Pemberlakuan Becak di Ibu Kota: Pola Kebijakan Hybrid Pemerintah DKI Jakarta

Pemberlakuan Becak di Ibu Kota: Pola Kebijakan Hybrid Pemerintah DKI Jakarta

Becak, salah satu transportasi tradisional di Indonesia © hantupedia.com

Becak adalah salah satu moda transportasi tradisional yang berkembang di Indonesia. Transportasi ini banyak digunakan oleh masyarakat berbagai kota di Indonesia, karena selain murah, transportasi ini dikenal “fleksibel” karena bisa kemana saja. Kini pembahasan becak kembali meningkat seiring diberikannya izin oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kepada pengemudi becak untuk kembali beroperasi di ibukota Indonesia, Jakarta. Berbagai polemik dan perdebatan muncul, sebagian menolak dan sebagiannya lagi menerima.

Namun tampaknya membahas Becak kurang lengkap jika tidak memahami terlebih dahulu sejarah kemunculannya. Berdasarkan literatur sejarah Becak diciptakan bukan di Indonesia, melainkan di negeri matahari terbit, Jepang. Tepatnya di Yokohama pada tahun 1865, munculnya becak disebabkan oleh keinginan Goble untuk menyenangkan hati istrinya. Ketika Goble bekerja di Kedutaan Amerika Serikat, dia ingin memberikan pengalaman pada istrinya yang tidak bisa berjalan, untuk ikut menikmati indahnya pemandangan Yokohama pada waktu itu.

Jinrikisha, asal usu becak | Sumber: wikimedia.org
Jinrikisha, asal usu becak | Sumber: wikimedia.org

Kemudian dibuatlah prototipe becak yang oleh sahabatnya bernama Frank Pollay. Becak tersebut menggunakan dua roda dan ditarik dari depan oleh manusia, tidak seperti yang digunakan di Indonesia. Orang Jepang menyebutnya dengan “Jinrikisha” yang berarti Kendaraan tenaga manusia. Becak kemudian diketahui banyak orang dan menyebar hingga ke Tiongkok pada tahun 1900-an. Transportasi ini tidak lagi digunakan oleh kalangan elit saja, namun juga digunakan oleh masyarakat umum. Namun pada tahun 1970 terjadi penolakan oleh masyarakat Tiongkok terhadap penggunaan becak, karena dianggap eksploitasi manusia dan mempunyai kemiripan dengan perbudakan.

Lalu bagaimana transportasi becak mulai masuk ke Indonesia?

Tidak ada sejarah pasti kapan becak masuk dan menyebar di Indonesia. Namun jika melihat berbagai literatur pada jaman itu, becak diindikasikan datang ke Indonesia pada tahun 1930-an. Pada tulisan “Seperti Roda Berputar” karya Lea Jellanik, tertulis bahwa pada tahun tersebut becak didatangkan ke Batavia dari Singapura dan Hongkong. Pada tulisan Jawa Shimbun edisi 20 Januari 1943 juga tertulis bahwa becak berkembang dari Makassar ke Batavia pada akhir 1930-an. Tulisan ini juga diperkuat oleh catatan perjalanan wartawan Jepang yang telah mengelilingi Indonesia.

Becak jaman dulu di Indonesia | Sumber: sayoudancity.blogspot.co.id
Becak jaman dulu di Indonesia | Sumber: sayoudancity.blogspot.co.id

Catatan yang berjudul “Pen to Kamera” yang diterbitkan pada tahun 1937 menjelaskan bahwa becak ditemukan oleh orang Jepang yang bernama Seiko-san, yang merupakan pedagang sepeda. Seiko menciptakan becak dari sepeda jualannya yang tidak laku, denga harapan dapat menarik pembeli.

Versi lain dari becak juga muncul dari Tim Hannigan, dalam tulisannya yang berjudul “Beguiled by Becak”. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa becak tidak pernah muncul dan digunakan oleh masyarakat sebelum tahun 1936, hingga pada akhirnya memadati jalanan Batavia. Penyebaran becak kemudian begitu pesat hingga diseluruh daerah di Indonesia. Pada tahun 1950-an, tercatat jumlah becak di Jakarta mencapai 30.000 buah, hingga pada tahun 1970-an bertambah hingga lima kali lipat.

Kemunculan becak yang begitu pesat terutama di wilayah Ibu Kota kemudian memunculkan keresahan pemerintah. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran akan jumlahkecelakaan lalu lintas oleh becak yang terus meningkat. Selain karena potensi kecelakaan yang tinggi, anggapan bahwa becak merupakan simbol ketertinggalan kota dan alat angkut yang tidak manusiawi juga bermunculan.

Aturan mengenai larangan total angkutan umum berupa becak kemudian diberlakukan pada era Gubernur Ali Sadikin. Pemberlakuan aturan tersebut diimplementasikan dengan mengadakan razia-razia di daerah bebas becak. Aturan ini dilanjutkan hingga kepemimpinan Suprapto, Wiyogo Atmodarminto, Suprapto, dan Sutiyoso. Keberadaan becak di ibu kota juga semakin terancam, ketika munculnya pesaing lainnya seperti ojek motor, mikrolet, dan bus kota.

Hibridisasi Kebijakan Melalui Becak

Dari sejarah becak yang telah berkembang ini, tentu pemberlakuan aturan diperbolehkannya becak di Jakarta menjadi perdebatan yang panas. Di satu sisi, kehadiran becak di kota metropolis seperti Jakarta akan semakin menyebabkan kemacetan dan angka kecelakaan akan meningkat. Kebiasaan untuk melawan arus juga dikhawatirkan akan mengganggu lalu lintas ibu kota yang padat.

Becak dan Hiruk Pikuk Jakarta | Sumber: tribunnews.com
Becak dan Hiruk Pikuk Jakarta | Sumber: tribunnews.com

"Becak itu ikonik, teknologi khas yang ditemukan oleh Kota Jakarta waktu masih bernama Batavia, jadi ini bisa dirayakan. Sebenarnya sebagai atraksi budaya kota bukan sekadar alat transportasi lingkungan," ungkap sejarawan JJ Rizal.

Namun tidak dapat dipungkiri lagi, fungsi becak masih cukup tinggi di kawasan perumahan yang cenderung membutuhkan moda transportasi yang praktis dan fleksibel. Harga becak sendiri dapat dibilang cukup kompetitif, karena masih ramah di kantong masyarakat. Nilai kultur yang dibawa oleh becak juga cukup dalam, mengingat sejarah perkembangan becak di Indonesia selalu berkaitan dengan perkembangan Jakarta.

Sehingga dalam hal ini penulis melihat bahwa diberlakukan kembali peran becak di masyarakat Jakarta merupakan bentuk dari kebijakan hybrid yang pemerintah coba lakukan untuk mengkolaborasikan program pembangunan Jakarta yang modern dengan program keberlanjutan kultur murni yang ada disana. Program ini akan berjalan dengan baik, apabila pemerintah setempat mampu menentukan dosis yang tepat dalam penyebaran becak.

Arus lalu lintas di jalan-jalan besar di Jakarta terlalu kejam untuk pengendara becak, sehingga jika becak tidak dikontrol dan masuk ke jalan-jalan besar maka akan terjadi berbagai kecelakaan dan dinamika lainnya. Alangkah baiknya apabila penyebarannya lebih baik difokuskan pada area perumahan dan kawasan cagar budaya seperti halnya Kota Tua, agar fungsi utama kebijakan pemberlakuan becak – menjaga kultur asli Jakarta – dapat sepenuhnya berjalan dengan efektif.

Sumber: inilahduniakita.net | schoolpouringrights.com | news.detik.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ingin Menghindari Kecelakaan Lalu Lintas? Karya Mahasiswa Asal Surabaya Ini Bisa Membantu Sebelummnya

Ingin Menghindari Kecelakaan Lalu Lintas? Karya Mahasiswa Asal Surabaya Ini Bisa Membantu

Personal Branding Itu Penting, Lho Selanjutnya

Personal Branding Itu Penting, Lho

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.