Keindahan Bunga Edelweis di Kawasan Gunung Bromo

Keindahan Bunga Edelweis di Kawasan Gunung Bromo
info gambar utama

Keindahan bunga Edelweis tidak diragukan lagi. Tanaman yang dijuluki bunga abadi ini akan menjadi objek wisata baru di Gunung Bromo. Keindahan dari bunga edelweis diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi para pengunjung Gunung Bromo.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berharap keindahan Bunga Edelweis ini bisa menambah daya tarik masyarakat kepada Gunung Bromo.

Seperti yang di beritakan oleh kompas , nantinya budidaya edelweis itu akan dikemas melalui program yang disebut sebagai "Desa Wisata Edelweis", yang dijadikan sebagai penanda (ikon) di TN-BTS. Saat ini, ada dua desa penyangga yang dijadikan uji coba pengembangan budi daya edelweis, yakni di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jatim.

“Nantinya para pengunjung yang datang bisa langsung memetik Bunga Edelweis secara langsung.” ungkap kepala TNBTS John Kenedie di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo.

Rencananya, Desa Wisata Edelweis akan dikelola secara swadaya oleh masyarakat Suku Tengger yang tinggal di kawasan penyanggah Gunung Bromo. Hingga saat ini, sudah ada empat desa yang diproyeksi menjadi desa wisata bunga abadi itu.

Selain itu, edelweis juga dijadikan salah satu bunga yang wajib ada dalam setiap sesaji yang dipersembahkan oleh warga Suku Tengger dalam adat keagamaan. Biasanya, warga Suku Tengger menyebut edelweis dengan Tana Layu. Berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak layu.

Padahal, edelweis merupakan tumbuhan dilindungi yang hanya bisa hidup di kawasan setinggi di atas 2.000 mdpl. Dengan adanya desa wisata itu, warga bisa memberdayakan sendiri tumbuhan edelweis sehingga tidak lagi memetik edelweis yang tumbuh di alam liar.

John juga berkata, “ dengan ada nya pembudayaan Bunga Edelweis ini diharapkan para wisatawan tidak mengambil Bunga Edelweis dari dalam Hutan.”

Penyuluh Kehutanan pada TNBTS, Birama Terang Radityo mengatakan, ada tiga jenis edelweis yang tumbuh di hutan TNBTS. Antara lain Anaphalis javanica, Anaphalis viscida dan Anaphalis longifolia.

Saat ini, Birama mengaku sudah menyiapkan bibit Edelweis yang akan disebarkan ke empat desa yang jadi proyeksi Desa Wisata Edelweis.

"Sejak 2004 hingga 2019 sudah 900 bibit yang dikasih kepada masyarakat. Tahun ini disediakan 1.000 bibit," ungkapnya.

Sebenarnya, gagasan untuk membentuk Desa Wisata Edelweis sudah ada sejak tahun 2006. Itu adalah kali pertama dilakukan inventarisasi edelweis di TNBTS. Pada tahun 2007, dilakukan uji coba konservasi edelweis di luar kawasan konservasi TNBTS atau eksitu. Tapi uji coba itu gagal.

Hingga akhirnya pada tahun 2014 TNBTS mendeklarasikan diri sebagai Land of Edelweis menggantikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di tahun itu, petugas TNBTS sudah berhasil produksi bibit edelweis dari bijinya.

Hingga saat ini, budidaya Edelweis masih sebatas di sekolah-sekolah dan di sekitar lokasi Posko Resort Cemoro Lawang. Ke depannya, budidaya edelweis akan disebarkan ke seluruh warga yang menjadi proyeksi Desa Wisata Edelweis.

Targetnya akan ada 10.000 ribu bibit edelweis yang ditanam di setiap desa. Dan diharapkan segera rampung.


Sumber: republika.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini