Hebat! Dosen Institut Teknologi Sepuluh November Ciptakan Alat Diagnosis Penyakit Ini

Hebat! Dosen Institut Teknologi Sepuluh November Ciptakan Alat Diagnosis Penyakit Ini

ilustrasi sel virus © wallpaperscraft.com

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) kembali memberikan kabar gembira bagi Indonesia. Seorang dosen Teknik Elektro di ITS bernama Dr I Ketut Eddy Purnama merancang laat yang dapat menghitung humlah bakteri penyebab Tuberculosis (TBC).

Penyakit TBC adlah penyakit yang dapat tertular dengan secara tersembunyi. pembawanya tak memperlihatkan gejala dan mereka tidak terinfeksi. Namun, satu dari 10 orang akan terserang TB sepanjang hidupnya terutama karena melemahnya sistem kekebalan tubuh.

"Dokter dan perawat masih menggunakan mata dengan menghitung adanya bakteri tahan asam (BTA) pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik," kata dosen Departemen Teknik Komputer Fakultas Teknologi Elektro ITS itu di Surabaya, Sabtu. Seperti yang dilansir dari antaranews.com

Metode penghitungan semacam itu, menurut dia, seringkali tidak akurat karena area pemeriksaan yang sangat luas tidak memungkinkan penghitungan jumlah bakteri secara teliti.

"Bayangkan ada 100 area, lalu kita memindahkannya satu-satu dengan tangan. Pasti nanti akan ada yang terlewat, entah karena lalai atau lelah," kata Kepala Laboratorium Sinyal Digital ITS itu.

Sementara Eddy berhasil merancang alat TB-Analyzer yang dapat menghitung jumlah bakteri tuberkulosis secara akurat sehingga memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mendiagnosis.

Eddy beekrja sama dengan Dr Ir Arman Hakim Nasution dan Dr Supeno Mardi Susiki Nugroho dan Arief Kurniawan ST MT, melakukan penelitian selama tiga tahun dan mereka berhasil membuat TB-Analyzer. Smart System to Count Tubercolosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically.

Alat tersebut merupakan perpaduan antara hardware dan software untuk melakukan analisis citra miskrokopik yang ang meliputi komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital serta aplikasi yang mampu menginstruksikan pergerakan motor dan mendapatkan fokus pada bakteri guna mendapat puluhan gambar yang tidak tumpang tindih. TB-Analyzer memiliki kemampuan akurat dalam menghitung ratusan gambar bakteri serta mampu menghitungnya dalam berbagai macam skala gambar.

Kalau pasien diketahui terpapar tuberculosis, maka dahaknya akan diambil dan ditaruh di preparat dahak, kemudian dikeringkan dan dibakar untuk melelehkan bakteri berbentuk batang dengan lapisan lilin.

Setelah pembakaran selesai, preparat diberi warna menggunakan Ziehl Neelsen lalu didinginkan dan diletakkan kembali di mikroskop digital. Nantinya, bakteri akan secara otomatis muncul di layar komputer.


Sumber: antaranews.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Berapa Lama Orang Indonesia Mengunjungi Situs E-commerce? Sebelummnya

Berapa Lama Orang Indonesia Mengunjungi Situs E-commerce?

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.