Metode Diagnosis Migrain Baru Temuan Neurolog UI

Metode Diagnosis Migrain Baru Temuan Neurolog UI

Migrain, sakit kepala yang cukup mengganggu © hellosehat.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Baru-baru ini, pakar neurologi dari Universitas Indonesia Dr. dr. Salim Haris, Sp.S(K), FICA berhasil menemukan rumus diagnostik baru yang nantinya mampu mendeteksi migrain pada pasien-pasian yang mengeluhkan sakit kepala.

Indeks Vaskular Migrain (IVM) kemudian disematkan pada rumus tersebut, yang telah divalidasi dan dilegalkan sebagai hak atas kekayaan intelektual (HAKI) oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan durasi 50 tahun per tanggal 1 Januari 2017.

Indeks tersebut bisa didapat dari pasien dengan cara mengukur rata-rata kecepatan aliran sel darah merah ke otak. Sehingga untuk mendapatkan angka pasti diperlukan ultrasonografi doppler yang ditempelkan pada pelipis pasien. Ketika alat tersebut ditempelkan, maka pasien harus menahan napas selama setengah menit dan juga bernapas cepat pada durasi yang sama. Hal ini dilakukan karena penderita migrain akan menunjukkan ketidakmampuan pembuluh darah untuk melebar dan mengecil saat melakukan keduanya.

Penemuan ini begitu efektif dalam mendiagnosis migrain, karena jika menggunakan alat yang umum dipakai International Headache Society (IHC) classification, maka persepsi dokter akan berbeda-beda. Dengan begitu penanganan migrain seringkali tidak sesuai. Dengan adanya IVM, maka keberhasilan diagnosis mencapai 94,23 persen, cuku signifikan jika dibandingkan dengan IHS yang berkisar pada 50%.

Dengan temuan ini, dr. Salim mengharapkan adanya perbaikan diagnosa migrain pada pasien, agar pengobatan dapat dilakukan dengan optimal. Karena karakteristik migrain yang membutuhkan pertolongan yang cepat, maka adanya diagnosis yang sesuai akan memberikan banyak keuntungan bagi dokter dan pasien.

Ancaman dari migrain ternyata cukup besar, karena menurut survey The Global Burden of Disease 2010, yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO), migrain adalah penyebab disabilitas tertinggi nomor tujuh di dunia. Prevalensi migrain di Indonesia juga cukup tinggi, terhitung 22,4 persen jika berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Kementerian Kesehatan RI. Jumlah tersebut sama tingginya dengan prevalensi migrain di Asia.

Sumber: antaranews.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga56%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Wow Ternyata Nama Kapal-Kapal TNI Angkatan Laut Memiliki Pola! Sebelummnya

Wow Ternyata Nama Kapal-Kapal TNI Angkatan Laut Memiliki Pola!

Sejarah Hari Ini (4 Agustus 1956) - Uji Coba Bus Ikarus, Transportasi Baru Jakarta Asal Hungaria Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (4 Agustus 1956) - Uji Coba Bus Ikarus, Transportasi Baru Jakarta Asal Hungaria

Ilham Bafadal
@ilhammib

Ilham Bafadal

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.