Di Ujung Barat Indonesia, Pulau ini Jadi Tempat Transit Jemaah Haji yang Pertama Kali

Di Ujung Barat Indonesia, Pulau ini Jadi Tempat Transit Jemaah Haji yang Pertama Kali
info gambar utama

Bagi para petualang dan penggemar olahraga bawah laut seperti snorkeling dan diving, nama Pulau Rubiah merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Betapa tidak, alam bawah laut Pulau Rubiah menawarkan keindahan yang tiada tara. Terletak diantara Laut Andaman dan Samudera Hindia, Pulau Rubiah memiliki 8 titik snorkeling dan 11 titik diving yang sangat menakjubkan. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa pulau ini memiliki sejarah yang cukup menarik, terlepas dari panoramanya yang menakjubkan.

Terletak di bagian barat laut Pulau Weh, Rubiah merupakan sebuah pulau kecil berukuran 26 hektar yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Aceh, dan umat Islam di Indonesia pada umumnya. Di tahun 1920-an, Pulau Rubiah menjadi tempat karantina bagi Jemaah haji yang akan berangkat ke Mekkah ataupun yang telah kembali dari perjalanan panjang menunaikan ibadah haji di tanah suci tersebut. pemberangkatan dan karantina haji yang dilakukan di Pulau Rubiah merupakan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia. Selaras dengan hal tersebut, di Pulau Rubiah pernah dibangun asrama yang berfungsi sebagai tempat karantina bagi para Jemaah haji tersebut. Asrama ini bertahan hingga tahun 1960-an.

Pemilihan Pulau Rubiah sebagai tempat transit Jemaah haji bukanlah tanpa alasan. Sebab, pemberangkatan Jemaah haji pada waktu itu dilakukan dengan menggunakan kapal, yang mana jalur pelayaran kapal adalah melewati perairan Samudera Hindia sehingga Pulau Rubiah dianggap strategis sebagai tempat karantina Jemaah haji Indonesia waktu itu. Selain itu, Pulau Rubiah sejak dulu kala memang memiliki keterkaitan erat dengan keisalamn masyarakat Aceh. Penamaan Pulau Rubiah memiliki sejarah sendiri, yakni berasal dari seorang tokoh Islam yang masih dikagumi masyarakat Aceh hingga saat ini. Namanya adalah Siti Rubiah.

Makam Siti Rubiah yang berada di tengah pulau (pulauwehaceh.com)
info gambar

Siti Rubiah merupakan anak dari Tengku Mustafa dan bersuamikan Tengku Ibrahim, seorang ulama yang bergelar Tengku Iboih. Tengku Ibrahim dan Siti Rubiah menetap di Pulau Weh, tepatnya di daerah Iboih Pidie dan melaksanakan kegiatan pengajaran keislaman di sana. Beberapa tahun tinggal di Pulau Weh, terjadi perbedaan paham antara Tengku Ibrahim dan Siti Rubiah yang kemudian menyebabkan keduanya berpisah. Ketika berpisah, keduanya menyepakati bahwa harta kekayaan dan tempat tinggal dibagi dua. Tengku Ibrahim tetap tinggal di Iboih sedangkan Siti Rubiah menempati sebuah pulau kecil yang ada di sebelahnya.

Di Pulau tersebut, Siti Rubiah bersama santri – santrinya membuat kelompok pengajian dan membuka tempat pengajaran ilmu agama. Siti Rubiah tinggal di pulau tersebut hingga akhir hayatnya. Bahkan hingga kini, makam Siti Rubiah masih dikunjungi oleh para peziarah, pula bekas – bekas asrama haji yang masih bisa dilihat puing – puing kayu peninggalan bangunan tersebut.

Saat ini, Pulau Rubiah populer sebagai salah satu kawasan wisata bawah air yang digemari para pelancong baik dalam maupun luar negeri. keindahan bawah laut yang ada di Pulau Rubiah benar – benar memanjakan mata, mulai dari ikan hias berwarna – warni, koral dan karang serta beberapa fasilitas bawah laut tambahan yang digunakan untuk mempercantik taman bawah laut mulai dari ayunan, meja ataupun kursi. Perawatan kelestarian ekosistem bawah laut di Pulau Rubiah pun cukup diperhatikan, serta keamanan lokasi snorkeling dan diving yang juga dilakukan secara professional. Banyak guide yang akan membantu para wisatawan dalam mengeksplorasi bawah laut Rubiah.

Keindahan bawah laut Pulau Rubiah (©indonesia-tourism.com
info gambar

Akses menuju pulau ini pun terbilang cukup mudah. Dari Dermaga Iboih, pengunjung hanya perlu menyewa kapal kemudian menyeberang ke Pulau Rubiah yang memakan waktu kurang dari 10 menit. Tiba di pulau ini, banyak keindahan menanti untuk dinikmati.

*GNFI

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini