Hebat! Bekraf Fasilitasi Para Penyandang Disabilitas Untuk Jadi Programer

Hebat! Bekraf Fasilitasi Para Penyandang Disabilitas Untuk Jadi Programer
info gambar utama

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah melakukan kolaborasi dengan PT. Kolaborasi Ide Kreatif untuk mengadakan serta memberikan fasilitas program pendidikan dan pelatihan untuk para penyandang disabilitas pada tahun 2018 ini. Adapun program pendidikan tersebut adalah untuk mencetak para programer. Profesi programer diharapkan dapat menjadi alternatif profesi bagi para penyandang disabilitas.

Program pendidikan dan pelatihan ini diberi nama “Coding Mum Disabilitas” sebagai pengembangan dari Coding Mum yang telah terlebih dahulu dilaksanakan pada tahun 2016-2017 silam dengan sasaran ibu rumah tangga dan buruh migran Indonesia di luar negeri.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rencana besar untuk mencapai sasaran strategis Bekraf dalam menyerap tenaga kerja dan sektor industri ekonomi kreatif, yang meliputi berbagai bidang, yaitu: aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan vidio, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi, dan radio. Bekraf juga menargetkan untuk memiliki tenaga kerja dari sektor ekonomi industri kreatif hingga mencapai 17 juta jiwa pada tahun 2019 mendatang.

“Coding Mum Disabilitas diharapkan dapat lebih memberdayakan saudara-saudara kita yang karena suatu dan hal lain mempunyai kemampuan yang berbeda. Program ini juga sekaligus untuk menjawab tantangan alert coder atau kekurangan tenaga programer di Indonesia,” jelas Triawan.

Karena pergerakan ekonomi kreatif sudah mengarah ke arah digitalisasi maka kekurangan tenaga programer akan semakin dirasakan nantinya. Dibutuhkan setidaknya 100 ribu orang programer handal untuk dapat membangun 1000 start-up yang berkualitas. Artinya, satu start-up akan membutuhkan ratusan programer untuk mendukung kestabilannya.

Triawan menjelaskan bahwa para penyandang disabilitas dirasa cocok untuk diberikan pelatihan sebagai seorang programer, karena pekerjaan ini tidak membutuhkan mobilitas fisik yang tinggi. Pemrogram justru membutuhkan ketekunan untuk para praktisinya berkonsentrasi penuh.

Coding Mum Disabilitas ini akan dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia, yaitu: Jakarta, Bandung, Semarang, Depok, Manado, Jayapura, Sorong, Pontianak, Samarinda, Kendari, Bandar Lampung, Palembang, Tanjung Pinang, dan Surabaya. Kelas perdana akan berlangsung pada tanggal 24 Januari - 3 Maret 2018 bertempat di Kolla Co-Working Space Sabang, Jakarta.

Materi pelatihan Coding Mum Disabilitas akan dibawakan oleh beberapa pengajar dari Clevio, Dilo Mikri, dan ProCode CG. Pelatihan ini nantinya akan diberikan dalam bentuk coaching, agar ilmu yang diberi akan lebih mudah ditangkap oleh para peserta. Nantinya para peserta akan diberikan pengetahuan dan latihan dalam mendesain dan teknik produksi yang menggunakan HTML dan Javascript.

Para peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi seorang Web Developer, seorang pengembang web yang bekerja untuk sebuah perusahaan atau bahkan mendirikan perusahaan internet sendiri, dan seorang internet marketer.

Di luar negeri dengan bekerja sama lebih lanjut dengan PT. Bank Mandiri (PERSERO) Tbk, Coding Mum dilaksanakan untuk para buruh migran Indonesia, masing-masing di Singapura sebanyak tiga batch, Hongkong dua batch. Coding Mum ditunjukan untuk para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) wanita, agar ketika mereka pulang ke Indonesia mereka bisa melakukan bisnis online dan membuat halaman webnya sendiri. Selain di Singapura dan Hongkong, program Coding Mum akan juga dilaksanakan di Malaysia, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini