Geopark Ciletuh yang Diakui Dunia

Geopark Ciletuh yang Diakui Dunia
info gambar utama

Indonesia memang tak akan pernah habis oleh kekayaan dan keindahan alamnya. Salah satu kekayaan alam yang bisa kita nikmati adalah pemandangan alam yang ada di Geopark Ciletuh. Geopark yang berada 190 kilometer jaraknya dari kota Bandung ini merupakan salah satu Geopark di Indonesia yang sudah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2015 silam sebagai salah satu warisan dunia. Tak hanya itu, Geopark Ciletuh sudah tergabung dalam Global Geopark Network (GGN) pada tahun 2017 yang lalu.

Geopark Cilteuh ini memiliki kawasn wilayah seluas 128.000 hektar dan berada di 74 desa di Kabupaten Sukabumi.

Kawan GNFI dapat menikmati keindahan pada waktu matahari terbit sekaligus indahnya samudera hindia dari puncak Darma yang berada di ketinggian 350 meter dari permukaan laut. Tak kalah indahnya Teluk Ciletuh yang juga berada di Geopark Ciletuh yang terbentuk goncangan alam pada waktu laut zaman purba.

Karena terbentuk dari aktivitas alam pada zaman purba, hal ini menjadikan wilayah Geopark kaya akan wisata alam, seperti curug, dan batuan berukuran besar

Ada banyak sekali aktivitas liburan yang bisa kawan GNFI lakukan di Georpark Ciletuh mulai dari menikmati Samudera Hindia sampai trekking di tengah suasana sejuk di Sukabumi.

Yang paling menyenangkan dari Geopark Ciletuh adalah ada Sembilan curug yang eksotis yang akan memanjakan pemandangan mata kita. Tak hanya mata yang dimanjakan, tetapi juga bisa melepaskan rasa lelah dan penat kita. Sembilan curug yang ada di geopark ciletuh adalah Curug Awang, Curug Tengah, Curug Puncak Manik, Curug Cikanteh, Curug Ngelai, Curug Sodong, Curug Dogdog, Curug Nyelempet, dan Curug Cimarinjung.

Selain Geopark Ciletuh, Indonesia juga ada beberapa Geopark di Indonesia yang juga sudah diakui UNESCO, yaitu Geopark Batur Bali, Geopark Cadas, Geopark Gunung Sewu, dan Geopark Kaldera Toba

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini