Suaka Margasatwa Pulau Rambut merupakan nama yang tidak asing bagi peneliti maupun pengamat burung. Pulau seluas 90 hektar yang berada di Kepuluan Seribu DKI Jakarta ini adalah surganya burung. Diperkirakan, sekitar 20 ribu individu burung dari 22 jenis burung air (water bird) dan 39 jenis burung darat (terrestrial) berkumpul di sini, ketika musim berbiak tiba. Biasanya pada Januari hingga Juni, yang puncaknya pada April.

Namun, jumlah individu ini meningkat pesat tatkala burung pendatang (migran), yang di negara asalnya musim dingin, singgah. Totalnya, diperkirakan mencapai dua kali lipat dari yang ada. Wilayah perairannya yang banyak ditumbuhi hutan bakau dan daratan yang dipenuhi pepohonan adalah alasan kuat pulau ini disenangi para burung.

Satu dari sekian banyak jenis pengunjung itu adalah bangau bluwok (Mycteria cineria). Wilwo, biasa disebut, merupakan burung air berpostur 95-110 centimeter. Ciri utamanya adalah kulit mukanya tanpa bulu, berwarna merah jambu hingga merah. Bangau bertubuh putih ini biasa menyukai lahan basah, terutama perairan dangkal, pantai, rawa, muara, dan hutan bakau.

Bangau bluwok atau dikenal dengan nama wilwo. Foto: Asep Ayat
Bangau bluwok atau dikenal dengan nama wilwo | Foto: Asep Ayat

Jenis ini tersebar luas di Thailand, Kamboja, Vietnam, Malyasia, dan Indonesia. Meski begitu, Indonesia lah pemilik hampir 70 persen dari populasi global jenis ini. Sebanyak 1.600 individu tersebar di Sumatera dan 100 individu beredar di Bali, Sumbawa, Sulawesi, dan Jawa yang terutama di Pulau Rambut pada Januari 2018 ini, terpantau 70 individu sedang berproses awal berbiak.

Ferry Hasundungan, Biodiversity Specialist Burung Indonesia menuturkan, Suaka Margasatwa Pulau Rambut merupakan satu-satunya tempat berbiak bangau bluwok di Pulau Jawa, saat ini. Artinya, Pulau Rambut merupakan habitat terakhirnya di Pulau Jawa setelah catatan terakhir di Pulau Dua (Banten) tidak menunjukkan lagi tanda-tanda berbiak.

Bangau bluwok saat terbang | Foto: Asep Ayat
Bangau bluwok saat terbang | Foto: Asep Ayat

“Bangau Bluwok sangat bergantung pada lahan basah. Biasanya hidup berkelompok atau terkadang bercampur dengan jenis lain saat berburu ikan, kerang, udang, kepiting, juga katak dan ular,” ujar Feri.

Hal unik bangau bluwok saat berbiak, antara Januari hingga Oktober adalah, ia membentuk koloni sarang. Sarang tersusun dari berbagai ranting yang ditempatkan pada tajuk pohon kepuh (Sterculia poetida), bakau (Rihizopora mucronata), beringin (ficus timorensis), dan buta-buta (Excoecaria agallocha). Tiap sarang, biasanya berisi antara satu hingga empat butir telur yang dierami sekitar satu bulan. Setelah menetas, minggu ke enam atau tujuh, anakannya mulai keluar sarang dan belajar terbang.

Posisi terbang “soaring”di udara bangau bluwok | Foto: Asep Ayat
Posisi terbang “soaring”di udara bangau bluwok | Foto: Asep Ayat

Di Indonesia, kehidupan bangau bluwok dilindungi Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Statusnya juga tercantum dalam Appendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti secara internasional tidak boleh diperdagangkan. Sementara Badan Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkannya dalam status Genting (Endangered/EN) dan digolongkan terancam punah secara global.

“Secara global, perburuan dan berkurangnya lahan basah akibat dikonversi menjadi peruntukan lain adalah ancaman nyata jenis ini. Sebelum tahun 2000-an, jumlahnya pernah diperkirakan mencapai lima ribu individu yang sekarang hanya ditaksir setangahnya saja,” terang Feri.

Bangau bluwok yang menjadikan Pulau Rambut sebagai tempat favorit persinggahan | Foto: Asep Ayat
Bangau bluwok yang menjadikan Pulau Rambut sebagai tempat favorit persinggahan | Foto: Asep Ayat

Situs Ramsar

Indonesia saat ini memiliki tujuh Situs Ramsar (Ramsar Site) yang merupakan wilayah penting perlindungan lahan basah. Situs ini merupakan lahan basah yang terus-menerus tergenang, alami atau buatan, yang meliputi juga perairan laut dengan kedalaman tidak lebih enam meter dari batas surut terendah.

Suaka Margasatwa Pulau Rambut masuk dalam Ramsar ini. Selebihnya adalah Taman Nasional Sembilang (Sumatera Selatan), Taman Nasional Berbak (Jambi), Taman Nasional Danau Sentarum (Kalimantan Barat), Tamam Nasional Rawa Aopa Watumohai (Sulawesi Tenggara), Taman Nasional Wasur (Papua) dan Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah).

Koloni bangau bluwok di atas pohon kepuh di Pulau Rambut. Foto: Asep Ayat
Koloni bangau bluwok di atas pohon kepuh di Pulau Rambut | Foto: Asep Ayat

Penetapan Situs Ramsar ini merupakan agenda dari Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) yaitu perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah berkelanjutan. Suaka Margasatwa Pulau Rambut dipilih didasarkan pada banyaknya jenis burung migran yang datang. Sering, pulau ini disebut sebagai Pulau Surga Burung (The Heaven of Bird).

Pulau Rambut sebagai habitat berbagai jenis burung, termasuk bangau bluwok. Foto: Asep Ayat
Pulau Rambut sebagai habitat berbagai jenis burung, termasuk bangau bluwok | Foto: Asep Ayat

Sebagai Situs Ramsar, kita memiliki tanggung jawab untuk mengelola Pulau Rambut lebih baik, terlebih statusnya sudah diakui internasional. “Pulau Rambut dililih karena tempat favoritnya burung migran. Juga, sebagai kawasan konservasi. Sensus populasi, pencegahan perburuan, dan mempertahankan kelestarian lahan basah harus menjadi perhatian khusus kita di masa mendatang,” tandas Feri.

Selamat Hari Lahan Basah Sedunia 2018

Asep Ayat, Pegiat lingkungan Burung Indonesia


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu