Ayu Bulantrisna Djelantik yang saat ini berumur 70 tahun sedang mengumpulkan biografi foto mengenai karir menarinya sepanjang lebih dari setengah abad.

Saat ia mengerjakan buku biografi foto tersebut, ia mengatakan bahwa satu-satunya yang ia sesali ialah mengapa ia tidak meminta tandatangan dari Presiden Sukarno.

Besar di desa Peliatan, Ubud, Ayu merupakan salah satu penari cilik kebanggaan Presiden Sukarno.

Saat ia kecil, ia sering diundang untuk menari di Istana Tampaksiring di Bali, khususnya ketika sang Presiden sedang menjamu tamu negara seperti, Raja Thailand yang dihormati, King Bhumibol Adulyadej, perdana menteri Vietnam, Ho Chi Minh, dan kaisar Jepang, Hirohito.

"Nantinya buku tersebut akan berjudul Dance is Healing atau Menari Itu Menyembuhkan. Karena dengan menari, saya dapat melalui masa-masa susah di hidup saya," jelas Ayu.

Ayu merupakan seorang maestro tari Legong, sebuah tari Bali klasik yang baginya sangat puitis.

Ia berasal dari keluarga seniman. Kakeknya, Anak Agung Anglurah Djelantik, merupakan raja terakhir Karangasem dan mengharuskan cucu-cucunya untuk belajar menari dari usia dini.

Ayu menyadari bahwa dirinya sangat menyukai tari ketika berumur 6 tahun, bahkan di umur tersebut ia mampu menguasai gerakan tari dengan sangat cepat. Ketika berumur 7 tahun, Ayu telah menciptakan gerakan tarinya sendiri.

Ia diajari secara langsung oleh generasi pertama penari Legong, Anak Agung Mandera dan Gusti Made Sengog.

Ayu bersama Presiden pertama Indonesia | Foto: Koleksi Ayu Bulantrisna Djelantik
Ayu bersama Presiden pertama Indonesia | Foto: Koleksi Ayu Bulantrisna Djelantik

Masyarakat Peliatan melihat bahwa Ayu diberkati kemampuan luar biasa dalam menari. Kabar tersebut terdengar oleh Presiden Sukarno, yang kemudian mengundangnya untuk menunjukkan bakat yang dimilikinya.

Ayu bernostalgia pada masa itu, sang presiden memperlakukan tamunya secara adil, baik itu tamu negara ataupun penari. Setelah tampil, para penari akan dihampiri oleh Presiden Sukarno. Kemudian ia menyalami para penari satu demi satu.

Saat menemui tamu negara, Presiden Sukarno mengajak penarinya untuk bergabung dan duduk di meja yang sama.

"Kami membicarakan banyak hal. Kami benar-benar dihargai,"

"Baginya, tarian bukan hanya elemen pendukung."

Sama seperti kakek Ayu, Presiden Sukarno juga merupakan pecinta seni pertunjukkan yang menginginkan anak-anaknya unuk mempelajari tari sejak usia dini.

Ayu sangat dekat dengan anak-anak Presiden Sukarno, terutama Guruh Soekarno Putra, sebab ia pernah belajar tari secara langsung di desa tempat Ayu tinggal.

Ketika Ho Chi Minh melakukan kunjungan negara pada tahun 1959, Ayu berada di Istana Merdeka untuk menemani putri Presiden — Megawati, Sukmawati dan Rachmawati — menampilkan tarian Petani.

Ayu menyebutkan bahwa Megawati merupakan anak yang sangat baik dan cantik.

Putra-putri Presiden Sukarno sering berkunjung ke rumah Ayu karena ayah Ayu merupakan seorang dokter di Istana Tampaksiring.

Pada era kepemimpinan Presiden Sukarno, tarian merupakan bagian dari diplomasi. Hal itulah yang membuat ia sering mendelegasikan penari-penari kebanggaannya, termasuk Ayu, untuk tampil di luar negeri.

Pada awal 1960an, sayangnya, ayah Ayu tidak mengizinkan jika ia hanya akan tampil di negara komunis saja untuk melindungi Ayu dari ketegangan geopolitik antara blok timur dan barat.

"Tahun 1964, saya diundang untuk bergabung dalam sebuah tur ke Cina dan Korea Utara, tetapi ayah saya melarang saya untuk ikut. Kemudian Kementerian Pendidikan mengunjungi rumah saya dan memberitahu Ayah bahwa saya juga akan mengunjungi Jepang. Berkat itu Ayah kemudian mengizinkan saya untuk pergi," kenang Ayu.

Maestro: Ayu Bulantrisna Djelantik (third right) performs at Galeri Indonesia Kaya. (JP/A. Kurniawan Ulung)
Maestro: Ayu Bulantrisna Djelantik tampil di Galeri Indonesia Kaya | Foto: A. Kurniawan Ulung / Jakarta Post

Ayu pernah mencoba untuk berhenti menari, tapi hal tersebut tidak berhasil. Setelah lulus dari SMA, ia tidak mendapat izin dari ayahnya untuk melanjutkan studi di Jakarta. Kemudian ia melanjutkan studi kedokteran di Universitas Padjajaran di Bandung, Jawa Barat. Namun, hal tersebut tidak membuat Ayu berhenti menari. Ia diminta untuk mengadakan pelajaran tari pada fasilitas pendidikan di seluruh provinsi.

Setelah menikah di tahun 1971, ia berencana untuk mengambil break sebentar dari menari. Namun, ia harus membatalkan rencana tersebut karena ia diminta untuk mendirikan Akademi Seni Tari Indonesia di Bandung.

"Karena mereka sangat membutuhkan saya, saya tidak sampai hati untuk menolaknya," ucap Ayu.

Hal tersebut juga terjadi meski ia telah berpindah ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Ayu diminta menari beberapa kali oleh kedutaan Indonesia atau masyarakat Jerman.

Ayu Bulantrisna Djelantik menari di Istana Tampaksiring saat masih kecil | Foto: Koleksi Ayu Bulantrisna Djelantik
Ayu Bulantrisna Djelantik menari di Istana Tampaksiring saat masih kecil | Foto: Koleksi Ayu Bulantrisna Djelantik

Ayu memiliki dua sekolah tari di Jakarta, Bengkel Tari AyuBulan bagi penari professional dan LesTari AyuBulan bagi pemula.

"Saya ingin tari Legong dilindungi, dipelihara, dan dikembangkan. Tari ini adiluhung [hebat]. Di masa lalu tari ini difungsikan oleh bangsawan Bali untuk menyambut tamu," ceritanya. "Untuk dapat menguasai tari Legong dibutuhkan setidaknya 2 tahun."

Ayu juga terlibat dalam suksesnya usaha pemerintah untuk memasukkan 9 tari Bali termasuk tari Legong ke dalam warisan budaya takbenda dunia oleh UNESCO.

Pada tahun 2012 Ayu menerima rekor MURI sebagai penari Legong tertua.

Ia telah membuktikan bahwa umur hanyalah angka. Ia masih sangat enerjik dalam umurnya yang menginjak 70an.

"Rahasia awet muda adalah untuk berpikir secara positif dan senyum dalam keadaan apapun termasuk dalam kegagalan," pesan nenek dari 4 orang cucu ini.


Sumber: Diterjemahkan dari Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu