Industri strategis Indonesia kembali mulai menggeliat beberapa tahun terakhir usai Indonesia berhasil memulihkan perekonomian pasca krisis moneter tahun 1998. Salah satu industri strategis tersebut adalah industri pengembangan pesawat terbang yang pada tahun 2017 berhasil menguji coba pesawat terbang buatan Indonesia, N219. Pesawat ini digadang-gadang akan mampu menjadi pesawat unggulan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk menyediakan kebutuhan pesawat perintis dan penerbangan jarak dekat. 

Pesawat yang kemudian diberi nama berdasarkan nama salah seorang pelopor penerbangan di Tanah Air, Nurtanio Pringgoadisuryo itu diklaim merupakan karya sepenuhnya tangan-tangan bangsa Indonesia. PT DI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebagai pengembang pesawat N219 Nurtanio mengungkapkan bahwa pesawat ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pesawat dengan kelas serupa. Diantaranya adalah memiliki kecepatan tercepat di kelas baling-baling ganda, hanya membutuhkan landasan yang pendek, dan mampu mengangkut baban yang lebih berat. 

Meski begitu, N219 saat ini masih dalam tahap sertifikasi TC atau Type Certification. Artinya sebelum mendapatkan TC N219 masih belum bisa diproduksi masal karena belum selesai diuji terbang selama 340 jam. Itu sebabnya, pada bulan Februari mendatang, PTDI berencana untuk meluncurkan pesawat purwarupa N219 kedua yang akan mempercepat proses pengujian jam terbang. Dengan cara ini, N219 optimis akan bisa mendapatkan sertifikasi lebih cepat dan ditargetkan bisa diproduksi masal pada tahun 2019. 

PT DI mengungkapkan bahwa pihaknya akan mampu memproduksi N219 Nurtanio sebanyak enam unit pesawat di tahun pertama. Tahun-tahun berikutnya kapasitas produksi akan terus ditingkatkan. Kemampuan produksi ini merupakan hal yang penting diperhatikan sebab, PT DI beberapa kali terlibat masalah dengan keterlambatan pengiriman produk beberapa tahun yang lalu. Padahal telah banyak negara yang mengaku berminat untuk membeli pesawat N219 ini.

Negara-negara yang berminat tersebut antara lain Meksiko, Thailand, Turki dan Nigeria. Turki melalui Turkish Aerospace Industries (TAI) bahkan akan menjadi pihak yang bekerjasama dengan PTDI untuk memproduksi dan mempromosikan N219 ke benua Afrika. 

Sementara di Indonesia sendiri N219 diproyeksikan akan mampu menjadi pesawat yang menopang transportasi domestik utamanya di daerah-daerah timur Nusantara. Seperti Papua dan Maluku yang memiliki karakter geografis yang bergunung-gunung sehingga menyulitkan untuk dibangun bandara berlandasan panjang dan juga menyulitkan pesawat untuk bermanuver. Tantangan inilah yang kemudian akan mampu dijawab oleh N219 sebab pesawat ini hanya membutuhkan landasan yang relatif pendek dan mampu bermanuver rendah dengan baik. Alhasil N219 menarik minat berbagai pemerintah daerah, dan juga TNI. 

Minat yang luar biasa terhadap pesawat karya Indonesia ini tentu saja menjadi momentum penting terhadap industri dirgantara di Tanah Air. Jika dahulu N250 buatan mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J Habibie gagal untuk terbang di angkasa dunia, akibat krisis. Kini N219 harus dikawal bersama-sama untuk memastikan pesawat impian ini dapat terbang membawa reputasi Merah Putih sebagai negara yang memiliki kemampuan mengembangkan teknologi aviasi. 

Namun, N219 tanpa adanya dukungan dari dalam negeri, akan mustahil pesawat ini bisa berjaya. Inilah saatnya bagi bangsa Indonesia menunjukkan kemampuan dan kembali tampil sebagai negara panutan di ASEAN bahkan dunia. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu