Permainan tradisional lebih dikenal pada era zaman old yakni kisaran tahun 1960-1990 maka tak heran jika kids zaman now tidak mengenal beberapa permainan tradisional. Kids zaman now yang lahir pada tahun 2000-an mayoritas anak-anak mengenal permainan yang menggunakan teknologi ketimbang permainan tradisional. Sebut saja permainan gobak sodor, bentengan, petak umpet, ular naga ataupun jenis permainan tradisional akan kalah dengan permainan berbasis teknologi bernama mobile legend, Clash of Clans, Clash Royal dan lain-lain.

Maraknya teknologi yang berkembang tersebut menjadi sebuah alasan bagi kampoeng dolanan untuk beraktivitas mengenalkan permainan tradisional kepada kids zaman now. Kampoeng dolanan dibentuk pada tanggal 13 Desember 2016 lalu, dalam perjalanannya kampoeng dolanan berhasil berinteraksi sebanyak lebih dari 15.000 orang dan menjalankan 225 program dalam setahun terakhir. Dari program-program tersebut kampoeng dolanan berhasil roadshow sebanyak 150 kali di 25 kota 4 provinsi 3 pulau (Jawa, Bali dan Sumatera).

Ketertarikan dalam melestarikan permainan tradisional pun mengundang orang asing untuk pertukaran budaya permainan tradisional antar negara. Korea selatan, Malaysia, Filipina, Jepang, Portugal Vietnam dan China telah menjajal permainan tradisional yang biasa dimainkan di Indonesia. Mereka pun merasa senang dengan permainan tradisional Indonesia. Nayla, anak kelas 6 yang berdomisili di Kampoeng Dolanan merasa senang kampoengnya dikunjungi oleh wisatawan asing dan mampu mengenalkan permainan tradisional yang sering dimainkan olehnya. "Senang sekali, bisa mengenalkan permainan tradisional kepada bule" ucap nayla yang bersekolah di SDN Simokerto V/138 Surabaya.

Tak cukup sampai disitu upaya yang dilakukan oleh kampoeng dolanan dalam melestarikan permainan tradisional dan mengenalkannya kepada masyarakat. Kampoeng Dolanan mendirikan dolip store sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk mengangkat perekonomian pedagang permainan tradisional secara konvensional. Konsepnya disini yang dibangun berupa social entrepreneurship. Selain itu juga mendirikan lembaga outbound bernama Outbound Wodowo, ada juga The Dakons Catering sebagai program pemberdayaan masyarakat.

Yang terbaru adalah membentuk bekel craft dimana unit ini mengenalkan permainan tradisional melalui cara kreatif guna menyentuh kalangan millenial. Salah satu contohnya adalah menghias yoyo kayu dengan bentuk yang unik dan kreatif. Terdapat berbagai macam bentuk yang dapat digambar di kayu berbentuk lingkaran tersebut. Seperti berbagai macam jenis buah, galaxy, bunga mawar, emoticon dan lain-lain. Cara unik seperti inilah yang membuat anak semakin suka untuk bermain permainan tradisional.

Mirah maretasari, Trainer dari bekel craft yang membuat berbagai macam gambar di yoyo mengaku bahwa anak-anak suka dengan gambar yang unik dan kreatif. "Mungkin mereka (anak-anak) tahu yoyo dan mereka akan menjadi lebih senang jika yoyo yang dipakainya terdapat gambar-gambar kesukaannya" ucap coach mirah, sapaan akrabnya. Tak hanya menghias saja, coach mirah juga mengajarkan origami maupun daur ulang hingga baik di Surabaya ataupun luar kota.

Permainan tradisional pada dasarnya bentuknya sama seperti itu-itu saja, namun di permainan tradisional tersebut dapat mengasah kreativitas anak dalam hal apapun. Membuat peraturan sendiri yang disepakati bersama, melatih daya imajinasi dalam menggambar ataupun manfaat yang lain. Berada di era millenial bukan berarti susah untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Justru ketertarikan anak-anak terhadap permainan tradisional bisa dibilang tinggi karena sesuatu yang baru bagi anak-anak. (sam)


Sumber: Bekel Craft / Kampoeng Dolanan

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu