Coenocyte, Aplikasi Media Sosial "Sains" Indonesia

Coenocyte, Aplikasi Media Sosial "Sains" Indonesia

Dok. Pribadi

Berbicara media sosial sudah tidak asing lagi bagi netizen Indonesia, karena memang sebagian besar kehidupan beberapa orang dihabiskan di sana. Menurut data dari Hootsuite, Indonesia tempati urutan ke-4 sebagai negara yang netizennya sangat aktif di Facebook. Hampir dari semua golongan dan rentang usia setiap hari mengunjungi media sosial besutan Mark ini.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Setiap media sosial punya keunikan tersendiri, katakanlah Instagram yang berfungsi sebagai sarana berbagi momen melalui foto. Padahal di Facebook juga tersedia fitur berbagi foto, tapi entah kenapa orang memilih menggunakan Instagram. Contoh lain adalah Twitter dengan postingan pendeknya, YouTube dengan videonya dan WhatsApp dengan chating.

Sebagian besar konten di media sosial berisikan postingan tentang hal-hal pribadi penggunanya. Beberapa postingan sepele menjadi viral, entah kenapa netizen berburu dan menggebu mem-viralkan hal-hal nyeleneh.

Namun sangat disayangkan, di Indonesia tidak ada media sosial yang di dedikasikan untuk saintis. Padahal untuk memajukan suatu negara salah satunya adalah dari inovasi dalam sains dan teknologi. Indonesia sepertinya tidak akan pernah menjadi negara maju jika generasi mudanya tidak menyenangi sains. Setidaknya, memberikan dukungan terhadap saintis yang ada. Baru terdengar berita gembira bahwa saintis muda kita mendapatkan medali emas di Olimpiade Sains Internasional. Sangat miris euforia itu hanya sebatas celotehan di media masa. Setelah itu, para pemenang sains ini lenyap di telan Bumi.

Masalah klasik bagi dunia sains Indonesia adalah lemahnya dukungan dari pemerintah, ini telah mengakar karena golongan elite masih sibuk rebutan kekuasaan. Tidak ada golongan elite yang sungguh-sungguh perduli dengan perkembangan komunitas sains di negeri ini. Jika seperti ini terus, kita hanya akan menjadi negara konsumtif.

Indonesia ini negara super kaya, hasil Buminya beragam, hasil lautnya begitu menarik negara lain. Tetapi kekayaan alam ini tidak bisa dikelola sendiri karena tidak memiliki cukup saintis yang mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.

Saintis itu bukan keajaiban, iya bisa diciptakan. Melihat beberapa akar masalah diatas, saya mendirikan media sosial khusus sains non-profit bernama Coenocyte dengan misi "menghubungkan saintis agar tercipta kehidupan yang lebih baik". Saat ini telah tersedia di Playstore.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Fiturnya tidak berbeda dari media sosial pada umumnya, perbedaan utama terletak pada tujuan. Coenocyte ingin saintis di negeri ini saling terhubung dan berhasrat berbagi pengetahuannya lewat kanal media sosial.

Tujuan terbesarnya adalah menjadikan netizen "melek" sains karena tidak ada cara lain memajukan negeri ini selain lewat perkembangan dalam bidang sains dan teknologi.

Salam sains.
Sumber: Dok.Pribadi

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Go-Jek Gaet Google dan Temasek Holdings Sebagai Investor, Valuasi Hingga Rp 53,3 Triliun? Sebelummnya

Go-Jek Gaet Google dan Temasek Holdings Sebagai Investor, Valuasi Hingga Rp 53,3 Triliun?

Peduli Lingkungan Tetra Pak Ajak Seluruh Industri Pangan Selanjutnya

Peduli Lingkungan Tetra Pak Ajak Seluruh Industri Pangan

rahman rahman
@rahman

rahman rahman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.