Konser Musik Etnik Rayhan Sudrajat “Akar” Mengajak Penonton Lebih Mengenal Indonesia

Konser Musik Etnik Rayhan Sudrajat “Akar” Mengajak Penonton Lebih Mengenal Indonesia
info gambar utama

Muhammad Rayhan Sudrajat, seorang musisi yang juga seorang etnomusikolog Sabtu (20/01) mengadakan mini konser “Akar” di @America, Mall Pasific Place Jakarta.

Pada konser Akar kemarin, Rayhan juga berkolaborasi dengan maestro tari Indonesia, yaitu Didik Ninik Thowok dan seorang musisi wanita yaitu Trie Utami.

Saya ingin mengajak orang-orang Indonesia untuk kembali ke akarnya masing-masing untuk memperkokoh budayanya. Impian saya, kita sebagai orang Indonesia bisa tahu jati diri dan identitas kita siapa. Di mana pun kita berada, kita tahu kita siapa, dan kita tidak bingung tentang identitas kita sebagai orang Indonesia,” ungkap Rayhan menjelaskan mengapa ia mengambil judul “Akar” pada konsernya.

Rayhan membawakan lima lagu yang diciptakannya sendiri. Lagu pertama, berjudul Palangkaraya Hadurut. Lagu ini diciptakan Rayhan pada saat ia berada di pedalaman Kalimantan Tengah. Lagu Palangkaraya Hadurut bercerita tentang awal mulanya penciptaan bumi dan manusia menurut kepercayaan Kaharingan (kepercayaan asli Kalimantan Tengah). Palangka sendiri artinya adalah guci, raya artinya besar dan hadurut artinya perlahan-lahan. Jadi, menurut cerita penciptaan manusia berdasarkan Kaharingan awalnya dari surga turun sebuah guci berwarna emas, kemudian turun perlahan-lahan di satu titik yaitu Kalimantan Tengah, dan dari situlah manusia memulai kehidupan.

Sementara lagu kedua yang dibawakan Rayhan adalah Karungut Tuntang Petak, sebuah lagu dengan bahasa Dayak Ngaju. Untuk lagu ketiga, Rayhan membawakan lagu berjudul “The Blue Lake” lagu ini Rayhan ciptakan pada saat ia berada di Oregon, Amerika Serikat saat mengikuti program One Beat untuk tur konser musik di beberapa daerah di Amerika Serikat. Sementara, lagu keempat yang Rayhan bawakan berjudul “One Blood” dan lagu terakhir yang Rayhan bawakan berjudul “Tatuh Hiyang Itah” yang berarti leluhur kita.

Lagu Tatu Hiyang Itah menjadi sebuah lagu penutup di konser Rayhan kali ini, dilagu terakhir Rayhan dan segenap musisi yang berada di atas panggung mengajak para penonton untuk juga menyanyikan lagu tersebut.

Dengan itah mahaga lewu tuh

Itah kea mahaga kesah

Pambelum tatu hiyang itah

Yang berarti, dengan kita menjaga kampung, kita juga melestarikan cerita leluhur kita.

Konser ini juga merupakan konser terakhrinya di Indonesia. Karena pada bulan Maret yang akan datang Rayhan akan memulai studi pascasarjananya di Monash University, Australia. Rayhan yang sangat mencintai dunia musik ini akan mengambil jurusan Ethnomusicology di Monash University nanti.


Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini