggi dipetakan terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu di Sumba Timur, Kupang dan Sumba Barat Daya. Sementara sebaran lokasi paus ditemukan 3 wilayah perairan yang memiliki lokasi kemunculan tertinggi, yaitu Kupang, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

Beberapa wilayah perairan lainnya dengan lokasi kemunculan yang cukup signifikan, akan tetapi selama penelitian frekuensi kemunculannya lemah adalah Sumba Tengah, Sumba Barat, Rote Ndao dan Sabu Raijua. Pergerakan paus di wilayah sekitar perairan Kupang pada pagi hari (06.00-10.00 WITA) bergerak dari Barat Daya ke arah Timur Laut. Lalu pada siang hari (11.00-13.00 WITA) terlihat paus sperma arah pergerakan bolak balik dari Utara ke Selatan dan kembali ke Utara. Pergerakan paus di sekitar daratan Timur didominasi dari arah Barat Daya ke Timur Laut.

Pergerakan lumba-lumba di Kabupaten Kupang terjadi pukul 06.00-10.00 WITA dan 15.00-18.00 WITA. Pergerakan terlihat dari arah Timur Laut ke arah Barat Daya, akan tetapi sebagian pergerakan lumba-lumba juga ditemukan dari arah Utara ke arah Selatan (pagi hari). Berbeda dengan sore hari, dari Barat Daya ke arah Timur Laut dengan sebagian kecil lumba-lumba yang ditemukan bergerak ke arah Timur.

Kesimpulan penelitian ini adalah komposisi setasea (lumba-lumba dan paus) di Laut Sawu adalah 11 jenis lumba-lumba dan 8 jenis paus. Jenis yang banyak ditemukan baik lumba-lumba dewasa maupun anakannya adalah spinner dolphin. Zonasi yang memerlukan perhatian bagi keberlanjutan keberadaan paus dan lumba-lumba adalah wilayah perlindungan migrasi setasea. Luasan sub zona perlindungan bagi setasea (sub zona setasea) disesuaikan dengan zona perikanan berkelanjutan umum yang ada saat ini, meliputi wilayah di Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah sekitar 445.567,44 ha dan perairan di sekitar Daratan Timor (Kupang) sekitar 239.307,52 ha.

Peta sebaran mamalia laut di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur. Foto : riset Mujiyanto dkk
Peta sebaran mamalia laut di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur. Foto : riset Mujiyanto dkk

Pemanfaatan Zona

Sebagian perairan Laut Sawu ditetapkan sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) oleh Menteri Kelautan dan Perikanan sejak 2014 lalu. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dengan luasan lebih dari 3 juta hektar. Mencakup 10 kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur dengan 22 spesies mamalia laut yang terdiri dari 14 spesies paus dan 7 spesies lumba-lumba serta 1 spesies dugong (Ped-Soede, 2002 dan Khan, 2005).

TNP Laut Sawu yang luas ini terbagi dalam beberapa zona yaitu zona inti, zona pemanfaatan, zona perikanan berkelanjutan (umum, tradisional, dan cetacea) dan zona lainnya (kearifan lokal serta pemanfaatan pariwisata dan budidaya). Untuk sub zona perlindungan cetacea seluas 1.240.768,54 Ha atau 36,98% dari luas TNP Laut Sawu. Zona ini diperuntukan guna melindungi habitat dan koridor migrasi penting bagi cetacea dan berbagai pemanfaatan lainnya.

Ikram M. Sangadji, Kepala BKKPN Kupang merangkum kawasan konservasi perairan yang dikelola secara efektif dapat meningkatkan ketersediaan stok sumber daya ikan dan menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati laut. Selain perikanan tangkap, kawasan konservasi secara langsung dapat meningkatkan produksi dan produktivitas usaha budidaya laut terutama budidaya mutiara, rumput laut, dan budidaya ikan karang.

Menurut Ikram pengembangan destinasi pariwisata juga penting. Pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis potensi sumberdaya laut seperti wisata bahari snorkeling, diving, wisata pesisir, wisata budaya lokal, dan wisata minat khusus whale and dolphin watching.

Kawasan konservasi perairan, tambahnya, secara geografis berada di wilayah pulau-pulau kecil yang terbatas aksesibilitasnya baik transportasi maupun telekomunikasi apalagi akses komunikasi online. Penyediaan transportasi laut seperti speed boat, liveboat, cruise, serta penyediaan home stay, resort dan hotel bagi wisatawan merupakan salah satu faktor membuka isolasi wilayah pulau-pulau kecil menjadi wilayah ekonomi baru.

Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu