Mengintip Kembali Gunung Krakatau

Mengintip Kembali Gunung Krakatau
info gambar utama

Gunung Krakatau merupakan salah satu gunung purba dunia yang terletak di Selat Sunda, sebuah selat yang membatasi Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Menurut teks Jawa kuno “Pustaka Raja Purwa” Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 416 M dan menyebabkan perubahan iklim besar di dunia. Bahkan para tentara romawi menyebut masa itu “Dark Age” karena pada saat bencana itu terjadi, terjadi pula berbagai macam kemunduran peradaban. Ada banyak sekali bencana yang terjadi akibat ledakan Gunung Krakatau pada masa itu.

Pada 26-27 Agustus 1883 Gunung Purba Krakatau kembali meletus, dan letusannya jauh lebih besar daripada letusan sebelumnya. Gunung Krakatau berhasil menelan kurang lebih 36.000 jiwa akibat letusannya. Selain ribuan korban jiwa ternyata letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 memberikan beberapa dampak yaitu, 1) Hujan abu panas yang turun di daerah Ketimbang, Lampung. 2) Guncangan tsunami yang besar, bahkan sampai Afrika Selatan dan menewaskan sampai dengan 3000 penduduk. 3) Kota Merak, Banten dan kota di sepanjang pantai utara Pulau Sumatera luluh lantak karena tsunami. 4) Berbagai ukuran debu, pasir, kerikil terlontar sampai Statosfer dan memberikan dampak, yaitu suhu udara di bumi turun sampai dengan 10 derajat di ekuator.

Selain dampak alam yang terjadi pada tahun 1883 ternyata ada juga dampak lain, seperti sosial dan ekonomi. Karena pada tanggal 26-27 Agustus langit dunia menjadi gelap gulita. Ada banyak penduduk yang bermukin di sekitar Gunung Krakatau harus mengungsi ke tempat yang lain, dan pastinya menyebabkan perubahan sosial dan ekonomi.

Tak hanya itu, ternyata akibat material yang sangat banyak yang dimuntahkan oleh Gunung Krakatau muncul sebuah Gunung baru yang berasal dari dasar laut pada tahun 1929. 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau Gunung anak Krakatau lahir. Gunung Anak Krakatau bisa ada karena material endapan proklasik, muntahan Gunung Krakatau yang turun ke dasar laut.

80 tahun terakhir Gunung Anak Krakatau ternyata mengalami pertumbuhan pesat. Sekarang tingginya sudah mencapai 320 mdpl dan kabar menakjubkannya lagi adalah Gunung Anak Krakatau mengalami pertumbuhan 6 meter setiap tahunnya.

Namun sekarang, wajah Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau sudah berbeda. Walaupun Gunung Anak Krakatau adalah gunung api yang terus mengeluarkan letupan setiap harinya ia sering dikunjungi para wisatawan. Bahkan telah ada Taman Nasional Krakatau yang juga menyimpan banyak jenis flora dan fauna. Gunung Anak Krakatau juga sering menjadi destinasi pendakian bagi para pendaki.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini