Sekali waktu, saya diminta mengajar di sebuah SMA di Baturaja, Sumatera Selatan. Sekitar 100-an murid datang di acara bertopik "membangkitkan Indonesia" itu. Di akhir sesi, seorang murid berdiri dan bertanya dengan ragu-ragu, saya rasa mungkin dia tak yakin pertanyaannya akan menjadi pertanyaan bagus. Bagi saya pertanyaannya sungguh luar biasa. "Kira-kira, apa yang kita harus lakukan, agar Indonesia bisa menjadi seperti Jepang?"

Cukup lama saya mencari jawaban yang mudah dia mengerti. Dan jawaban saya adalah ..menjadi bangsa yang inovatif. 

Global Innovation Index 2018 sudah dirilis oleh Bloomberg. Dan seperti yang diduga sebelunya, negara tetangga kita, Singapura, menjadi raja asia tenggara. Bahkan di tingkat dunia, Singapura melampaui negara-negara eropa yang selama ini identik dengan inovasi, seperti Jerman, Swiss, Inggris dan lain-lain. Hanya Korea Selatan (peringkat 1), dan Swedia (2) yang lebih unggul dari Singapura. Di tingkat Asean, negeri Jiran Malaysia menjadi juara ke-2, dan secara global berada di urutan 26 dunia. Dan selanjutnya Thailand di urutan 45 dunia. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Di mana posisi Indonesia?

Di laporan tersebut, sayangnya Indonesia tidak masuk 50 besar. Di laporan terbaru Bloomberg tersebut, saya kesulitan mencari Indonesia, dan negara-negara di luar 50 besar. Tapi, menilik dari Global Innovation Index 2017 yang dikeluarkan oleh institusi lain, World Intellectual Property Organization. (WIPO), Indonesia berada di posisi 87, bahkan jauh di bawah Vietnam di ranking 47 dunia.

Kita mungkin masih ingat, dulu Indonesia sempat berada jauh di atas Vietnam, dalam banyak hal. Tapi akhir-akhir ini makin sering saja rasanya Vietnam berada di atas kita, bersama negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. 

Mesin Uang James Watt | Screenshot Youtube
Mesin Uang James Watt | Screenshot Youtube

Kita harus benar-benar berubah di sisi ini. Jangan biarkan lagi kita ketinggalan. Inovasi lah yang akan mengubah zaman, membangkitkan Indonesia.  Sejarah menunjuukan, inovasi, terutama di bidang teknologi menjadi hulu perubahan peradaban. Abad informasi dimulai dengan penemuan mesin cetak oleh Guttenberg. Abad industri dimulai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Internet dan kemudian media sosial hadir kemudian dan mengubah cara manusia terhubung satu sama lain ke tahap yang benar-benar baru.

Murid di Baturaja tadi menjadikan Jepang sebagai tolok ukur kebangkitan. Betul, pertanyaannya mendapat banyak respon tertawaan, mungkin karena seolah mustahil, dan sulit sekali dicapai. 

Tapi mungkin ada yang ingat pidato John F. Kennedy pada 12 September 1962, sebuah pidato monumental berjudul “Why we choose to go to the moon” yang menegaskan keinginan Amerika untuk memenangi penjelajahan angkasa, yg terucap rencana pendaratan manusia di permukaan bulan: 

“We choose to go to the moon. We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too.”   

Pidato Kennedy Why We Choose to go to The Moon | history.com
Pidato Kennedy Why We Choose to go to The Moon | history.com

(Kami memilih untuk pergi ke bulan. Kami memilih untuk pergi ke bulan pada dekade ini, bukan karena melakukannya adalah mudah, tetapi justru karena sulit, karena cita-cita tersebut akan berguna untuk mengatur dan mengukur energi dan keterampilan terbaik yang kita miliki, karena tantangan itu adalah salah satu yang kita bersedia menerimanya, satu yang tidak akan kita tunda, dan satu yang ingin kita menangi. Kita memilih untuk pergi ke bulan pada dekade ini, bukan karena melakukannya adalah mudah, tetapi justru karena sulit”.  

Lihatlah kalimat terakhir, bukan karena mudah, justru karena sulitlah kita harus berinovasi dan bangkit. 

Sekali lagi, tak boleh lagi kita ketinggalan. Tidak boleh. 

N-250 Karya anak bangsa
N-250 Karya anak bangsa

Bahkan, jika kita menengok ke belakang, Indonesia pernah menjadi Center of Excellence di Asia Tenggara. Padahal pada era tahun 80 -- 90an Indonesia sempat menjadi negara dengan inovasi termaju di ASEAN. Bahkan Indonesia saat itu adalah Innovation center of excellence di ASEAN. Saat itu Indonesia terlah berhasil memproduksi pesawat terbang dengan teknologi tercanggih, N250 yang merupakan pesawat pertama dengan fly-by-wire, memilki satelit pertama di ASEAN, yang pertama membangun jalan tol bahkan dapat membangun jalan tol di atas rawa-rawa dengan desain pondasi yang di sebut cakar ayam dan masih banyak lagi inovasi skala dunia.*

Dunia sedang bergerak cepat. Seluruh negara berlomba saling mengejar. 

Ekonom Klaus Schwab (2016) menyebut masyarakat dunia sedang berada di ambang revolusi industri keempat. Era ini ditandai dengan berkembangnya teknologi nano dam kecerdasan buatan (artificial intelligence). Bahkan lebih jauh lagi, umat manusia sedang bersiap memasuki era genetic editing. Ketiga hal itu akan membuat kehidupan manusia benar-benar memasuki fase baru yang penuh kejutan.**

Menjadi bangsa yang inovatif, Indonesia mempunyai lebih banyak peluang dan kesempatan untuk menguasai masa depan. Menjadi bangsa yang menciptakan dan merangkul ide ide baru, mengarahkan riset dan pengembangan, yang berguna bagi kita, dan bagi dunia.

Mungkin benar, di masa lalu, Riset dan Pengembangan memang didominasi bangsa-bangsa barat, dan bangsa-bangsa lain akan menjadikannya barang-barang manufaktur.  Tidak lagi. Ekonomi, dan juga inovasi, kita beralih ke asia. bangsa-bangsa asia mulai merajai inovasi, Bahkan negara-negara tetangga dekat indonesia, kita lebih inovatif bahkan dari bangsa-bangsa lain.

Yuk kita kejar. Belum terlambat. Kita punya semua. Generasi muda yang melimpah, pasar yang besar, sumber daya yang besar, juga ekonomi yang makin tumbuh. Mari berpihak pada inovasi. Perbanyak infrastruktur riset, membangun kerjasama antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi secara sistematis, konsisten, dan terukur mutlak dilakukan.

Hanya dengan inilah, bangsa ini bisa menjadi bangsa pemenang. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu