Musium Multatuli Menjadi Simbol Perlawanan Terhadap Kebodohan dan Kemiskinan

Musium Multatuli Menjadi Simbol Perlawanan Terhadap Kebodohan dan Kemiskinan
info gambar utama

"Musium adalah salah satu sumber cerita tentang feodalisme dan kolonialisme. Cerita yang tentunya berkelindan dengan etika dalam pemerintahan. Ini menjadi masalah yang kemudian diangkat Eduard Douwes Dekker. Oleh karenanya, diharapkan musium ini menjadi sumbangan sebagai pusat pendidikan, pusat pencerahan untuk mengangkat sejarah Lebak," ujar Carey seorang sejarawan dari Inggris seperti yang dilansir dari historia.id

Musium Multatuli resmi dibuka di Kota Rangkasbitung, Banten. Musium yang diresmikan oleh Bupati Lebak Iti Octavia (11/2) kemarin dihadiri oleh beberapa tokoh, yaitu: Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Hilmar Farid, Ketua Umum PKB Muhaemin Iskandar, Ibu Nira Akbar Tanjung, Kepala Museum Multatuli Hearst Amsterdam, Kepala Museum Nasional Indonesia, mantan Bupati Lebak H. Mulyadi Jayabaya, dan sejarawan nasional asal Kabupaten Lebak Bonnie Triyana.

Musium ini secara khusus diberi julukan musim anti kolonialisme oleh Bonie Triyana, karena musium ini menceritakan perlawanan terhadap penjajahan. Musium ini dibuka untuk umum yang berminat untuk melihat perjuangan Indonesia pada saat melawan para penjajah.

Yang menarik dari musium ini adalah, seluruh ruangan musium dipenuhi oleh bau harum dari kopi asli, kayu manis, dan rempah-rempah yang aromatik.

Tak hanya itu, musium ini juga menyimpan surat-surat tulisan tangan miliki Douwes Dekker, sebuah catatan yang panjang tentang sejarah perlawanan kepada kolonialisme yang dilakukan oleh masyarakat Banten.

Multatuli sendiri yang memiliki nama asli Edward Douwes Dekker seorang keturunan Belanda sangat amat kaget terhadap praktek penindasan yang dilakukan pemerintah Kolonial Hindia Belanda di daerah Lebak. Ia berpikir bahwa kesewenangan ini tidak boleh terus berjalan.

Ada 34 Artefak asli dan replica Douwes Dekker yang akan ditampilkan di Musium Multatuli, dan beberapa diantaranya didatangkan langusng dari Belanda. Novel Max Havelaar edisi I yang berbahasa Perancis, Peta Lebak edisi I, biografi Edward Douwes Dekker, hingga buku zaman Kerajaan Belanda juga akan dipamerkan di musium ini.


Sumber: historia.id, cnnindonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini